Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi (IDN Times/Mela Hapsari)
Sesuai arahan yang disampaikan oleh Kementerian BUMN, menurut Rizal, alat PCR akan ditempatkan di Rumah Sakit Pertamina Balikpapan (RSPB).
Namun ternyata muncul masalah lain. Setelah melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan, pengoperasian alat PCR tersebut ternyata memakan banyak biaya. Untuk mengoperasikan satu buah alat PCR dibutuhkan dana mencapai Rp1 miliar.
Biaya itu meliputi anggaran untuk pembangunan ruang laboratorium untuk penempatan alat tersebut, perawatan, hingga pengoperasian alat tersebut.
“Dari hasil koordinasi dengan Dinkes tadi, yang agak berat itu biaya operasional dan tempat yang disediakan, dihitung butuh dana mencapai Rp1 miliar,” ujarnya.
Untuk menindaklanjutinya, Rizal mengatakan, hal ini akan disampaikan ke Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk memberikan bantuan guna pengoperasian alat tersebut.
Namun apabila ternyata tidak ada bantuan dari pemerintah provinsi, pihaknya terpaksa akan mengenakan biaya pemeriksaan kepada pasien yang diduga terpapar virus corona, guna mengurangi beban biaya yang harus ditanggung oleh RSPB.
“Kita akan usulkan minta dukungan dari provinsi atau kalau tidak pemeriksaannya nanti berbayar, sehingga dapat meringankan beban rumah sakit Pertamina,” terangnya.