Belajar dari Nol, Sarah Sukses Bangun Usaha Bibit Organik demi Amal Jariah

Pontianak, IDN Times - Sebuah usaha bibit sayur dan buah organik bernama Kebun AlaAla mulai berkembang di Pontianak Selatan. Usaha ini dirintis oleh Sarah sejak akhir tahun 2025, berangkat dari niat pribadi untuk menghadirkan sedekah jariah bagi almarhum suaminya.
Sarah, pemilik Kebun AlaAla, mengungkapkan bahwa awal mula dirinya terjun ke dunia pertanian bukan karena latar belakang pendidikan atau pengalaman, melainkan dorongan niat pribadi.
“Awalnya saya ingin membuat sedekah jariah untuk suami saya yang meninggal tahun 2024. Jadi saya berpikir membuat usaha, yang sebagian hasilnya nanti bisa disedekahkan atas nama beliau,” ujar Sarah, Sabtu (2/5/2026).
1. Pelajari soal penanaman secara otodidak

Berbekal niat tersebut, Sarah mulai mempelajari cara menanam secara mandiri. Ia mengaku tidak memiliki dasar di bidang pertanian dan harus belajar dari nol.
“Saya bukan dari bidang pertanian, sebelumnya dari bahasa Inggris. Jadi benar-benar belajar sendiri dari internet, media sosial,” jelasnya.
Proses belajar tersebut berlangsung sekitar dua bulan. Setelah merasa cukup memahami dasar-dasar, Sarah mulai menanam pada Desember 2025.
Ia memilih berkebun karena dinilai lebih fleksibel dalam pengelolaan waktu dibandingkan usaha lain.
“Menurut saya berkebun lebih santai, tidak terlalu terikat waktu. Kalau bibit sudah siap, baru dijual,” katanya.
2. Ada puluhan jenis bibit sayur organik

Saat ini, Kebun AlaAla menyediakan berbagai jenis bibit sayur dan buah. Di antaranya cabai rawit, tomat dengan berbagai varietas, terong, kale, bayam merah, serta okra hijau dan okra merah yang tergolong masih jarang ditemui.
Dari sejumlah jenis tersebut, bibit cabai rawit, tomat, dan terong menjadi yang paling banyak diminati pembeli.
Untuk harga, Sarah menjual bibit mulai dari Rp2.000 hingga Rp50.000, tergantung jenis tanaman.
Dalam satu bulan, ia mampu mencatat omzet sekitar Rp3 juta dengan penjualan rata-rata ratusan bibit. Sejak mulai beroperasi, total bibit yang telah terjual diperkirakan mencapai lebih dari seribu tanaman.
Pemasaran dilakukan secara mandiri melalui media sosial seperti Facebook, Instagram, TikTok, dan Threads. Konsumen yang datang pun beragam, mulai dari masyarakat umum hingga kalangan aparat.
3. Faktor cuaca jadi kendala penanaman bibit

Meski menunjukkan perkembangan, Sarah mengaku masih menghadapi sejumlah kendala, terutama faktor cuaca.
“Kalau hujan deras, air bisa kena langsung ke bibit dan merusak tanaman. Kalau panas terlalu terik juga bisa bikin daun kering bahkan mati,” ungkapnya.
Selain itu, beberapa jenis tanaman seperti cabai rawit juga rentan terhadap hama, sehingga membutuhkan perawatan lebih.
Ke depan, Sarah berencana mengembangkan usahanya, termasuk menjual hasil panen sayur dan buah jika lahan yang dimiliki sudah memadai.
4. Sebagian penjualan bakal disedekahkan atas nama mendiang suami

Sesuai dengan niat awal, ia berharap usaha ini tidak hanya berkembang secara ekonomi, tetapi juga bisa memberikan manfaat bagi orang lain.
Dari niat awal, Sarah ingin memupuk pahala jariyah untuk mendiang suaminya. Sebagian hasil dari penjualan bibit tersebut bakal disedekahkan ke panti asuhan atau masjid-masjid yang membutuhkan.
“Harapannya usaha ini bisa terus berkembang, jadi sebagian hasilnya bisa disedekahkan,” tukasnya.


















