Pidato Keras OSO: Dewan Dipantau Rakyat, yang Pasif Jadi Bahan Ejekan

Pontianak, IDN Times - Ketua Umum (Ketum) Partai Hanura, Oesman Sapta Odang (OSO) pidato keras saat membuka Bimbingan Teknis Nasional (Bimteknas) partai Hanura yang digelar di Pontianak, pada Jumat (1/5/2026) malam.
Pada kesempatan tersebut, Oso berpidato keras menyinggung 525 legislator Hanura. Di hadapan ratusan anggota DPRD Fraksi Hanura, Oso melontarkan pesan keras, menurutnya, wakil rakyat harus berani, atau siap menjadi bahan ejekan publik.
Pembukaan Bimbingan Teknis Nasional (Bimteknas) itu ditandai simbolis dengan pemukulan gong oleh Yusril Ihza Mahendra. Namun, yang lebih menggema justru isi pidato Oso tegas, tanpa basa-basi.
1. Singgung anggota DPT yang pasif

Di depan 525 legislator, Oso menyoroti fenomena yang menurutnya masih marak yakni anggota dewan yang pasif, minim gagasan, dan gagal menyuarakan aspirasi rakyat.
“Banyak yang jadi anggota DPR, tapi tidak berkontribusi. Bahkan tidak mampu mengeluarkan inspirasi dari hati nuraninya,” kritiknya tajam.
Oso menegaskan, kekuatan politik bukan soal jumlah kursi, melainkan kualitas individu. Ia mendorong kadernya untuk berani menegakkan keadilan, jujur, dan aktif mengoreksi jalannya pemerintahan daerah.
Baginya, setiap anggota DPRD adalah ujung tombak di daerah pemilihan (dapil). Tidak ada pihak lain yang akan membela kepentingan daerah jika bukan mereka sendiri.
“Hanya saudara yang bisa membela daerah saudara,” tegasnya.
2. Legislator tiap hari dipantau publik, jangan jadi bahan ejekan

Dalam nada yang semakin keras, Oso mengingatkan agar jabatan tidak dijadikan alat menikmati fasilitas semata. Ia menuntut dampak nyata ekonomi bergerak, lapangan kerja terbuka, dan kesejahteraan meningkat.
“Bukan saudara menikmati kehidupan sebagai anggota DPRD, sementara masyarakat tidak merasakan manfaatnya,” sebutnya.
Lebih jauh, Oso mengaitkan kinerja individu dengan reputasi partai. Dia tak ingin Partai Hanura dipandang sebelah mata hanya karena kadernya tidak maksimal.
Ancaman yang dia sampaikan pun gamblang, tanpa keberanian dan kerja nyata, wakil rakyat bisa kehilangan kehormatan di mata publik.
“Kalau tidak, saudara akan menjadi ejekan. DPR apa itu? Apalagi Hanura,” ujarnya.
3. Harus hadir saat rakyat membutuhkan

Oso juga menyinggung situasi global yang tidak menentu, yang berdampak langsung pada kondisi masyarakat. Dalam situasi sulit ini, dia menilai kehadiran wakil rakyat harus terasa bukan sekadar formalitas.
“Rakyat kita sedang mengalami kesulitan. Hanya dengan keberanian bertindak, saudara akan berarti,” katanya.
Menutup pidatonya, Oso mengingatkan satu hal yang tak bisa dihindari, yakni pengawasan publik. Setiap langkah anggota dewan, menurutnya, selalu berada dalam sorotan konstituen.
“Setiap hari saudara diperhatikan oleh rakyat yang memilih saudara,” tukasnya.
Acara ini turut dihadiri Gubernur Kalbar Ria Norsan, para kepala daerah se-Kalbar, serta sejumlah tokoh seperti Rocky Gerung dan Yunarto Wijaya yang dijadwalkan menjadi pemateri.


















