Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Jangan Diabaikan, Kebiasaan Ini Diam-Diam Merusak Kepercayaan Diri

Jangan Diabaikan, Kebiasaan Ini Diam-Diam Merusak Kepercayaan Diri
ilustrasi laki-laki minder (pexels.com/Inzmam Khan)
Share Article

Rasa percaya diri memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Namun tanpa disadari, sejumlah kebiasaan yang tampak sepele justru dapat mengikis harga diri dan membuat seseorang semakin meragukan kemampuannya sendiri.

Jika dibiarkan, kebiasaan-kebiasaan tersebut dapat menghambat perkembangan diri, memengaruhi kesehatan mental, hingga mengurangi kualitas hubungan sosial. Berikut delapan kebiasaan yang perlu diwaspadai karena berpotensi merusak kepercayaan diri.

1. Terjebak dalam pusaran pikiran negatif

ilustrasi berbicara negatif pada diri sendiri (pexels.com/MART PRODUCTION)
ilustrasi berbicara negatif pada diri sendiri (pexels.com/MART PRODUCTION)

Kebiasaan terus-menerus menyalahkan atau meremehkan diri sendiri dapat melemahkan rasa percaya diri. Pola pikir negatif membuat seseorang lebih fokus pada kekurangan dibandingkan kelebihan yang dimiliki.

Untuk mengatasinya, cobalah mengganti kritik berlebihan dengan afirmasi positif dan mulai menghargai setiap pencapaian, sekecil apa pun.

2. Terus-menerus memeriksa dan membandingkan hidup kamu dengan orang lain di media sosial

ilustrasi reminder di ponsel (freepik.com/freepik)
ilustrasi reminder di ponsel (freepik.com/freepik)

Media sosial kerap menampilkan sisi terbaik kehidupan seseorang. Sayangnya, banyak orang menjadikan unggahan tersebut sebagai tolok ukur kehidupan mereka sendiri.

Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain dapat memicu rasa tidak puas dan rendah diri. Sebaliknya, fokuslah pada perkembangan pribadi dan perjalanan hidup masing-masing.

3. Menyamakan kehidupan dengan kisah fiksi

ilustrasi membaca buku fiksi (pexels.com/Yaroslav Shuraev)
ilustrasi membaca buku fiksi (pexels.com/Yaroslav Shuraev)

Film, novel, atau drama sering menghadirkan cerita yang ideal dan penuh romantisasi. Ketika dijadikan standar kehidupan nyata, hal ini dapat memunculkan ekspektasi yang sulit diwujudkan.

Memahami bahwa kehidupan nyata tidak selalu berjalan sempurna dapat membantu seseorang lebih menghargai proses dan pencapaian yang dimiliki.

4. Membuat drama

ilustrasi emosi (freepik.com/jcomp)
ilustrasi emosi (freepik.com/jcomp)

Terlalu larut dalam drama atau memperbesar persoalan kecil dapat menguras energi emosional. Selain berdampak pada kesehatan mental, kebiasaan ini juga dapat memengaruhi hubungan dengan orang lain.

Fokus pada solusi dan penyelesaian masalah akan membantu menjaga stabilitas emosi serta meningkatkan rasa percaya diri.

5. Terpaku pada kenangan pahit

ilustrasi terus mengingat peristiwa masa lalu (pexels.com/Bruno Maceiras)
ilustrasi terus mengingat peristiwa masa lalu (pexels.com/Bruno Maceiras)

Mengingat kesalahan atau pengalaman buruk secara berulang hanya akan membuat seseorang sulit berkembang. Masa lalu memang tidak dapat diubah, tetapi pelajaran yang diperoleh darinya bisa menjadi bekal untuk melangkah maju.

Menerima masa lalu dan fokus pada pertumbuhan diri merupakan langkah penting untuk membangun harga diri yang sehat.

6. Khawatir berlebihan tentang masa depan

ilustrasi merasa cemas (unsplash.com/Carolina)
ilustrasi merasa cemas (unsplash.com/Carolina)

Merencanakan masa depan adalah hal yang baik, tetapi kekhawatiran berlebihan justru dapat menimbulkan kecemasan dan membuat seseorang merasa tidak mampu menghadapi tantangan.

Menyusun rencana yang realistis dan tetap terbuka terhadap perubahan dapat membantu menjalani hidup dengan lebih tenang dan optimistis.

7. Terjebak dalam kesibukan yang tidak produktif

ilustrasi mengecek jadwal sehari-hari (pexels.com/Thirdman)
ilustrasi mengecek jadwal sehari-hari (pexels.com/Thirdman)

Kesibukan tidak selalu berarti produktif. Menghabiskan banyak waktu untuk aktivitas yang tidak memberikan manfaat nyata dapat menimbulkan rasa frustrasi dan ketidakpuasan terhadap diri sendiri.

Karena itu, penting untuk mengevaluasi kegiatan sehari-hari dan memprioritaskan aktivitas yang mendukung tujuan serta pengembangan diri.

8. Meminta maaf secara berlebihan

ilustrasi meminta maaf (pexels.com/Liza Summer)
ilustrasi meminta maaf (pexels.com/Liza Summer)

Meminta maaf merupakan sikap yang baik ketika memang diperlukan. Namun, jika dilakukan secara berlebihan, hal itu bisa menjadi tanda kurangnya kepercayaan diri dan kecenderungan menyalahkan diri sendiri.

Belajarlah membedakan situasi yang memang membutuhkan permintaan maaf dan situasi yang tidak. Dengan begitu, Anda dapat membangun rasa hormat terhadap diri sendiri.

Mengenali kebiasaan yang dapat merusak harga diri merupakan langkah awal untuk membangun kepercayaan diri yang lebih kuat. Dengan mengganti pola pikir dan kebiasaan negatif menjadi lebih positif, seseorang dapat menjalani hidup dengan lebih sehat, optimistis, dan mampu mengembangkan potensi dirinya secara maksimal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sri Gunawan Wibisono
EditorSri Gunawan Wibisono

Latest News Kalimantan Timur

See More

5 Fakta Unik Tarantula, Punya Racun tapi Tak Mematikan bagi Manusia

14 Jun 2026, 17:00 WIBNews