HMI dan PMII Kepung Kantor PLN Barabai, Tuntut Listrik Kembali Normal

- Puluhan mahasiswa HMI dan PMII HST menggelar aksi damai di PLN UP3 Barabai, menuntut pemadaman bergilir dihentikan paling lambat 7 Agustus 2026.
- Massa meminta PLN bertanggung jawab dan memberi kompensasi atas kerugian warga, transparan soal gangguan, membenahi sistem, serta membuka perkembangan penanganan kepada publik.
- PLN menyebut pasokan terganggu akibat tiga unit pembangkit bermasalah; satu unit telah beroperasi, memangkas pemadaman menjadi tiga hingga empat jam, dengan target normal awal Agustus.
Barabai, IDN Times - Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan, mendesak PT PLN (Persero) segera menghentikan pemadaman listrik bergilir paling lambat 7 Agustus 2026.
Desakan tersebut disampaikan dalam aksi damai di Kantor PLN UP3 Barabai, Sabtu (1/8/2026). Massa aksi berjalan kaki dari Tugu Daun Mandingin menuju kantor PLN sambil membawa petisi dan menyampaikan lima tuntutan kepada perusahaan listrik negara tersebut.
"Kami mendesak PLN segera mengakhiri pemadaman listrik bergilir karena telah banyak merugikan masyarakat," kata Ketua Umum HMI Cabang Barabai, Amril seperti diberitakan Antara.
1. Persoalan listrik disampaikan kepada PLN

Amril menjelaskan, aksi tersebut merupakan tindak lanjut dari audiensi yang sebelumnya dilakukan dengan pihak PLN. Menurutnya, mahasiswa ingin memastikan persoalan pemadaman listrik mendapat penanganan serius dan solusi yang jelas.
Dalam tuntutannya, mahasiswa meminta PLN bertanggung jawab atas pemadaman yang terus terjadi, termasuk memberikan kompensasi kepada masyarakat yang terdampak. Mereka juga mendesak PLN bersikap transparan terkait penyebab gangguan, langkah penanganan, serta target penyelesaian masalah.
Selain itu, mahasiswa meminta PLN segera membenahi sistem kelistrikan agar pemadaman bergilir tidak kembali terjadi. Mereka juga menuntut seluruh perkembangan penanganan diumumkan secara terbuka melalui papan pengumuman, media sosial, maupun kanal informasi resmi PLN.
2. PLN diminta ikut bertanggung jawab atas pemadaman listrik

Mahasiswa turut meminta PLN bertanggung jawab atas kerugian yang dialami masyarakat, baik kerugian material maupun immaterial, akibat pemadaman listrik yang berkepanjangan.
Menanggapi tuntutan tersebut, Manager PT PLN (Persero) UP3 Barabai, Izbet Alighorky, mengapresiasi aksi mahasiswa yang berlangsung tertib dan kondusif. Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan akibat pemadaman bergilir.
Izbet menjelaskan, pengaturan beban listrik masih dilakukan karena pasokan daya pada sistem interkoneksi Kalimantan Selatan-Kalimantan Tengah belum mampu memenuhi kebutuhan. Kondisi itu dipicu gangguan yang terjadi pada tiga unit pembangkit listrik.
3. Proses pemadaman terus berlangsung

Meski demikian, proses pemulihan terus berlangsung. Satu dari tiga unit pembangkit yang sebelumnya mengalami gangguan telah kembali beroperasi sehingga durasi pemadaman mulai berkurang dari sebelumnya lima hingga enam jam menjadi sekitar tiga hingga empat jam.
"Tuntutan dari rekan-rekan mahasiswa sudah kami terima. Kami akan mempelajarinya dan berupaya memenuhi seluruhnya. Harapan kami sama, pada minggu pertama Agustus kondisi sistem kelistrikan kembali normal sehingga tidak ada lagi pemadaman bergilir," ujar Izbet.





















