Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kabut Asap Makin Pekat, Bandara di Sampit Masih Lumpuh Total
Ilustrasi pekerja menyapu lantai Bandara Tjilik Riwut di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (14/10/2026). ANTARA FOTO/Auliya Rahman/wsj.
  • Kabut asap karhutla menghentikan seluruh penerbangan di Bandara Haji Asan Sampit sejak 1 Oktober 2026 karena jarak pandang turun hingga di bawah 100 meter.

  • Penutupan dilakukan setelah koordinasi otoritas bandara, sebab jarak pandang di bawah 1.000 meter belum memenuhi standar keselamatan minimum 2.000 meter.

  • Gangguan penerbangan memaksa penumpang menuju bandara alternatif di Banjarmasin lewat perjalanan darat 8–9 jam; NAM Air membatalkan rute Sampit hingga 15 Oktober 2026.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palangka Raya, IDN Times - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat penerbangan di Bandara Haji Asan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, terhenti sejak 1 Oktober 2026 hingga waktu yang belum ditentukan.

Jarak pandang yang terus menurun menjadi alasan utama penghentian penerbangan demi keselamatan.

Kepala Dinas Perhubungan Kotim, Raihansyah, mengatakan jarak pandang berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hanya berkisar 500–800 meter pada pagi hari. Kondisi memburuk pada siang hari hingga sekitar 300 meter, bahkan kurang dari 100 meter pada sore hari.

“Berdasarkan data BMKG, jarak pandang pada pagi hari hanya sekitar 500 hingga 800 meter. Memasuki siang hari, jarak pandang terus menurun hingga 300 meter, bahkan pada sore hari bisa di bawah 100 meter,” kata Raihansyah dilaporkan Antara di Sampit, Selasa (13/10/2026).

1. Penutupan penerbangan dengan koordinasi otoritas bandara

Pengendara motor melintas di Jembatan Kahayan yang diselimuti asap di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu (11/10/2026). ANTARA FOTO/Auliya Rahman/bar

Menurutnya, penutupan sementara dilakukan setelah koordinasi dengan otoritas bandara. Dalam beberapa pekan terakhir, jarak pandang di kawasan bandara berada di bawah 1.000 meter, sedangkan standar minimum keselamatan penerbangan yang disebutkan mencapai 2.000 meter.

Meski penerbangan dihentikan, operasional bandara tetap berjalan. Penerbangan baru dapat dilanjutkan setelah kondisi cuaca dan jarak pandang memenuhi persyaratan keselamatan.

Raihansyah menyebut, meskipun kebakaran di kawasan perkotaan dan sekitarnya mulai berkurang, kabut asap masih menyelimuti Sampit. Asap dari kebakaran di wilayah lain diduga terbawa angin hingga mengganggu jarak pandang di sekitar bandara.

Gangguan serupa juga terjadi di Bandara Iskandar Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat.

2. Perjalanan penerbangan menjadi terganggu

Ilustrasi kabut asap menyelimuti kawasan Bandara Tjilik Riwut di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (14/10/2026). ANTARA FOTO/Auliya Rahman/wsj

Terhentinya penerbangan berdampak pada mobilitas masyarakat, terutama pelaku usaha dan investor yang mengandalkan transportasi udara untuk perjalanan bisnis.

Raihansyah mengatakan, masyarakat yang hendak bepergian menggunakan pesawat kini harus menempuh perjalanan darat ke bandara alternatif, salah satunya Bandara Syamsudin Noor di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Perjalanan tersebut memakan waktu sekitar delapan hingga sembilan jam.

“Kalau dari sisi ekonomi, yang paling terdampak adalah orang-orang yang biasanya melakukan perjalanan bisnis dalam waktu cepat. Sekarang mereka harus menempuh perjalanan darat sekitar delapan sampai sembilan jam ke Banjarmasin,” ujarnya.

Ia berharap gangguan penerbangan tidak berlangsung lama karena berpotensi menghambat aktivitas ekonomi dan hubungan bisnis di Kotim. Pemerintah daerah terus memantau kondisi cuaca agar penerbangan bisa kembali beroperasi.

Raihansyah juga khawatir penghentian penerbangan berkepanjangan membuat maskapai enggan melanjutkan layanan di Sampit.

“Yang kita takutkan nanti mereka kelamaan tidak beroperasi, akhirnya kita harus melobi kembali untuk melakukan penerbangan di Kotawaringin Timur,” katanya.

3. Pembatalan penerbangan hingga 15 Oktober

Ilustrasi tiga ekor pesawat Nam Air, Citilink dan Lion Air berderet di apron Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)

District Manager NAM Air Sampit, Harli Rahman, sebelumnya menyatakan pembatalan penerbangan dari dan menuju Bandara Haji Asan Sampit berlaku hingga 15 Oktober 2026 akibat kabut asap.

Penerbangan terakhir NAM Air yang berhasil beroperasi dari Sampit berlangsung pada 22 September 2026 dengan rute Semarang. Setelah itu, jarak pandang di bandara setiap hari tidak memenuhi persyaratan minimum penerbangan.

“Penerbangan kita kemarin itu terakhir kita bisa terbang tanggal 22 September. Setelah itu kondisi di bandara Sampit ini setiap harinya jarak pandang tidak mencapai jarak pandang minimum,” kata Harli.

Ia menjelaskan, pembatalan jadwal lebih awal dilakukan agar calon penumpang mendapat kepastian dan tidak telanjur datang ke bandara ketika penerbangan tidak dapat dilaksanakan.

NAM Air terus memantau perkembangan cuaca melalui koordinasi dan informasi BMKG. Harli mengimbau calon penumpang untuk memastikan status penerbangan kepada petugas maskapai sebelum berangkat ke bandara.

Ia berharap kondisi cuaca segera membaik sehingga penerbangan kembali normal dan mobilitas masyarakat tidak terus terganggu.

Curated For You

Editorial Team

Related Article