Krisis Air Bersih Pontianak Memuncak, Warga Antre dan Harga Naik

- Krisis air bersih saat musim kemarau di Pontianak meningkatkan permintaan galon; Depot Blue Alianyang mencatat penjualan naik dari sekitar 200 menjadi 300 galon per hari.
- Pasokan depot makin tidak menentu dan cepat habis; 8.000 liter kini dapat ludes sehari, sementara air baru memerlukan pengolahan sekitar 12 jam sehingga warga harus mengantre.
- Depot Homequa membatasi pembelian maksimal tiga galon per orang dan menaikkan harga dari Rp7 ribu menjadi Rp8-10 ribu per galon akibat stok terbatas dan kebutuhan meningkat.
Pontianak, IDN Times - Krisis air bersih mulai dirasakan warga Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) di tengah musim kemarau. Tingginya kebutuhan warga membuat stok air di sejumlah depot isi ulang cepat habis, bahkan pasokan 8.000 liter yang biasanya cukup hingga malam kini dapat ludes hanya dalam sehari.
Kondisi tersebut salah satunya terjadi di Depot Air Minum Blue Alianyang. Karyawan depot, Dafa, mengatakan permintaan air galon meningkat sejak sekitar satu pekan terakhir.
Dalam kondisi normal, depot tersebut menjual sekitar 200 galon per hari. Kini penjualannya meningkat hingga sekitar 300 galon per hari.
“Dalam beberapa hari terakhir, permintaan air galon untuk kebutuhan warga memang meningkat. Mungkin karena saat ini sedang musim kemarau,” kata Dafa, Senin (31/8/2026).
1. Datangkan 8.000 hingga 12.000 liter

Krisis air bersih di Pontianak terjadi. (IDN Times/Teri). Depot biasanya mendatangkan sekitar 8.000 liter air. Jika kebutuhan meningkat, jumlah pesanan dapat ditambah hingga 12.000 liter. Namun, pasokan tersebut tidak selalu tersedia.
Bahkan, dalam beberapa hari terakhir, 8.000 liter air yang datang bisa habis dalam waktu satu hari.
“Belakangan ini, pasokan sekitar 8.000 liter bisa habis dalam waktu satu hari. Sebelumnya, jumlah tersebut bisa bertahan seharian hingga malam,” ujarnya.
Persediaan yang terbatas membuat warga harus menunggu ketika stok habis. Air yang baru tiba juga tidak bisa langsung dijual karena harus melalui proses pengolahan selama sekitar 12 jam.
“Mau tidak mau, kondisi tersebut membuat warga harus mengantre. Kalau stoknya habis, kami juga tidak bisa berbuat banyak karena memang persediaannya terbatas,” kata Dafa.
2. Pembelian dibatasi

Kemarau buat krisis air bersih di Pontianak. (IDN Times/Teri). Kondisi serupa terjadi di Depot Air Galon Isi Ulang Homequa, Jalan Cendana, Gang Cendana 5, Pontianak.
Karyawan depot, Aldi, mengatakan pasokan air dalam beberapa hari terakhir tidak menentu. Kedatangan air juga membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan biasanya.
“Beberapa hari ini kondisi pasokan memang tidak menentu. Hari ini ada, besok ada, tetapi hari berikutnya bisa tidak ada. Kedatangannya juga sekarang cukup lama,” kata Aldi.
Terbatasnya pasokan membuat Depot Homequa mulai membatasi pembelian. Setiap warga maksimal membeli tiga galon. Pembatasan dilakukan agar stok yang tersedia dapat dibagi kepada lebih banyak warga.
“Dulu pembelian air tidak kami batasi. Namun, setelah kondisi seperti ini, kami membatasi pembelian. Satu orang maksimal tiga galon agar lebih banyak warga yang bisa mendapatkan air,” ujarnya.
3. Harga air bersih per galon mulai naik

Warga berburu mencari air bersih di Pontianak. (IDN Times/Teri). Menurut Aldi, tingginya kebutuhan air tidak hanya untuk minum. Warga juga membeli air untuk memasak, mandi, hingga kebutuhan sehari-hari lainnya.
Di tengah meningkatnya permintaan dan terbatasnya pasokan, harga air di Depot Homequa juga naik.
Sebelumnya, satu galon dijual sekitar Rp7 ribu. Kini harganya berkisar Rp8 ribu hingga Rp10 ribu per galon. Sementara biaya pengantaran disesuaikan dengan jarak tujuan.
Berbeda dengan Homequa, Depot Blue Alianyang belum membatasi jumlah pembelian. Warga masih dapat membeli hingga lima, tujuh, bahkan 10 galon sesuai kebutuhan.
Harga di depot tersebut juga masih bertahan Rp10 ribu per galon sejak 20 April. Kondisi di sejumlah depot ini menjadi gambaran meningkatnya kebutuhan air bersih warga Pontianak selama musim kemarau.
Stok yang semakin cepat habis membuat warga harus mengantre dan, di sejumlah depot, pembelian mulai dibatasi agar kebutuhan air dapat dibagi lebih merata.






![[QUIZ] Masih Sering Membandingkan Diri? Kuis Ini Ungkap Dampaknya!](https://image.idntimes.com/post/20251019/pexels-mecriboom-ph-722715507-18786886_67fa31c3-e387-4069-b487-13eedfe6033b.jpg)










![[QUIZ] Kalau Lagi Sendiri, Apa yang Ada di Pikiranmu? Cek Lewat Kuis Ini!](https://image.idntimes.com/post/20260819/pexels-cottonbro-6951522_161f5172-8822-4531-8cdf-15de66f32f5f.jpg)


