Ringgit Tembus Rp4.500, Money Changer di Kalbar Diserbu Turis Malaysia

Pontianak, IDN Times - Menguatnya nilai tukar ringgit Malaysia terhadap rupiah mendorong meningkatnya kunjungan wisatawan asal Malaysia ke Kalimantan Barat, khususnya Kota Pontianak. Kondisi ini turut berdampak pada meningkatnya aktivitas penukaran mata uang asing di sejumlah money changer.
Seorang staf money changer di Pontianak, Yoga, mengatakan dalam beberapa waktu terakhir semakin banyak warga negara asing, terutama dari Malaysia, yang menukarkan ringgit ke rupiah untuk kebutuhan wisata dan belanja selama berada di Indonesia.
“Kalau orang Malaysia atau orang asing memang banyak yang tukar uang di sini. Mereka melihat nilai rupiah murah, jadi satu ringgit sekarang bisa dapat sekitar Rp4.500. Itu yang membuat mereka lebih tertarik datang ke sini untuk belanja dan jalan-jalan,” ujarnya, Kamis (4/6/2026).
1. Nilai tukar rupiah murah jadi sorotan turis Malaysia

Menurut Yoga, tren penguatan ringgit sebenarnya sudah terjadi sejak tahun lalu dan terus meningkat hingga saat ini. Kondisi tersebut membuat wisatawan Malaysia memiliki daya beli yang lebih tinggi ketika berkunjung ke Indonesia.
Ia menjelaskan, sebagian besar wisatawan Malaysia menukarkan uang sesuai kebutuhan selama berlibur. Nominal yang ditukarkan umumnya berkisar 300 hingga 1.000 ringgit.
“Sekarang mereka hanya perlu menukar sedikit saja untuk kebutuhan makan atau belanja beberapa hari di Indonesia karena nilai tukarnya tinggi. Biasanya 300 sampai 400 ringgit sudah cukup,” katanya.
Di sisi lain, warga Indonesia justru cenderung berpikir dua kali untuk bepergian ke Malaysia karena biaya yang semakin mahal akibat melemahnya rupiah.
“Kalau masyarakat kita yang mau ke Malaysia sekarang lebih mikir karena biaya di sana jadi lebih mahal. Nilai tukarnya sudah naik jauh dibanding beberapa waktu lalu,” tambahnya.
2. Kunjungan wisatawan mancanegara berdampak pada UMKM

Sementara itu, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kalimantan Barat, Sugeng Hariadi, mengaku bersyukur melihat meningkatnya jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Kalbar dalam beberapa pekan terakhir.
Menurutnya, banyak kendaraan berpelat Malaysia, khususnya dari Kuching, terlihat memasuki wilayah Kalbar. Selain itu, wisatawan dari Sarawak dan Brunei juga tercatat semakin sering berkunjung.
“Beberapa minggu terakhir memang banyak terlihat kendaraan dari Kuching, Sarawak, Malaysia. Ada juga wisatawan dari Brunei. Ini tentu memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif,” kata Sugeng.
Ia menilai meningkatnya kunjungan wisatawan asing akan berdampak langsung terhadap tingkat hunian hotel, usaha kuliner, pusat oleh-oleh, hingga pelaku UMKM di Kalbar.
3. Imbau pelaku usaha beri pelayanan terbaik

Sugeng menyebut salah satu faktor utama yang mendorong lonjakan kunjungan tersebut adalah tingginya nilai tukar ringgit terhadap rupiah yang saat ini berada di kisaran Rp4.485 per ringgit.
Dengan kurs tersebut, wisatawan Malaysia merasa biaya berlibur di Indonesia jauh lebih murah dibandingkan di negara mereka sendiri.
Menurut Sugeng, fenomena ini tidak hanya terjadi di Kalimantan Barat, tetapi juga di sejumlah daerah tujuan wisata lain di Indonesia. Namun Kalbar memiliki keuntungan tersendiri karena berbatasan langsung dengan Malaysia melalui jalur darat sehingga akses wisatawan menjadi lebih mudah.
Ia pun mengimbau para pelaku usaha pariwisata, pengelola hotel, restoran, dan pusat kuliner untuk menjaga kebersihan, kenyamanan, serta memberikan pelayanan terbaik kepada wisatawan.
“Kalau wisatawan merasa nyaman dan puas saat berkunjung, mereka akan datang kembali dan merekomendasikan Pontianak kepada keluarga maupun teman-temannya. Itu promosi yang paling efektif,” tukasnya.


















