Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Sempat Sakit Setahun, Adelia Temukan Jalan Hidup sebagai Tatung

Sempat Sakit Setahun, Adelia Temukan Jalan Hidup sebagai Tatung
Kisah Adelia pertama kali jadi Tatung. (IDN Times/Istimewa).

Pontianak, IDN Times - Di usia 21 tahun, Adelia Dwi Anggraini memilih jalan yang tak biasa bagi perempuan seusianya. Saat banyak anak muda sibuk mengejar karier atau pendidikan, Adelia justru menekuni peran sebagai tatung, bagian penting dari tradisi Tionghoa di Kalimantan Barat.

Perempuan yang akrab disapa Adelia ini sehari-hari bekerja sebagai admin toko di kawasan Jalan Tanjungpura, Pontianak. Namun sejak tahun 2023, dia mulai menjalani peran sebagai tatung.

Dia menceritakan keputusannya melestarikan tradisi menjadi sosok Tatung. Saat itu, bermula dari kondisi kesehatannya yang tak kunjung membaik.

“Awalnya saya sering sakit-sakitan. Sudah berobat hampir setahun tapi tidak sembuh-sembuh. Lalu saya mencoba mencari tahu ke tatung lainnya, dan dikatakan ada warisan dari nenek untuk menjadi tatung,” ungkap Adelia, Selasa (3/3/2026).

1. Perjalanan Adelia saat pertama kali jadi Tatung

Wanita 21 tahun di Pontianak pilih jadi tatung.
Wanita 21 tahun di Pontianak pilih jadi tatung. (IDN Times/istimewa).

Adelia menyebut dirinya merupakan tatung dari Pangeran Sam Thai Zi atau Pangeran Tiga Saudara, sosok yang dipercaya dalam tradisi spiritual Tionghoa. Awalnya ia sempat ragu. Namun setelah melalui proses panjang, ia akhirnya menerima peran tersebut.

Untuk diketahui, Tatung adalah perantara dalam tradisi Tionghoa (khususnya Hakka) yang dirasuki roh dewa atau leluhur, terkenal dalam perayaan Cap Go Meh di Singkawang, Kalimantan Barat.

Menjadi tatung, kata Adelia, bukan hanya soal tampil dalam arak-arakan budaya, terutama saat perayaan Cap Go Meh. Ada proses, disiplin, hingga pantangan yang harus dijalani.

“Salah satu tantangannya ada larangan makanan. Saya harus bervegetarian,” ucapnya.

Dia juga mengaku sempat mengalami mimpi-mimpi tertentu sebelum benar-benar memahami peran spiritual yang diyakini sebagai warisan dari sang nenek.

Meski tak merinci sisi sulitnya, Adelia menegaskan menjadi tatung bukan hal ringan.

“Lumayan sulit, tapi ini memang sudah jalan saya,” terangnya.

2. Dapat dukungan dari keluarga

Parade Tatung meriahkan puncak Cap Go Meh Singkawang. (IDN Times/istimewa).
Parade Tatung meriahkan puncak Cap Go Meh Singkawang. (IDN Times/istimewa).

Di balik pilihannya, Adelia bersyukur mendapat dukungan penuh dari keluarga dan pasangannya menjadi sosok Tatung. Untuk keyakinan Tionghoa, sosok Tatung juga dapat mengobati orang sakit.

“Dari orang tua mendukung. Pasangan juga mendukung banget,” ujarnya.

Saat ini, dia belum menerima pasien atau masyarakat umum. Perannya masih sebatas membantu keluarga dan lingkungan terdekat.

3. Generasi muda yang lestarikan budaya

Adelia, warga Pontianak pilih jadi tatung di usia muda.
Adelia, warga Pontianak pilih jadi tatung di usia muda. (IDN Times/istimewa).

Tradisi tatung sendiri dikenal luas dalam perayaan Cap Go Meh, khususnya di Singkawang. Perayaan ini bahkan telah menjadi agenda wisata budaya nasional dan selalu menarik perhatian wisatawan.

Dalam tradisi tersebut, para tatung diyakini menjadi perantara spiritual dan tampil dalam ritual yang sarat makna budaya.

Bagi Adelia, menjadi tatung bukan sekadar peran spiritual, tetapi juga bentuk pelestarian budaya.

“Bangga lah, kita bisa melestarikan budaya kita,” paparnya.

Sebagai generasi muda, kehadiran Adelia menjadi bukti bahwa tradisi tetap hidup dan terus diwariskan. Ke depan, ia berharap bisa terus berkembang dan, jika ada kesempatan, tampil di lebih banyak kegiatan budaya.

“Kalau diberi jalan, saya ingin,” tukasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sri Gunawan Wibisono
EditorSri Gunawan Wibisono
Follow Us

Latest News Kalimantan Timur

See More

Sempat Sakit Setahun, Adelia Temukan Jalan Hidup sebagai Tatung

03 Mar 2026, 21:04 WIBNews