Tak Ditemui Gubernur, Aksi Demo Mahasiswa di Pontianak Sempat Memanas

Pontianak, IDN Times - Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat (Kalbar) memicu kemarahan mahasiswa. Mereka juga membuka tuntutan baru soal transparansi pemerintah dan dugaan kekerasan terhadap peserta demonstrasi.
Aksi yang berlangsung di Bundaran Digulis Universitas Tanjungpura (Untan), Pontianak, pada Rabu (21/10/2026), berlanjut hingga malam. Mahasiswa mendesak pemerintah membuka identitas korporasi yang diduga terlibat dalam karhutla sekaligus meminta dugaan pemukulan terhadap peserta aksi diusut tuntas.
Perwakilan mahasiswa DEMA IAIN Pontianak, Fiqi, mengungkapkan sedikitnya tujuh mahasiswa dari kampusnya mengaku menjadi korban pemukulan dalam bentrokan saat aksi sehari sebelumnya, pada Selasa (20/10/2026).
Jumlah korban dari kelompok massa lainnya belum diketahui secara pasti karena masih memerlukan pendataan.
“Dari mahasiswa IAIN itu ada tujuh orang yang terpukul. Kalau keseluruhan saya rasa banyak sekali,” kata Fiqi.
Menurut Fiqi, pihaknya akan menghimpun keterangan dari para peserta yang mengaku menjadi korban untuk memastikan jumlah korban sekaligus mengawal proses penanganan kasus tersebut.
Ia juga menuding adanya keterlibatan anggota organisasi kemasyarakatan dalam insiden itu. Dugaan tersebut perlu ditelusuri lebih lanjut melalui pemeriksaan dan penyelidikan oleh pihak berwenang.
“Kami ingin kasus ini diusut tuntas dan mereka yang terbukti melakukan pelanggaran diadili dengan setegas mungkin,” tegasnya.
1. Mahasiswa pertanyakan identitas korporasi

Aksi Demo di Pontianak sempat tak kondusif. (IDN Times/istimewa). Di balik tuntutan penuntasan dugaan kekerasan, mahasiswa membawa persoalan yang lebih mendasar lain yakni soal kejelasan penanganan karhutla di Kalimantan Barat.
Mereka mempertanyakan keterbukaan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat mengenai perusahaan yang diduga berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan, termasuk perkembangan pemeriksaan serta langkah penegakan hukum terhadap pihak yang bertanggung jawab.
Fiqi menilai, tanpa informasi yang jelas, masyarakat akan kesulitan mengetahui sejauh mana pemerintah menangani persoalan karhutla.
“Korporasi yang memang kemarin disampaikan oleh Pak Gub, tidak ada transparansinya itu korporasi apa yang melakukan karhutla. Hari ini semua kita di ambang ambigu semuanya,” ujarnya.
Bagi mahasiswa, persoalan karhutla bukan sekadar kebakaran yang berulang setiap tahun. Mereka menuntut adanya kejelasan mengenai penyebab kebakaran, pihak yang terbukti melanggar, serta pertanggungjawaban hukum yang transparan.
Mereka menilai kekayaan sumber daya alam Kalimantan Barat semestinya diiringi kebijakan yang menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, bukan justru menyisakan persoalan yang terus berulang.
2. Kecewa Gubernur tak temui massa

Aksi Demo di Pontianak memanas. (IDN Times/istimewa). Kekecewaan mahasiswa juga tertuju pada tidak hadirnya Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan untuk menemui demonstran secara langsung.
Mereka berharap gubernur bersedia mendengarkan aspirasi sekaligus memberikan penjelasan atas tuntutan yang disampaikan. Namun, menurut Fiqi, harapan tersebut tidak terpenuhi.
“Kami kecewa sekali ketika tidak ada satu pun yang kita sebut sebagai gubernur kita hari ini menampakkan diri untuk menjawab keresahan kita,” katanya.
Mahasiswa menilai dialog langsung dengan pemerintah penting agar tuntutan terkait lingkungan, transparansi, dan kesejahteraan masyarakat tidak berhenti sebagai aspirasi di jalanan.
3. Sempat ricuh, aksi berakhir menjelang tengah malam

Demo di Pontianak diwarnai aksi pembakaran ban. (IDN Times/istimewa). Sebelum berkumpul di Bundaran Digulis Untan, massa terlebih dahulu menggelar aksi di Kantor Gubernur Kalimantan Barat. Mereka kemudian melanjutkan demonstrasi dengan membawa sejumlah tuntutan terkait penanganan karhutla, transparansi pemerintahan, dan kesejahteraan masyarakat.
Situasi memanas hingga malam. Sempat terjadi aksi kejar-kejaran antara petugas kepolisian dan massa, yang berdampak pada penutupan sebagian Jalan Ahmad Yani, Pontianak.
Sekitar pukul 23.00 WIB, Rabu malam, massa akhirnya membubarkan diri. Meski aksi telah berakhir, tuntutan mahasiswa belum berhenti. Mereka menginginkan kejelasan penanganan karhutla sekaligus pengusutan dugaan pemukulan terhadap peserta demonstrasi.





















