Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Tak Sampai 30 Persen, PHRI Samarinda Akui Tingkat Hunian Hotel Merosot

Tak Sampai 30 Persen, PHRI Samarinda Akui Tingkat Hunian Hotel Merosot
Mesra Business & Resort Hotel, di Jalan Bhayangkara (IDN Times/Yuda Almerio)
Share Article

Samarinda, IDN Times - Adanya fase relaksasi di Samarinda tak terlalu memengaruhi tingkat kunjungan hotel atau okupansi. Sepuluh kamar terisi dalam sehari saja sudah beruntung.

“Gak sampai 30 persen (okupansi hotel),” ucap Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Samarinda, Lenny Marlina saat dikonfirmasi pada Kamis (11/6) sore.

1. Terlalu prematur jika menyebut perhotelan sudah membaik

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Samarinda, Lenny Marlina (Dok.IDN Times/Istimewa)
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Samarinda, Lenny Marlina (Dok.IDN Times/Istimewa)

Pandemik virus corona atau COVID-19 jadi alasan utama sektor perhotelan terpuruk. Lantaran imbas wabah tersebut berganda, hotel hanya satu dari sekian sektor yang tertatih karena corona. Karenanya Lenny menganggap terlalu prematur jika menyebut perhotelan sudah membaik. Tiga bulan alami tingkat hunian merosot itu tak mudah. 

“Jadi pertumbuhannya belum terlalu signifikan. Tiga bulan alami pembatasan sosial, bisa jadi saat ini masyarakat lebih fokus pemulihan ekonomi bukan hotel atau pariwisata,” tuturnya.

2. Selama tiga bulan pembatasan sosial beberapa hotel di Samarinda tutup

Ilustrasi hotel (Pexels.com/pixabay)
Ilustrasi hotel (Pexels.com/pixabay)

Saat ini fase relaksasi memang diterapkan di Samarinda, namun demikian bukan berarti warga dari daerah lain bisa bebas datang ke Samarinda lantas menyewa hotel. Ingat protokol kesehatan sangat ketat mengikat, jika rapid test atau PCR reaktif dengan virus corona maka rencana perjalanan batal. Kondisi inilah yang bikin Lenny gamang, itu sebab PHRI Samarinda bakal rapat dalam waktu dekat mengenai isu tersebut. Utamanya mengenai detail aturan fase relaksasi ini.

“Tiga bulan ini sangat berdampak sekali lah, sampai ada beberapa hotel yang berhenti beroperasi sementara,” tuturnya.

3. Saat banjir dan Lebaran tingkat okupansi sempat menanjak

Midtown Hotel Samarinda di Jalan Hasan Basri (IDN Times/Yuda Almerio)
Midtown Hotel Samarinda di Jalan Hasan Basri (IDN Times/Yuda Almerio)

Paling mendapat perhatian memang tingkat hunian kamar. Dari laporan yang diterima Lenny, dalam tiga bulan pembatasan sosial tersebut, puji syukur bila ada 10 kamar terisi. Namun kenyataannya tidak demikian, lima kamar terpakai saja sudah Alhamdulillah. Maklum, akses dari luar tertutup pun demikian dengan penerbangan.

“Benar waktu banjir dan Lebaran ada alami peningkatan okupansi, tapi itu hanya empat hari,” terangnya.

4. Pertumbuhan hotel selama fase relaksasi tak sampai 1 persen

Ilustrasi hotel (Pexels.com/rawpixel.com)
Ilustrasi hotel (Pexels.com/rawpixel.com)

Besar harapan Lenny dengan berlakunya fase relaksasi per 1 Juni 2020 lalu, hotel bergairah. Wajar demikian, sikap optimistis itu hadir karena tiga bulan lebih sektor perhotelan tiarap. Namun nyatanya tidak demikian, pertumbuhannya pun tak sampai 1 persen. Makanya, bila tak ada solusi bisa makin terpuruk. Pekerja hotel yang dirumahkan saja ada seribu lebih. Belum lagi dengan sistem kerja yang baru, seperti 15 hari kerja, 15 hari off. Jadi gaji yang masuk hanya 50 persen saja.

“Memang dilema, karena ekonomi dan kesehatan sama-sama penting. Kebijaksanaan pemerintah menjadi solusi. Anggota PHRI Samarinda ada 60 hotel, alhamdulillah sampai sekarang belum ada yang tutup. Mudah-mudahan wabah ini segera berlalu,” pungkasnya.

Share Article
Topics
Editorial Team
Irwan Idris
EditorIrwan Idris

Latest News Kalimantan Timur

See More

Bisa Jadi Dia Suka! Ini 5 Tanda Halus Seseorang Punya Perasaan ke Kamu

31 Mei 2026, 21:40 WIBNews