Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tiga Bulan Tak Tahu Indonesia Merdeka, Ini Perjuangan Warga Balikpapan
Bendera Merah Putih berkibar di rumah warga Balikpapan Kalimantan Timur, Senin (17/8/2026). (IDN Times/Sri Wibisono)
  • Warga Balikpapan baru mengetahui Proklamasi 17 Agustus 1945 pada 13 November melalui radio Australia, setelah tentara Jepang merampas alat komunikasi dan berupaya menutup informasi.
  • Pemuda segera membentuk Komite Indonesia Merdeka, menggalang dukungan, dan mengibarkan Merah Putih, tetapi menghadapi pembubaran rapat, penangkapan, serta larangan dari NICA.
  • Perlawanan bersenjata warga berlanjut dengan persenjataan terbatas, termasuk rencana sabotase listrik dan serangan di Rapak, sebelum kelompok pejuang berkembang menjadi PBRI di Kalimantan Timur.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kabar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia baru sampai ke Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim), tiga bulan setelah Soekarno-Hatta membacakannya pada 17 Agustus 1945.

Informasi tersebut baru diketahui masyarakat pada 13 November 1945 melalui siaran radio Australia. Saat itu, tentara Jepang merampas berbagai peralatan komunikasi, termasuk radio milik warga.

Hal tersebut diungkapkan veteran perang Balikpapan, Prayitno Djaya Dwiharjo atau yang akrab disapa Mbah Koesman, saat ditemui di Balikpapan, Selasa 17 Agustus 2021 silam.

“Balikpapan baru mendengar bahwa di Jakarta Bung Karno dan Bung Hatta mengatakan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Kita baru mendengar itu dari radio Australia,” kata Koesman kala itu.

Artikel ini sudah tayang di IDN Times dengan judul "Kisah Pejuang Balikpapan untuk Mendengarkan Pidato Proklamasi".

1. Kabar kemerdekaan yan coba ditutupi tentara Jepang

Pejuang veteran Balikpapan Kusman mengusir tentara Belanda di Balikpapan Kaltim. Foto istimewa

Menurutnya, kabar tersebut dibawa pegawai N.V. Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) yang baru kembali dari Pulau Jawa.

Mendengar Indonesia telah merdeka, pemuda Balikpapan langsung bergerak. Abdul Moethalib membentuk Komite Indonesia Merdeka (KIM) untuk menggalang dukungan masyarakat.

Koesman yang saat itu berusia 14 tahun turut menghadiri rapat umum di Kampung Karang Anyar. Dalam kegiatan tersebut, warga mengibarkan bendera Merah Putih sebagai bentuk dukungan terhadap Republik Indonesia.

2. Tekanan sengit dari tentara Belanda kepada warga Balikpapan

Letnan Gubernur Jenderal Dr. H. J. van Mook memeriksa penjaga kehormatan KNIL / KNIL. di Samarinda di Kalimantan Timur, Indonesia 25 Agustus 1947 (geheugenvannederland.nl/Hugo Wilmar)

Namun, perjuangan itu mendapat tekanan dari NICA yang masuk ke Balikpapan bersama pasukan Sekutu setelah Jepang kalah.

Saat Abdul Moethalib berpidato dalam sebuah rapat, tentara dan polisi Belanda membubarkan kegiatan tersebut dan menangkapnya.

NICA juga melarang warga mengibarkan Merah Putih. Meski demikian, sejumlah masyarakat tetap memasang bendera di kampung-kampung. Bahkan, seorang warga yang mengecat rumahnya dengan warna putih dan jendela merah ditangkap dan dipenjara selama tiga bulan.

Setelah bebas, Abdul Moethalib kembali menggalang perlawanan bersenjata. Sejumlah kelompok pejuang terbentuk di berbagai wilayah, termasuk Gunung Samarinda, dengan tokoh seperti Kasmani, Misran Hadi Prajitno, Anang Acil, dan Jhony.

3. Perjuangan warga Balikpapan mengusir penjajah

Sejumlah pelajar mementaskan drama teatrikal Perjuangan Merah Putih ke-79 Sangasanga di Taman Palagan, Sangasanga, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Selasa (27/1/2026). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/wsj.

Dengan persenjataan seadanya, mereka berupaya mengusir Belanda. Salah satu rencana mereka adalah menyabotase pusat listrik NICA di Asrama Bukit Balikpapan. Namun, aksi tersebut gagal dan Belanda kemudian memburu para pejuang.

Sejumlah tokoh, termasuk Abdul Moethalib, Soegito, dan Fakhir Muhammad, meninggalkan Balikpapan dan hingga kini keberadaannya tidak diketahui.

Perlawanan kemudian berlanjut melalui serangan terhadap tempat berkumpulnya tentara NICA di kawasan Rapak. Para pejuang yang berasal dari berbagai latar belakang, termasuk mantan polisi dan tentara Belanda serta bekas Kaigun Heiho, menghadapi kekuatan NICA yang jauh lebih besar.

Kelompok-kelompok tersebut kemudian berkembang menjadi Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (PBRI) dan bergabung dalam perjuangan melawan Belanda di Kalimantan Timur.

Koesman berpesan agar generasi muda menjaga kemerdekaan dan tidak melupakan pengorbanan para pejuang.

“Saya serahkan kepada penerus yang ada di negeri ini. Jangan disia-siakan para pejuang yang telah tiada. NKRI jaga seutuhnya, NKRI adalah harga mati,” tegasnya kepada jurnalis IDN Times saat itu.

Ia juga mengingatkan generasi muda menjauhi narkoba dan berbagai tindakan yang melanggar hukum.

“Pejuang dulu hanya ada dua pilihan, merdeka atau mati,” pungkas Koesman.

Curated For You

Editorial Team

Related Article