Makna HUT Ke-81 RI di Sekolah Rakyat Kalbar: Merdeka dari Buta Huruf

- Upacara HUT ke-81 RI di SRT 53 Pontianak diikuti 73 siswa dan dimaknai sebagai peluang bebas dari buta huruf, putus sekolah, serta memperoleh hak pendidikan setara.
- Siswa dilibatkan sebagai petugas upacara untuk membentuk karakter dan kepercayaan diri; sekolah mencatat perkembangan semangat belajar, bakat, minat, serta prestasi mereka.
- SRT 53 menampung siswa dari 13 kabupaten/kota di Kalimantan Barat sebagai akses pendidikan bagi keluarga miskin dan miskin ekstrem, mencerminkan kehadiran negara.
Pontianak, IDN Times - Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 53 Pontianak, Senin (17/8/2026), menjadi momentum berbeda bagi puluhan siswa yang untuk pertama kalinya mengikuti upacara kemerdekaan sebagai bagian dari keluarga Sekolah Rakyat.
Upacara yang digelar di halaman SRT 53, di Jalan Abdurrahman Saleh, Kecamatan Pontianak Tenggara, itu tidak hanya menjadi peringatan kemerdekaan.
Bagi pihak sekolah, momentum tersebut menjadi simbol bahwa para siswa kini memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan dan mengejar cita-cita.
1. Merdeka, bebas dari buta huruf dan putus sekolah

Pengibaran bendera merah putih di Sekolah Rakyat. (IDN Times/istimewa). Kepala SRT 53 Pontianak, Amirudin, mengatakan kemerdekaan bagi siswa Sekolah Rakyat juga dimaknai sebagai terbukanya kesempatan untuk terbebas dari buta huruf dan putus sekolah.
“Ini momen bahwa anak-anak ini sudah bisa dianggap bebas dari buta huruf, bebas dari putus sekolah, dan mendapatkan hak-hak yang sama seperti anak-anak lainnya,” kata Amirudin, Senin (17/8/2026).
Sebanyak 73 siswa mengikuti upacara tersebut. Mereka terdiri dari 19 siswa SD, 16 siswa SMP, dan 38 siswa SMA.
2. Pembentukan karakter, siswa dilibatkan jadi petugas upacara

Perdana upacara Kemerdekaan RI di Sekolah Rakyat. (IDN Times/Teri). Sejumlah siswa juga dilibatkan sebagai petugas upacara. Salah satunya Gergorius Marko Renaldi, siswa kelas XI asal Kabupaten Landak yang dipercaya menjadi pemimpin upacara.
Marko mengaku sempat gugup karena menjadi petugas dalam upacara HUT Kemerdekaan RI di lingkungan sekolah barunya. Namun, pengalaman tersebut justru membuat dirinya lebih percaya diri. Persiapan sebagai petugas upacara dilakukan selama sekitar satu pekan.
“Karena di SR, saya merasa lebih pede lagi. Sedikit gugup karena hari ini ulang tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, jadi saya harus menampilkan performa yang lebih baik,” ujarnya.
Bagi Amirudin, keterlibatan siswa dalam upacara juga menunjukkan proses pembentukan karakter yang sedang mereka jalani di Sekolah Rakyat.
Menurutnya, para siswa mulai menunjukkan perkembangan positif sejak mengikuti pendidikan di SRT 53 Pontianak. Mereka dinilai semakin percaya diri, bersemangat mengikuti pembelajaran, serta mulai mengembangkan bakat dan minat masing-masing.
“Beberapa anak kita sudah berprestasi, baik di bidang olahraga maupun pengetahuan,” katanya.
3. Negara hadir berikan akses pendidikan

Sekolah Rakyat di Pontianak. (IDN Times/Teri). Para siswa SRT 53 Pontianak sendiri berasal dari 13 kabupaten/kota di Kalimantan Barat, kecuali Kabupaten Ketapang.
Amirudin mengatakan keberadaan Sekolah Rakyat menjadi bentuk kehadiran negara dalam memberikan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.
Karena itu, momentum kemerdekaan tahun ini menjadi pengingat bagi para siswa bahwa kesempatan mendapatkan pendidikan merupakan bagian dari hak yang harus mereka manfaatkan.
“Negara hadir untuk kalian. Manfaatkan kesempatan itu, mudah-mudahan cita-cita kalian bisa tercapai,” tuturnya.
Sementara bagi Marko, kesempatan bersekolah di Sekolah Rakyat harus dijalani dengan percaya diri dan disiplin. Ia pun mengajak teman-temannya untuk tidak minder dalam mengejar cita-cita.
“Untuk teman-teman di luar sana maupun teman-teman SR, tetaplah percaya diri dan ikuti aturan yang ada, baik di sekolah maupun di jalan. Karena aturan itu untuk menyelamatkanmu, bukan menyesatkanmu,” tukasnya.

















