Empat Aksi Heroik Pejuang Samarinda saat Dikepung Tentara Belanda

- Pada Februari 1947, markas pejuang Samarinda dan Sanga-Sanga di Pinang Air Putih diserbu pasukan Belanda setelah jalurnya diketahui; enam pejuang gugur, sementara sebagian berhasil melarikan diri.
- Sebelum Pinang Air Putih, bentrokan terjadi di Sambutan, Solong, dan Teluk Lerong pada Januari 1947; pejuang mundur akibat kalah jumlah, persenjataan, atau strategi.
- Pinang Air Putih termasuk empat palagan penting Samarinda; empat tugu peringatan diresmikan pada 1991, tetapi sebagian disebut tidak terawat dan berada di lahan dikuasai swasta.
Perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Samarinda, Kalimantan Timur, meninggalkan sejumlah catatan pertempuran antara pejuang dan pasukan Belanda pada 1947. Salah satunya terjadi di Kampung Pinang Air Putih, yang menjadi markas persembunyian pejuang Samarinda dan Sanga-Sanga.
Pertempuran di kawasan tersebut bermula ketika pasukan pejuang berusaha menghindari kejaran Nederlandsch Indische Civiele Administratie (NICA) dan Koninklijke Nederlandsch Indische Leger (KNIL).
Artikel ini sudah tayang di IDN Times dengan judul "Kisah 4 Pertempuran Hebat di Samarinda Mempertahankan Kemerdekaan RI".
1. Kekejaman pasukan Belanda mengejar pejuang Samarinda

Sejarawan Publik Kalimantan Timur, Muhammad Sarip (kanan). (Dok. Muhammad Sarip) Menurut sejarawan Samarinda, Muhammad Sarip, peristiwa itu terjadi pada pertengahan Februari 1947. Saat itu, Herman Runturambi meminta rekannya mencarikan rokok atau tembakau. Permintaan tersebut sempat ditentang karena dikhawatirkan membuka lokasi persembunyian.
“Waktu itu Herman Runturambi, salah satu pejuang, ingin membeli rokok atau tembakau. Tapi ditentang oleh rekan-rekannya yang lain karena bisa membongkar rahasia posisi markas,” kata Sarip dalam wawancara pada 6 Agustus 2020.
Meski dilarang, Herman tetap meminta Kepala Kampung Pinang Air Putih, Hamid, yang juga bagian dari kelompok pejuang, untuk mencarikan tembakau.
Tak lama setelah Hamid meninggalkan markas, jalur menuju persembunyian pejuang diketahui pasukan Belanda. Penyebabnya hingga kini masih menjadi dugaan, apakah Hamid tertangkap dan dipaksa membocorkan lokasi, dibuntuti, atau terjadi pengkhianatan.
“Intinya saat itu jalur menuju persembunyian pejuang diketahui Belanda,” ujar Sarip.
2. Serangan maut di tengah malam

Patroli pasukan KNIL Infanteri XIV di Samarinda (Oost-Borneo/Kalimantan Timur) pada 12 Juli 1949 (geheugen.delpher.nl/Dienst voor Legercontacten) Menjelang tengah malam, pasukan Belanda mendekati markas. Sekitar 200 meter dari lokasi, empat penjaga pos, yakni Soekiman, Sastromiharjo, Kusbi, dan Tjorong, tewas dalam serangan diam-diam.
Pasukan Belanda kemudian menyerbu markas ketika sebagian pejuang sedang beristirahat dan tertidur. Tembakan dilepaskan hingga menyebabkan sejumlah pejuang tewas dan lainnya ditangkap.
Herman Runturambi termasuk yang tertangkap. Namun, ia hanya diikat pada bagian tangan. Sejumlah pejuang lainnya berhasil melarikan diri dengan berenang menyeberangi sungai dan bersembunyi di kawasan perbukitan.
“Syukurnya saat itu ada yang bisa menyelamatkan diri dengan berenang menyeberangi sungai lalu bertahan di kawasan perbukitan,” kata Sarip.
Baku tembak berlanjut hingga pagi. Setelah perlawanan mereda, pasukan KNIL mengumpulkan jenazah para pejuang dan membakar rumah yang dijadikan markas.
Dalam situasi tersebut, pejuang kembali melepaskan tembakan. Herman dan sejumlah rekannya memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri.
Mereka menyusuri sawah, menyeberangi sungai, lalu bergabung dengan kelompok pejuang lainnya. Setelah itu, pasukan berpencar menuju Temindung, Mangkupalas, Handil, Embalut, Separi, pedalaman Kutai hingga Kalimantan Tengah.
Enam pejuang gugur dalam pertempuran tersebut dan kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Jalan Kusuma Bangsa, Samarinda. Mereka adalah Tjorong bin Abu Bakar, Sastrowardjojo, Aman bin Ijuh, Asan, Masdar bin Mansur, dan Gondo.
3. Empat palagan di Samarinda

Selama latihan Cie ke-4. Infanteri XIV Pasukan KNIL di Samarinda (O-Borneo) pada 12 Juli 1949, S.M. Lafeber memberikan beberapa instruksi (geheugenvannederland.nl/Dienst voor Legercontacten) Sarip menyebut pertempuran di Pinang Air Putih merupakan salah satu dari empat palagan penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Samarinda.
Kisah tersebut dituangkan Sarip dalam buku Samarinda Tempo Doeloe: Sejarah Lokal 1200-1999 yang terbit pada 2017.
Sebagai penanda sejarah, Pemerintah Kota Samarinda meresmikan empat tugu palagan pada 10 November 1991. Tugu tersebut berada di Jalan Sultan Sulaiman, dekat Kantor Kecamatan Sambutan, Jalan Damanhuri II, Jalan RE Martadinata dekat Taman Lampion Garden, serta Jalan Pangeran Suryanata di seberang Masjid Asy Syuhada.
Namun, menurut Sarip, sebagian tugu kini tidak terawat. Bahkan, beberapa di antaranya berada di atas lahan yang dikuasai perusahaan swasta.
“Sebagian besar keberadaannya juga tak terawat, bahkan posisinya berada di tanah yang dikuasai perusahaan swasta,” ungkapnya.
4. Pertempuran melawan Belanda meluas di Kaltim

Sejumlah pelajar mementaskan drama teatrikal Perjuangan Merah Putih ke-79 Sangasanga di Taman Palagan, Sangasanga, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Selasa (27/1/2026). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/wsj. Sebelum pertempuran di Pinang Air Putih, pasukan pejuang dan Belanda sudah terlibat bentrokan di Kampung Sambutan pada 6 Januari 1947.
Saat itu, pasukan Herman Runturambi membangun markas untuk menghindari kejaran Belanda. Namun, lokasi tersebut diketahui mata-mata NICA sehingga pertempuran pecah.
Bentrokan itu menjadi pertempuran pertama antara pejuang dan pasukan Belanda di Samarinda. Seorang pejuang bernama Tarmidzi gugur.
“Konflik senjata itu makan korban, seorang patriot bernama Tarmidzi gugur dalam pertempuran,” tutur Sarip.
Pasukan pejuang kemudian mundur ke Kampung Solong. Sehari berselang, M. Djunaid Sanusie, Ali Badrun Noor, dan Imberan menemui Herman untuk menyusun strategi lanjutan.
Di tengah pertemuan, pedagang ikan di Pasar Pagi, H. Djamharie, datang membawa kabar bahwa pasukan Belanda bergerak menuju Solong.
Pertempuran kedua pun terjadi. Karena kalah dalam persenjataan dan strategi, para pejuang memilih mundur dengan melintasi sawah dan menyeberangi Sungai Lempake menggunakan perahu.
Pada 15 Januari 1947, gerilyawan Badan Pembela Republik Indonesia (BPRI) kembali menyerang kompleks perumahan pejabat Kesyahbandaran atau Havenmeester di Teluk Lerong.
Saat itu, warga Belanda sedang menggelar pesta. Para pejuang terlibat baku tembak dengan polisi dan tentara Belanda yang berjaga di sekitar lokasi.
“Terjadi tembak-menembak antara pejuang dengan polisi dan tentara Belanda yang berjaga di sekitar tempat berpesta,” ujar Sarip.
Karena kalah jumlah dan persenjataan, para pejuang akhirnya mundur dan berpencar. Peristiwa tersebut menjadi palagan ketiga di Samarinda.
Pada 24 Januari 1947, Herman Runturambi bersama sebagian pasukan kemudian bergerak menuju Sanga-Sanga.
Tiga hari kemudian, pecah Peristiwa Merah Putih di Sanga-Sanga, sekitar 30 kilometer dari Samarinda. Peristiwa tersebut menjadi salah satu catatan penting perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Timur.
Kisah pertempuran Sanga-Sanga tercatat dalam risalah eksponen Badan Pembela Republik Indonesia (BPRI) bersama Jarahdam IX/Mulawarman berjudul Palagan Perebutan Kota Minyak Sanga-Sanga yang diterbitkan pada 1982.



















