Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Truk Bermoncong Mulai Hilang dari Jalanan, Ternyata Ini Penyebabnya

Kota Samarinda
Truk Bermoncong Mulai Hilang dari Jalanan, Ternyata Ini Penyebabnya
Ilustrasi truk bermoncong di jalanan yang rata (pexels.com/Level 23 Media)
  • Truk bermoncong, yang populer pada 1970-an seperti Mercedes-Benz L-Series atau Mercy Bagong, semakin tergeser sejak era 2000-an oleh truk cab over.
  • Posisi mesin di depan kabin menambah blind spot dan panjang kendaraan, sehingga truk bermoncong lebih sulit bermanuver di jalan sempit, padat, bertikungan, atau bertanjakan.
  • Batas dimensi kendaraan membuat moncong mengurangi ruang angkut; cab over lebih ringkas, mudah bermanuver, dan memaksimalkan kapasitas distribusi, meski truk bermoncong tetap bernilai historis.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bagi kamu yang sering memperhatikan lalu lintas, berbagai jenis truk tentu bukan pemandangan asing. Namun, pernahkah kamu menyadari bahwa truk bermoncong kini semakin jarang terlihat di jalanan Indonesia?

Padahal, truk dengan kap mesin di depan kabin ini pernah cukup populer, terutama pada era 1970-an. Salah satu yang ikonik adalah Mercedes-Benz L-Series yang dikenal dengan julukan Mercy Bagong.

Memasuki era 2000-an, keberadaan truk bermoncong mulai tergeser oleh truk cab over, yakni truk dengan posisi kabin berada di atas mesin. Lantas, apa yang membuat truk bermoncong semakin ditinggalkan?

Berikut lima alasannya.

  1. 1. Moncong truk menyebabkan blind spot semakin bertambah

    Ilustrasi truk bermoncong (pexels.com/Quintin Gellar)
    Ilustrasi truk bermoncong (pexels.com/Quintin Gellar)

    Truk bermoncong memiliki mesin yang ditempatkan di depan kabin pengemudi. Desain ini memiliki keunggulan dari sisi aerodinamika dan pada kondisi tertentu dapat membantu efisiensi bahan bakar.

    Namun, posisi kabin yang lebih ke belakang membuat area pandangan pengemudi di sekitar kendaraan menjadi lebih terbatas. Kondisi ini dapat meningkatkan blind spot, terutama saat truk berhadapan dengan kendaraan yang ukurannya jauh lebih kecil seperti sepeda motor.

    Pengemudi pun harus lebih berhati-hati ketika berpindah jalur atau bermanuver di jalan yang padat.

  2. 2. Truk dengan moncong lebih sulit bermanuver di jalan tertentu

    Ilustrasi truk bermoncong di jalanan yang padat (pexels.com/David Brown)
    Ilustrasi truk bermoncong di jalanan yang padat (pexels.com/David Brown)

    Posisi mesin di bagian depan juga membuat truk bermoncong memiliki dimensi bagian depan yang lebih panjang. Akibatnya, kendaraan membutuhkan ruang lebih besar ketika berbelok atau bermanuver.

    Kondisi tersebut menjadi kendala ketika truk harus melewati jalan sempit atau kawasan dengan lalu lintas padat.

    Berbeda dengan truk cab over yang menempatkan kabin di atas mesin. Desain yang lebih kompak membuat kendaraan jenis ini relatif lebih mudah bermanuver di ruang terbatas.

  3. 3. Tidak cocok dengan kondisi jalan Indonesia

    ilustrasi mobil dan truk di jalan
    ilustrasi mobil dan truk di jalan (pexels.com/Th2city Santana)

    Karakteristik jalan di Indonesia turut memengaruhi perkembangan desain truk. Banyak ruas jalan yang memiliki tikungan tajam, tanjakan, turunan, hingga kondisi lalu lintas yang padat.

    Dalam kondisi seperti itu, truk bermoncong yang memiliki bagian depan lebih panjang cenderung membutuhkan ruang manuver lebih besar.

    Sementara itu, desain cab over yang lebih ringkas dinilai lebih sesuai untuk menghadapi kondisi jalan perkotaan maupun jalur distribusi yang memiliki ruang terbatas.

  4. 4. Ruang angkutan lebih terbatas

    ilustrasi truk di jalan
    ilustrasi truk di jalan (pexels.com/Nothing Ahead)

    Efisiensi ruang menjadi salah satu pertimbangan penting dalam industri angkutan barang.

    Mengacu pada PP Nomor 55 Tahun 2012, terdapat ketentuan mengenai dimensi kendaraan bermotor, termasuk batas panjang, lebar, dan tinggi kendaraan. Dalam batas dimensi tersebut, bagian moncong tentu mengambil ruang yang sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan kendaraan dan distribusi.

    Karena itu, desain cab over menjadi pilihan menarik bagi produsen dan perusahaan angkutan karena memungkinkan dimensi kendaraan dimanfaatkan secara lebih efisien.

  5. 5. Keunggulan truk cab over

    IMG-20260803-WA0022.jpg
    Truk fuso bermuatan hebel atau batako putih ambrol ke dalam saluran air hingga melintang di badan Jalan Radin Inten, Bandar Lampung. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna)

    Truk cab over hadir dengan sejumlah keunggulan yang sesuai dengan kebutuhan transportasi modern. Desainnya lebih ringkas, lebih mudah bermanuver, dan dapat memaksimalkan pemanfaatan dimensi kendaraan untuk kebutuhan angkutan.

    Tidak mengherankan jika truk tanpa moncong kemudian semakin mendominasi jalanan Indonesia.

    Meski semakin jarang digunakan, bukan berarti truk bermoncong tidak memiliki keunggulan. Desain kap mesin di depan kabin memiliki karakteristik tersendiri dan pada aplikasi tertentu dapat memberikan keuntungan, termasuk dari sisi aerodinamika.

    Namun, kebutuhan transportasi di Indonesia membuat desain cab over dinilai lebih praktis untuk berbagai kondisi jalan dan kebutuhan angkutan.

    Bagi pecinta otomotif, truk bermoncong kini lebih dari sekadar kendaraan angkut. Keberadaannya menjadi bagian dari sejarah perkembangan kendaraan niaga sekaligus ikon klasik yang pernah meramaikan jalanan Indonesia.

    Jadi, jika suatu hari kamu melihat truk bermoncong melintas di jalan, jangan heran. Bisa jadi, kamu sedang melihat salah satu bagian dari nostalgia dunia otomotif yang kini semakin langka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More