Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kaltim Terancam Kemarau Panjang, BMKG: Peran El Nino dan IOD Positif

Kota Samarinda
Kaltim Terancam Kemarau Panjang, BMKG: Peran El Nino dan IOD Positif
Ilustrasi kekeringan akibat kemarau panjang. Cover Grafis IDN Times
  • BMKG Samarinda mengingatkan Kaltim berpotensi mengalami kemarau panjang dan kering akibat El Nino kuat, yang diprediksi bertahan setidaknya hingga awal kuartal I 2027.
  • Risiko kemarau dapat meningkat bila IOD bergeser dari fase netral menjadi positif pada September–Desember 2026, sehingga El Nino dan IOD positif terjadi bersamaan.
  • Puncak kemarau Kaltim diprediksi berlangsung Agustus 2026; warga diminta memanfaatkan hujan yang masih turun untuk persediaan air dan bersiap menghadapi kekeringan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Samarinda, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Samarinda mengingatkan masyarakat Kalimantan Timur (Kaltim) untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kemarau panjang dan kering.

Kondisi tersebut dipicu oleh fenomena El Nino kuat yang berpotensi diperkuat Indian Ocean Dipole (IOD) positif). BMKG memprediksi pengaruh El Nino dapat bertahan hingga awal 2027.

Prakirawan BMKG Samarinda, Fatuh Hidayatullah, mengatakan El Nino merupakan anomali peningkatan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur yang berada di atas kondisi normal.

"El Nino ini telah berada pada kondisi aktif dan intensitas kuat. Indeks Nino 3,4 sudah mencapai 1,56, sedangkan batas (threshold) untuk kategori kuat adalah 1,5," kata Fatuh dilaporkan Antara di Samarinda, Senin (10/8/2026).

  1. 1. El Nino bertahan hingga 2027

    WhatsApp Image 2025-10-16 at 14.25.23.jpeg
    Berdasarkan data BMKG Stasiun Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan, suhu maksimum di Balikpapan mencapai 33–34 derajat Celsius dalam tiga hari terakhir. (IDN Times/Erik Alfian)

    Menurutnya, El Nino kuat diprediksi bertahan setidaknya hingga awal kuartal I 2027. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko kemarau yang lebih panjang dan kering di sejumlah wilayah Indonesia.

    Ancaman tersebut dapat semakin kuat apabila fenomena IOD positif terjadi. Saat ini, IOD masih berada dalam fase netral, tetapi BMKG memprediksi fenomena tersebut beralih ke fase positif pada September hingga Desember 2026.

    "Untuk saat ini IOD masih berada pada fase netral. Namun, diprediksi berubah menjadi IOD positif pada periode September hingga Desember," jelasnya.

    Jika El Nino dan IOD positif berlangsung secara bersamaan, kondisi tersebut dapat mendorong terbentuknya musim kemarau yang lebih panjang dan kering.

  2. 2. Puncak musim kemarau terjadi pada Agustus ini

    ilustrasi kekeringan akibat fenomena el nino (Foto: Freepik)
    ilustrasi kekeringan akibat fenomena el nino (Foto: Freepik)

    Khusus di Kaltim, BMKG memprediksi puncak musim kemarau terjadi pada Agustus 2026. Indikasinya terlihat dari hasil pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH).

    Sejumlah kabupaten/kota di Kaltim telah memasuki kategori HTH menengah, terutama wilayah bagian selatan.

    Kondisi tersebut juga diperkuat masuknya massa udara kering dari arah timur yang membawa udara relatif panas dan melintasi wilayah Kalimantan.

    Meski demikian, hujan masih terjadi di sejumlah wilayah Kaltim dalam beberapa hari terakhir. BMKG menegaskan kondisi tersebut tidak berarti ancaman kemarau telah berakhir.

  3. 3. Penurunan curah hujan selama El Nino

    ilustrasi dampak El Nino
    ilustrasi dampak El Nino (pexels.com/kevin yung)

    Fatuh menjelaskan, hujan yang turun lebih dipengaruhi dinamika atmosfer sementara, termasuk aktivitas gelombang atmosfer Rossby dan Kelvin yang membawa tambahan uap air.

    "Karena itu, masyarakat diimbau tidak terlena dengan hujan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir," ujarnya.

    BMKG meminta masyarakat memanfaatkan curah hujan yang masih turun untuk memenuhi kebutuhan air sekaligus mengantisipasi periode kering yang berpotensi kembali terjadi.

    Masyarakat juga diminta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap dampak musim kemarau, terutama potensi kekeringan dan kondisi lingkungan yang semakin kering.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More