Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Berusia 500 Tahun, Ini 4 Fakta Unik Masjid Sultan Suriansyah Banjarmasin

Kota Banjarbaru
3 min read
Berusia 500 Tahun, Ini 4 Fakta Unik Masjid Sultan Suriansyah Banjarmasin
Pemandangan bagian luar dari depan Masjid Sultan Suriansyah. (commons.wikimedia.org/Ahyaru Andrestyo)
  • Masjid Sultan Suriansyah di tepi Sungai Kuin, Banjarmasin, diperkirakan dibangun sekitar 1526 pada masa Sultan Suriansyah di bekas ibu kota pertama Kesultanan Banjar.
  • Bangunan Masjid Kuin mempertahankan arsitektur tradisional Banjar tanpa kubah besar, dengan atap bertingkat dan dominasi kayu ulin yang kuat serta tahan lama.
  • Tata letaknya dipengaruhi Masjid Agung Demak melalui Khatib Dayan; pemugaran pada 1976 dan 1999 tetap menjaga sebagian besar bentuk asli masjid.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Masjid Sultan Suriansyah menjadi salah satu bangunan bersejarah yang masih berdiri di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Masjid yang juga dikenal sebagai Masjid Kuin ini berada di tepian Sungai Kuin, kawasan yang memiliki kaitan erat dengan sejarah Kesultanan Banjar.

Diperkirakan dibangun sekitar 1526 M, masjid ini menjadi salah satu peninggalan penting dalam perjalanan perkembangan Islam di Kalimantan Selatan.

Tak hanya menyimpan sejarah panjang, Masjid Sultan Suriansyah juga memiliki sejumlah keunikan dari sisi arsitektur hingga keterkaitannya dengan budaya lokal. Berikut empat fakta menarik tentang masjid tersebut.

  1. 1. Dibangun di masa Sultan Suriansyah

    Pemandangan Masjid Sultan Suriansyah pada awal abad ke-20.
    Pemandangan Masjid Sultan Suriansyah pada awal abad ke-20. (commons.wikimedia.org/Wereldmuseum Amsterdam)

    Masjid Sultan Suriansyah berada di kawasan Banjar Lama, yang dahulu menjadi lokasi ibu kota pertama Kesultanan Banjar.

    Masjid ini diperkirakan dibangun sekitar 1526 M, bertepatan dengan masa pemerintahan Sultan Suriansyah. Lokasinya yang berada tidak jauh dari makam sang sultan membuat masjid ini memiliki keterkaitan kuat dengan sejarah awal Kesultanan Banjar.

    Hingga kini, kawasan makam Sultan Suriansyah juga menjadi salah satu tujuan wisata religi di Banjarmasin.

  2. 2. Arsitektur Masjid Sultan Suriansyah

    Pemandangan aula salat di dalam Masjid Sultan Suriansyah yang menampilkan mihrab dan mimbar.
    Pemandangan aula salat di dalam Masjid Sultan Suriansyah yang menampilkan mihrab dan mimbar. (commons.wikimedia.org/Volstand)

    Berbeda dengan banyak masjid modern, Masjid Sultan Suriansyah tidak memiliki kubah besar. Bangunannya justru mempertahankan karakter arsitektur tradisional Banjar dengan bentuk atap bertingkat.

    Sebagian besar bangunan menggunakan kayu ulin, material khas Kalimantan yang dikenal kuat dan tahan lama.

    Penggunaan kayu ulin menjadi salah satu faktor yang membantu bangunan masjid tetap bertahan hingga ratusan tahun. Nuansa kayu juga terlihat pada bagian dalam masjid yang dibuat sederhana.

  3. 3. Arsitekturnya mirip desain Masjid Demak

    Tiang guru, tiang berjumlah 4 ini sisa peninggalan masjid Sultan Suriansyah yang masih asli.
    Tiang guru, tiang berjumlah 4 ini sisa peninggalan masjid Sultan Suriansyah yang masih asli.

    Masjid Sultan Suriansyah memiliki tata letak yang disebut mendapat pengaruh dari Masjid Agung Demak di Jawa Tengah.

    Pengaruh tersebut dikaitkan dengan Khatib Dayan, seorang ulama dari Kesultanan Demak yang disebut membawa pengaruh arsitektur Jawa dalam penyebaran Islam di Kalimantan.

    Karakter tersebut antara lain terlihat dari bentuk atap bertingkat atau meru serta penggunaan tiang guru sebagai bagian penting dari struktur bangunan.

    Menariknya, unsur arsitektur tersebut kemudian berpadu dengan karakter bangunan tradisional Banjar.

  4. 4. Sempat dipugar tetapi dijaga kelestariannya

    Pemandangan beduk di dalam Masjid Sultan Suriansyah.
    Pemandangan beduk di dalam Masjid Sultan Suriansyah. (commons.wikimedia.org/Si Gam)

    Masjid Sultan Suriansyah telah mengalami beberapa kali pemugaran untuk menjaga kelestariannya.

    Pemugaran pertama dilakukan pada 1976 melalui upaya yang dipimpin Kodam X Lambung Mangkurat. Pemugaran berikutnya berlangsung pada 1999 di bawah naungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.

    Meski telah mengalami perbaikan, sebagian besar bentuk asli masjid tetap dipertahankan. Perawatan tersebut penting untuk menjaga keberadaan masjid sebagai salah satu peninggalan sejarah Kesultanan Banjar.

    Masjid Sultan Suriansyah hingga kini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi bagian dari jejak sejarah perkembangan Islam dan identitas budaya masyarakat Kalimantan Selatan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More