Pulau Curiak, Surga Bekantan di Kalimantan yang Wajib Masuk Daftar Liburan

Bekantan merupakan satwa endemik Pulau Kalimantan yang mudah dikenali dari hidung panjang dan bulu berwarna cokelat kemerahan. Primata yang hidup di kawasan hutan mangrove, rawa, dan pesisir ini berstatus dilindungi karena populasinya terus menurun akibat hilangnya habitat.
Bagi yang ingin mengenal bekantan lebih dekat, Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak di Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, bisa menjadi destinasi yang layak dikunjungi. Kawasan ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat penelitian dan konservasi, tetapi juga menawarkan pengalaman ekowisata yang mengedepankan edukasi lingkungan.
1. Berada di tengah Sungai Barito

Pulau Curiak berjarak sekitar 18 kilometer dari Kota Banjarmasin. Pulau seluas sekitar 3,9 hektare tersebut dapat diakses melalui jalur darat menuju Jembatan Barito, kemudian dilanjutkan menggunakan perahu motor atau kelotok. Wisatawan juga dapat memilih jalur sungai dengan berangkat dari Dermaga Siring Menara Pandang Banjarmasin, menyusuri Sungai Martapura, Sungai Alalak, hingga Sungai Barito dengan panorama alam yang khas.
Di balik keindahannya, Pulau Curiak menyimpan kisah sukses restorasi lingkungan. Kawasan yang sebelumnya mengalami degradasi akibat aktivitas industri dan permukiman itu mulai dipulihkan oleh Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) sejak 2018.
2. Dulu merupakan kawasan terlantar

Melalui program rehabilitasi, lebih dari 10.000 pohon mangrove rambai ditanam untuk mengembalikan fungsi ekologis kawasan sebagai habitat alami bekantan. Upaya tersebut membuahkan hasil positif. Selain kondisi lingkungan yang semakin hijau, luas pulau juga bertambah dari sekitar 2,4 hektare menjadi lebih dari 4 hektare akibat proses sedimentasi yang didukung pemulihan vegetasi mangrove.
Keberhasilan restorasi juga terlihat dari meningkatnya populasi bekantan. Jika pada 2016 hanya tercatat sekitar 14 ekor, kini jumlahnya meningkat menjadi sekitar 38 ekor. Sepanjang 2022 saja, delapan bayi bekantan lahir di kawasan tersebut, menjadi indikator bahwa habitat di Pulau Curiak semakin mendukung perkembangan satwa liar.
3. Meningkatkan populasi bekantan lebih dari 100 persen dalam waktu 5 tahun

Tak hanya menjadi rumah bagi bekantan, Pulau Curiak juga menjadi pusat pelestarian mangrove rambai yang tergolong langka. Pengunjung dapat mempelajari pentingnya ekosistem mangrove, mengikuti kegiatan penanaman pohon, hingga menjelajahi kawasan hutan mangrove yang masih alami.
Bagi pencinta wisata berbasis alam, program Bekantan Ecotour menawarkan pengalaman berbeda. Melalui kegiatan ini, wisatawan diajak menyusuri hutan mangrove, mengenal keanekaragaman hayati Kalimantan, sekaligus melihat aktivitas masyarakat nelayan yang hidup berdampingan dengan ekosistem sungai.
4. Dikenal sebagai Mangrove Rambai Center

Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak menjadi contoh nyata bahwa pelestarian alam dapat berjalan seiring dengan pengembangan wisata edukatif. Selain memberikan pengalaman berwisata yang berbeda, kawasan ini juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap upaya menjaga habitat satwa endemik Kalimantan agar tetap lestari bagi generasi mendatang.





















