Takut Kehilangan Pasangan? Coba Cara Mencintai dengan Stoicisme

Jatuh cinta memang manis, tapi tak jarang dibarengi rasa cemas. Mulai dari takut kehilangan pasangan, overthinking soal masa depan, hingga merasa kebahagiaan hanya datang jika dia ada di sisi kita.
Jika kamu pernah merasakan hal ini, mungkin saatnya berkenalan dengan stoicisme. Filsafat kuno ini mengajarkan cara mencintai dengan lebih tenang, tanpa drama, dan fokus pada hal-hal yang benar-benar bisa kita kendalikan.
Penasaran bagaimana stoicisme membantu kamu lebih chill dalam urusan cinta? Simak penjelasannya berikut.
1. Kenali apa yang bisa dan tidak bisa dikendalikan

Salah satu prinsip utama stoicisme adalah membedakan mana yang ada dalam kendali kita dan mana yang tidak. Dalam hubungan, kamu tidak bisa mengatur perasaan pasangan atau memastikan kisah cinta berakhir happily ever after. Namun, kamu sepenuhnya bisa mengatur cara merespons situasi dan menjaga emosimu.
Daripada stres memikirkan hal-hal yang tidak pasti, lebih baik fokus menjadi pasangan yang pengertian dan dewasa. Dengan cara ini, drama kecil dalam hubungan tidak mudah menggoyahkan perasaanmu.
2. Hiduplah berdasarkan nilai, bukan perasaan

Perasaan manusia selalu naik turun. Hari ini bisa sangat cinta, besok justru ragu. Stoicisme mengajarkan untuk tidak terbawa arus perasaan instan. Sebaliknya, utamakan nilai-nilai yang membuat hubungan lebih bermakna, seperti kejujuran, rasa hormat, dan komunikasi yang sehat.
Miliki tujuan hubungan yang jelas, tetapi tetap fleksibel. Dengan begitu, kamu tidak mudah goyah ketika emosi sedang tidak stabil. Ingat, cinta yang kuat tidak hanya bergantung pada “baper”.
3. Terima ketidaksempurnaan dalam hubungan

Sering overthinking karena pasangan tidak sesuai ekspektasi? Saatnya berhenti. Dalam stoicisme, ketidaksempurnaan adalah bagian alami dari hidup. Pasanganmu manusia biasa—dan kamu pun begitu.
Daripada memaksakan perubahan yang tidak perlu, cobalah menerima keadaan apa adanya. Sikap lebih santai ini membuat hubungan terasa lebih ringan dan bebas dari tuntutan berlebihan.
4. Jangan biarkan cinta mengontrol kebahagiaanmu

Kebahagiaan seharusnya tidak bergantung sepenuhnya pada pasangan. Ketika terlalu bergantung, kamu akan mudah cemas setiap kali muncul masalah kecil. Stoicisme menekankan pentingnya menjadi individu yang mandiri dan utuh.
Luangkan waktu untuk diri sendiri, jalani hobi, atau pelajari hal baru. Ketika kamu bahagia dengan dirimu sendiri, hubungan pun berjalan lebih sehat dan menyenangkan.
5. Pahami konsep Memento Mori

Untuk kamu yang sering takut kehilangan, stoicisme mengenalkan konsep memento mori—ingatlah bahwa semua hal bersifat sementara. Bukan untuk membuat sedih, tetapi agar kita lebih menghargai momen yang ada sekarang.
Daripada terus overthinking soal masa depan, nikmati kebersamaan hari ini. Tertawalah bersama pasangan, habiskan waktu berkualitas, dan cintai dengan sepenuh hati. Jika suatu hari hubungan ini berakhir, setidaknya kamu telah menjalani momen berharga yang tidak tergantikan.
Cinta yang sehat tidak selalu tentang kebahagiaan instan atau hubungan tanpa masalah. Kadang, cinta mengajarkan kita untuk menerima, memberi ruang, dan terus tumbuh sebagai individu. Dengan menerapkan prinsip stoicisme, kamu bisa mencintai tanpa rasa cemas dan lebih menghargai setiap momen.
Ingat, cinta bukan soal mengontrol atau menggantungkan hidup pada pasangan, melainkan tentang kebebasan, pengertian, dan rasa syukur. Siap mencoba mencintai dengan cara yang lebih dewasa dan tenang?


















