9 Orangutan Korban Karhutla Punya Rumah Baru, 3 Induk sedang Bunting

- Sembilan orangutan korban karhutla ditranslokasikan ke Hutan Lindung Batu Nyambu, Ketapang, setelah menjalani rehabilitasi; tiga induk, Mama Ocha, Mama Pia, dan Mama Satya, sedang bunting.
- Seluruh orangutan ditemukan dehidrasi dan malnutrisi akibat habitat serta sumber pakan terbakar; Mama Ocha dan Ocha mengalami luka bakar. Dalam tiga bulan, 59 orangutan telah diselamatkan.
- Batu Nyambu seluas sekitar 23.000 hektare dipilih karena menyediakan pakan, air, pohon sarang, dan ruang jelajah. Perjalanan translokasi 12 jam melibatkan pemantauan serta dukungan ritual adat warga.
Ketapang, IDN Times – Di tengah luasnya hutan Kalimantan Barat (Kalbar) yang dilalap kebakaran, masih ada kawasan yang bertahan sebagai rumah aman bagi satwa liar. Hutan Lindung Batu Nyambu di Kabupaten Ketapang kini menjadi tempat baru bagi sembilan orangutan kalimantan yang sebelumnya harus diselamatkan dari kepungan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Sembilan orangutan tersebut resmi ditranslokasikan ke kawasan hutan lindung, pada Kamis (29/10/2026), setelah menjalani perawatan intensif di Pusat Rehabilitasi Orangutan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) di Sungai Awan, Ketapang. Tiga di antaranya bahkan saat ini tengah bunting.
1. 3 orangutan hamil saat dilepasliarkan ke hutan lindung

9 orangutan dilepasliarkan di Ketapang, 3 bunting. (IDN Times/YIARI). Namun, ada kabar yang membuat misi penyelamatan ini semakin bermakna. Tiga dari sembilan orangutan yang dilepasliarkan, yakni Mama Ocha, Mama Pia, dan Mama Satya, ternyata sedang bunting. Hutan yang relatif aman dari kebakaran ini diharapkan menjadi tempat bagi mereka untuk melahirkan dan membesarkan generasi baru orangutan di alam liar.
Kesembilan orangutan itu terdiri atas empat pasangan induk dan anak, yakni Mama Angelo bersama Angelo, Mama Ocha bersama Ocha, Mama Satya bersama Satya, serta Mama Pia bersama Pia. Satu individu lainnya adalah betina dewasa bernama Mama Noni.
Mereka sebelumnya diselamatkan dari sejumlah lokasi terdampak karhutla di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara sepanjang September 2026.
Empat pasangan induk dan anak ditemukan di kawasan bernilai konservasi tinggi (High Conservation Value/HCV) dalam area konsesi perkebunan kelapa sawit PT KALE di Ketapang. Sementara Mama Noni diselamatkan dari perkebunan campuran milik warga di Desa Pemangkat, Kayong Utara.
2. Sempat kelaparan hingga mengalami luka bakar

9 orangutan korban karhutla dilepasliarkan di Ketapang. (IDN Times/YIARI). Kebakaran telah menghancurkan habitat asal mereka. Sumber makanan menghilang, ruang hidup menyempit, dan orangutan terpaksa menghadapi kondisi yang mengancam kelangsungan hidupnya.
Saat ditemukan, seluruh orangutan mengalami dehidrasi dan malnutrisi. Bahkan, Mama Ocha dan Ocha mengalami luka bakar pada bagian kaki yang diduga akibat paparan bara api ketika melintasi lahan gambut yang terbakar.
Setelah diselamatkan, mereka dibawa ke pusat rehabilitasi YIARI untuk mendapatkan perawatan medis dan pemulihan kondisi tubuh. Selama masa rehabilitasi, tim memberikan asupan makanan dan nutrisi yang cukup untuk menggantikan kebutuhan yang tidak terpenuhi selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.
Pemeriksaan kesehatan juga dilakukan secara berkala hingga seluruh individu dinyatakan sehat dan memenuhi kriteria untuk kembali ke habitat alami.
Translokasi ini menjadi bagian dari respons penyelamatan orangutan yang semakin mendesak akibat karhutla. Dalam tiga bulan terakhir, BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI telah menyelamatkan 59 individu orangutan dari berbagai lokasi terdampak kebakaran.
3. Hutan Nyambu punya kondisi ekologis yang mendukung kehidupan orangutan

Proses perjalanan pelepasliaran orangutan di Ketapang. (IDN Times/YIARI). Batu Nyambu bukan dipilih secara kebetulan. Hutan Lindung seluas sekitar 23.000 hektare ini dinilai memiliki kondisi ekologis yang mendukung kehidupan orangutan.
Berdasarkan kajian kesesuaian habitat dan daya dukung kawasan, Batu Nyambu masih memiliki sumber pakan alami, ketersediaan air, pohon untuk bersarang, serta ruang jelajah yang memadai.
Kawasan ini juga memiliki tutupan hutan primer dan sekunder dengan bentang alam mulai dari hutan dataran rendah hingga subpegunungan.
Keunggulan lainnya adalah konektivitas kawasan dengan sejumlah hutan lindung dalam lanskap Arabella–Schwaner. Keterhubungan tersebut memungkinkan orangutan bergerak lebih leluasa, menjangkau sumber makanan, dan memperluas wilayah jelajahnya.
Di saat sejumlah wilayah Ketapang mengalami kebakaran dalam empat bulan terakhir, Hutan Lindung Batu Nyambu dan hutan di sekitarnya dilaporkan tidak terdampak kebakaran.
Kondisi tersebut tidak terlepas dari peran masyarakat Dayak yang tinggal di sekitar kawasan dan selama ini turut menjaga hutan sebagai sumber kehidupan.
4. Perjalanan 12 jam menuju rumah baru

Proses pelepasliaran orangutan di Ketapang. (IDN Times/YIARI). Perjalanan menuju habitat baru bukan perkara mudah. Tim gabungan memulai translokasi sejak dini hari dari pusat rehabilitasi YIARI di Sungai Awan.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 12 jam, sembilan orangutan akhirnya tiba di titik pelepasan di dalam kawasan Hutan Lindung Batu Nyambu.
Untuk mencapai lokasi, tim harus menggunakan kendaraan darat, perahu, hingga berjalan kaki. Kandang transportasi bahkan harus dipikul bersama oleh petugas dan masyarakat setempat saat melewati jalur yang tidak bisa dilalui kendaraan.
Keselamatan orangutan menjadi prioritas selama perjalanan. Setiap kandang dilengkapi pelampung ketika diangkut menggunakan perahu. Dokter hewan juga secara berkala memeriksa kondisi satwa serta memastikan kebutuhan makanan dan air minum tetap terpenuhi.
Setibanya di lokasi, orangutan dilepaskan satu per satu ke habitat barunya. Tim kemudian melakukan pemantauan awal dari jarak aman agar satwa tidak terganggu dan dapat mulai beradaptasi dengan lingkungan hutan.
5. Ritual adat sambut kedatangan orangutan

9 orangutan dilepasliarkan di hutan lindung Ketapang. (IDN Times/YIARI). Kembalinya sembilan orangutan ke alam liar tidak hanya menjadi agenda konservasi, tetapi juga melibatkan kearifan lokal masyarakat sekitar.
Warga Desa Batu Lapis dan Desa Sekukun bersama para pemangku adat menyambut kedatangan orangutan melalui ritual adat yang biasa dilakukan setiap ada translokasi satwa ke kawasan tersebut.
Moses, tokoh masyarakat Desa Batu Lapis, mengatakan ritual itu memiliki makna menolak segala hal buruk atau balak yang dipercaya mungkin terbawa oleh orangutan dari wilayah asalnya.
“Ritual ini sekaligus menjadi permohonan perlindungan agar masyarakat dan lingkungan sekitar terhindar dari hal-hal buruk, termasuk penyakit yang dikhawatirkan terbawa bersama satwa,” sebutnya, Minggu (1/11/2026).
Menurut Moses, tradisi itu merupakan pesan dari para leluhur yang terus dipertahankan setiap kali orangutan dipindahkan ke Batu Nyambu.
Dukungan masyarakat menjadi bagian penting dalam keberhasilan translokasi. Sebab, perlindungan habitat tidak cukup hanya mengandalkan pengawasan pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan warga yang hidup berdampingan dengan kawasan hutan.
Direktur Operasional YIARI mengapresiasi dukungan masyarakat, pemerintah desa, dan pemangku adat dalam kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa keberhasilan konservasi tidak berhenti ketika satwa dilepaskan ke hutan.
Pemantauan terhadap sembilan orangutan akan terus dilakukan untuk mengetahui perkembangan kondisi kesehatan, kemampuan beradaptasi, dan perilaku mereka setelah kembali ke alam liar.
Menurutnya, translokasi bukan sekadar memindahkan satwa dari kawasan rusak ke hutan yang lebih aman. Habitat tujuan harus benar-benar mampu memenuhi kebutuhan hidup orangutan, sementara perlindungan kawasan harus terus berjalan setelah pelepasan.
Sementara itu, Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, mengatakan karhutla menjadi tantangan besar bagi upaya konservasi orangutan. Kerusakan habitat membuat penyelamatan satwa menjadi semakin mendesak, tetapi ketersediaan lokasi pelepasliaran yang sesuai juga harus menjadi perhatian.
“Masih cukup banyak orangutan yang perlu dikembalikan ke habitat alami, bahkan kemungkinan masih ada individu lain yang harus diselamatkan dari kawasan terdampak kebakaran,” ungkapnya.
Karena itu, upaya mempertahankan hutan yang masih baik, memulihkan kawasan yang rusak, mencegah kebakaran, serta membangun koridor satwa liar harus dilakukan secara bersama-sama.





















