Berdiri Sejak 1970, Warkop Langit Biru Simpan Kenangan di Sudut Kota

Pontianak, IDN Times - Ketika kedai kopi modern terus bermunculan di berbagai sudut Kota Pontianak, Warkop Langit Biru justru tetap mempertahankan apa yang membuatnya bertahan selama lebih dari setengah abad. Bangunan tua yang nyaris tak berubah, racikan kopi yang konsisten, hingga pelanggan lintas generasi menjadi alasan warung kopi legendaris di kawasan Pasar Tengah itu masih ramai dikunjungi hingga kini.
Didirikan pada era 1970-an, Warkop Langit Biru kini dikelola oleh generasi ketiga keluarga pendirinya, Riska (49 tahun). Baginya, menjaga warung kopi ini bukan sekadar meneruskan usaha keluarga, tetapi juga mempertahankan bagian dari sejarah budaya ngopi masyarakat Pontianak.
1. Cerita awal warkop Langit Biru dibuka

Riska bercerita, usaha tersebut bermula ketika sang kakek memutuskan menutup toko bangunan milik keluarga. Melihat peluang yang besar dari bisnis warung kopi, ia kemudian mengajak istrinya membuka usaha baru yang kelak dikenal sebagai Warkop Langit Biru.
“Setelah toko bangunan ditutup, kakek bertanya kepada nenek apakah berani membuka warung kopi. Akhirnya nenek setuju karena usaha itu menjadi harapan baru untuk menghidupi keluarga,” sebut Riska, Minggu (19/7/2026).
2. Pondasi bangunan awal tak pernah diubah

Pada awalnya, warung kopi itu berada di bagian belakang ruko. Seiring bertambahnya pelanggan, lokasi usaha dipindahkan ke bagian depan bangunan yang hingga kini masih menjadi tempat berkumpul para penikmat kopi.
Meski telah melewati lebih dari lima dekade, suasana klasik Warkop Langit Biru tetap dipertahankan. Dinding, tata ruang, hingga bentuk bangunan masih sama seperti puluhan tahun lalu. Perubahan hanya dilakukan sebatas perawatan agar bangunan tetap nyaman digunakan.
“Bangunannya tidak pernah diubah. Paling hanya dicat ulang atau diperbaiki sedikit kalau ada yang rusak. Bentuk aslinya tetap kami pertahankan,” ujarnya.
Keaslian juga dijaga dari secangkir kopi yang disajikan. Menu andalan berupa kopi pancong hitam masih diracik menggunakan bubuk kopi dari pemasok yang sama sejak warung itu pertama kali berdiri. Hubungan yang telah terjalin puluhan tahun itu kini bahkan sama-sama diteruskan oleh generasi berikutnya.
“Supplier bubuk kopi kami dari dulu tidak pernah berganti. Sekarang usahanya juga sudah diteruskan oleh anak-anak mereka, sama seperti warung ini,” kata Riska.
3. Warkop Langit biru simpan kenangan lewat secangkir kopi

Setiap hari, Warkop Langit Biru mulai melayani pelanggan sejak pukul 07.00 hingga 16.00 WIB. Mayoritas pengunjung merupakan pedagang dan pekerja di kawasan Pasar Tengah yang menjadikan secangkir kopi sebagai teman sebelum memulai aktivitas.
Namun, yang membuat warung ini istimewa bukan hanya rasa kopinya. Banyak pelanggan yang kembali datang karena menyimpan kenangan di tempat tersebut. Tak sedikit yang dulu datang bersama orang tuanya, kini kembali membawa anak-anak mereka menikmati kopi di meja yang sama.
“Biasanya orang tua mengajak anaknya ke sini. Setelah dewasa, anaknya datang lagi, sekarang gantian membawa keluarganya. Pelanggan kami memang sudah berganti dari satu generasi ke generasi berikutnya,” ujarnya.
Harga yang tetap ramah di kantong turut menjadi daya tarik. Kopi pancong hitam dijual Rp5.000 per cangkir, sementara kopi susu pancong dibanderol Rp8.000.
Berbagai kue tradisional seperti patlaw, apam, dan jajanan khas lainnya juga masih setia menemani secangkir kopi, menghadirkan suasana yang sulit ditemukan di banyak kedai kopi masa kini.
Lebih dari sekadar tempat minum kopi, Warkop Langit Biru menjadi ruang yang menyimpan cerita, mempertemukan lintas generasi, sekaligus menjaga tradisi ngopi yang telah mengakar di Kota Pontianak selama puluhan tahun.


















