Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kemarau Makin Parah, Petani Melon Sangatta Terancam Gagal Panen

Kab. Kutai Timur
Kemarau Makin Parah, Petani Melon Sangatta Terancam Gagal Panen
Ilustrasi. kekeringan lahan pertanian. (dok. Ruhaili)
  • Kemarau panjang di Sangatta Selatan mengeringkan parit pengairan, mengancam pertanian Kelompok Tani Adem Ayem yang mengelola sekitar 15 hektare lahan.
  • Tanaman melon gagal panen dengan kerugian diperkirakan Rp70 juta; bawang prei dan kemangi mengering, sementara produksi cabai turun dari sekitar 20 ton menjadi 200 kilogram per hektare.
  • Pencarian air lewat sumur terkendala debit kecil dan air payau di Rawa Gabus; petani membutuhkan pompa besar serta berencana memperdalam sumur secara swadaya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Sangatta, IDN Times - Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur, dalam beberapa bulan terakhir mulai memukul sektor pertanian. Di Kecamatan Sangatta Selatan, sejumlah lahan pertanian kekurangan air hingga menyebabkan tanaman gagal panen.

Ketua Kelompok Tani Adem Ayem, Kelurahan Singa Geweh, Djunaidi, mengatakan kekeringan tahun ini merupakan yang terparah selama dirinya menjadi petani. Sumber air utama berupa parit mengering sehingga petani kesulitan mengairi lahan.

“Kekeringan panjang tahun ini yang terparah selama saya menjadi petani di sini. Lahan kami mengalami kekeringan karena parit utama yang menjadi sumber pengairan mengering,” kata Djunaidi dilaporkan Antara di Sangatta, Rabu (2/9/2026).

  1. 1. Pertanian melon terancam gagal panen

    WhatsApp Image 2026-08-16 at 16.42.15.jpeg
    Ilustrasi perkebunan buah melon Kuning. (Dok. PHR)

    Kelompok Tani Adem Ayem beranggotakan 12 petani dengan total lahan sekitar 15 hektare yang digunakan untuk sawah dan tanaman hortikultura. Kekeringan paling parah berdampak pada tanaman melon yang mengalami gagal panen.

    Tanaman melon mati saat memasuki masa berbuah karena kekurangan air. Kerugian petani dari komoditas tersebut diperkirakan mencapai Rp70 juta.

    Kondisi serupa terjadi pada tanaman bawang prei. Tanaman mengering sebelum memasuki masa panen. Padahal, dalam kondisi normal, produksi bawang prei dapat mencapai sekitar 300 kilogram dalam sekali panen.

    Upaya petani menanam kemangi sebagai tanaman alternatif untuk menjaga pendapatan juga tidak membuahkan hasil. Tanaman tersebut ikut mengering akibat minimnya pasokan air dan tingginya intensitas panas.

    Sementara itu, tanaman cabai masih mampu bertahan dan menghasilkan buah. Namun, produksinya turun drastis. Dari kondisi normal sekitar 20 ton per hektare, hasil panen kini hanya sekitar 200 kilogram.

  2. 2. Sumber alternatif air tidak ditemukan

    Ilustrasi salad melon ball
    Ilustrasi salad melon ball (pexels.com/Any Lane)

    Djunaidi mengatakan petani telah berupaya mencari sumber air alternatif dengan menggali sumur. Namun, langkah tersebut belum mampu mengatasi persoalan karena debit air yang tersedia sangat terbatas.

    “Kalau kemarau panjang seperti ini, kami terpaksa menunggu hujan. Kalau hujan tidak turun, petani nekat menggali sumur. Masalahnya, sumur sudah cukup dalam, sementara mata airnya juga kecil,” ujarnya.

    Kesulitan mendapatkan air juga dirasakan petani di kawasan Rawa Gabus bagian dalam. Sejumlah sumur di wilayah tersebut mengalami intrusi air laut sehingga air yang dihasilkan menjadi payau dan tidak dapat digunakan untuk mengairi tanaman.

    “Petani di Rawa Gabus sekarang sudah sangat kesulitan. Hampir semua petani di kawasan ini merasakan dampak kemarau panjang,” katanya.

    Untuk mengatasi persoalan tersebut, kelompok tani membutuhkan mesin pompa air berkapasitas besar. Peralatan itu dinilai dapat digunakan untuk menghadapi persoalan pertanian baik saat musim hujan maupun kemarau.

  3. 3. Pasokan air belum cukup memenuhi kebutuhan pertanian

    WhatsApp Image 2026-08-16 at 16.42.17.jpeg
    Ilustrasi perkebunan buah melon Kuning. (Dok. PHR)

    Saat musim hujan, pompa dapat digunakan untuk mengalirkan luapan air dari lahan menuju parit. Sebaliknya, ketika kemarau, pompa dapat dimanfaatkan untuk menarik air dari parit atau sumur guna memenuhi kebutuhan pengairan tanaman.

    Menurut Djunaidi, kelompok tani sebenarnya telah memiliki mesin pompa. Namun, kapasitasnya terbatas sehingga belum mampu mencukupi kebutuhan pengairan lahan seluas 15 hektare.

    Ia juga mengeluhkan pendataan yang berulang dari sejumlah dinas teknis setiap kali terjadi banjir maupun kekeringan. Namun, hingga kini belum ada bantuan konkret yang diterima kelompok tani untuk mengatasi persoalan pengairan.

    Sebagai langkah darurat, petani berencana bergotong royong secara swadaya memperdalam sumur-sumur yang mulai mengering. Upaya tersebut dilakukan untuk mencari sumber air tambahan sekaligus menyelamatkan tanaman yang masih dapat dipanen.

    “Untuk sementara, kami akan bergotong royong memperdalam sumur secara swadaya agar masih bisa mendapatkan sumber air untuk menyelamatkan tanaman,” kata Djunaidi.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More