Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

BMKG: Kabut Asap di Samarinda Tak Berbahaya

BMKG: Kabut Asap di Samarinda Tak Berbahaya
Dok. IDN Times/Istimewa
Share Article

Samarinda, IDN Times - Dalam dua pekan terakhir, Kota Tepian diselimuti kabut asap. Namun warga tak perlu waswas sebab Indeks Standar Pencemar Udara atau ISPU masih masuk kategori sedang alias tak berbahaya.

Secara kasatmata kabut terlihat, namun skornya antara 50-150 mikrogram. Sayangnya, tak selamanya kualitas udara itu bisa dianalisis oleh prakirawan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Samarinda.

“Alatnya rusak sebab terkena banjir Juni lalu,” terang Aliansyah, Kepala Kelompok Teknisi (Kapoksi) BMKG Samarinda.

1. Kabut menghantui Samarinda

IDN Times/Yuda Almerio
IDN Times/Yuda Almerio

Dia pun berharap alat itu segera diperbaiki sebab kemarau masih menghantui Ibu Kota Provinsi ini dalam dua bulan ke depan.

Diperkirakan akhir Oktober atau awal November musim hujan baru menyapa Samarinda. Asap itu dikarenakan lahan yang terbakar. Bisa jadi ulah manusia atau karena faktor alam.

“Apalagi musim kemarau ini, harus hati-hati,” imbuhnya.

2. Ada 1.010 titik panas di Kaltim

IDN Times/Yuda Almerio
IDN Times/Yuda Almerio

Sementara untuk hotspot atau titik panas, lanjutnya, ada 1.010 titik panas terpantau pada Jumat (13/9) diakumulasi dari empat satelit terhitung sejak dasarian pertama September.

Jumlah tersebut bisa berkurang, sebab dua hari lalu ada 1.243 titik terlihat. Sedangkan pada Jumat pagi tadi terdapat 19 titik panas kategori warna merah 81-100 persen. Menggunakan sensor modis di satelit terra dan aqua memberi gambaran lokasi wilayah mengalami kebakaran.

Satelit ini mendeteksi anomali suhu panas dalam luasan satu kilo meter persegi. Semakin tinggi persentasenya makin besar pula potensi terbakarnya.

“Titik panas di Kaltim kebanyakan berada di kawasan Kutai Barat, Berau, dan Mahakam Ulu,” terangnya.

3. Warga diminta menggunakan masker

IDN Times/Yuda Almerio
IDN Times/Yuda Almerio

Aliansyah memperkirakan kabut asap di Samarinda merupakan kiriman dari Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat. Kondisi udara Kota Tepian pun semakin bahaya, apabila angin bergerak dari barat ke timur.

Maka asap bisa lebih pekat karena asap dari Mahakam Ulu dan Kutai Barat bisa juga bergerak ke Samarinda.

“Syukurnya saat ini pergerakan angin masih banyak di tenggara ke selatan,” paparnya.

Dia menambahkan, sebaiknya warga waspada. Sebab saat ini masih kemarau panjang. Kesadaran pun diperlukan agar tak membakar lahan. Hujan memang masih ada di Samarinda tapi sedikit. Baiknya juga warga menggunakan masker.

“Info yang kami dapatkan, Paser sudah dua bulan tidak hujan. Samarinda tetap ada hujan hanya di bawah 150 milimeter,” pungkasnya.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Mela Hapsari
EditorMela Hapsari

Latest News Kalimantan Timur

See More

Hari Lingkungan Hidup, Berau Coal Tanam 3.403 Pohon di Area Reklamasi

29 Jun 2026, 01:00 WIBNews