Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Bukan Sekadar Kayu, Hutan Kaltim Raup US$89 Juta dari Bisnis Karbon

Bukan Sekadar Kayu, Hutan Kaltim Raup US$89 Juta dari Bisnis Karbon
hutan tropis di Kalimantan (unsplash.com/Ken Shono)
Share Article

Samarinda, IDN Times - Hutan Kalimantan Timur (Kaltim) tidak hanya berfungsi sebagai penghasil kayu. Lebih dari itu, kawasan hutan di Benua Etam memiliki nilai ekonomi yang besar melalui jasa lingkungan, terutama sebagai penyerap karbon, penghasil oksigen, serta penekan emisi gas rumah kaca.

Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, mengungkapkan bahwa keberadaan hutan telah menjadi salah satu sumber pendapatan daerah melalui program perdagangan karbon (carbon trading).

Menurut Rudy, program berbasis lingkungan tersebut tidak hanya memberikan manfaat bagi pemerintah daerah, tetapi juga melibatkan masyarakat hingga tingkat desa dan kawasan pesisir.

“Bahkan, carbon trading Kaltim (Indonesia) menjadi barometer di kawasan Asia Pasifik,” ujar Rudy dalam aku IG Pemprov Kaltim

1. Nilai ekonomi terhadap emisi karbon

Perdagangan karbon merupakan mekanisme pasar yang memberikan nilai ekonomi terhadap setiap ton emisi karbon dioksida yang berhasil dikurangi atau diserap. Melalui skema ini, upaya pelestarian lingkungan dapat memberikan manfaat finansial sekaligus mendukung pengendalian perubahan iklim.

Potensi hutan yang dimiliki Kaltim turut menempatkan Indonesia sebagai salah satu pusat perdagangan karbon dunia yang berbasis solusi alam (nature-based solutions), seperti restorasi hutan mangrove dan lahan gambut.

Saat ini, sekitar 4,5 juta hektare kawasan daratan di Kaltim menjadi prioritas konservasi. Kawasan tersebut diperkirakan menyimpan stok karbon sebesar 35 hingga 58 persen dari total wilayah yang ada.

2. Potensi kekayaan alam di Kaltim

Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud saat Rapat terkait batas wilayah IKN di Kemendagri
Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud saat Rapat terkait batas wilayah IKN di Kemendagri (IDN Times/istimewa)

Tak hanya kawasan daratan, wilayah pesisir Kaltim juga menyimpan potensi besar melalui ekosistem mangrove yang dikenal sebagai karbon biru (blue carbon). Pengembangan kawasan konservasi mangrove mencakup ribuan hektare di Kabupaten Berau, Kutai Kartanegara, dan Paser.

Rudy menambahkan, Kaltim berhasil memimpin program pengurangan emisi gas rumah kaca berskala internasional dengan capaian pengurangan emisi mencapai 22 juta hingga 30 juta ton setara karbon dioksida (CO2e).

3. Manfaat hutan bagi masyarakat Kalimantan

Bunga Rafflesia arnoldii yang tumbuh di Hutan Adat Dayak,  Desa Cipta Karya, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat
Bunga Rafflesia arnoldii yang tumbuh di Hutan Adat Dayak, Desa Cipta Karya, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat (commons.wikimedia.org/Yuliana)

Keberhasilan tersebut membawa berbagai insentif bagi daerah, termasuk kompensasi melalui Program Forest Carbon Partnership Facility-Carbon Fund (FCPF-CF) yang didukung Bank Dunia.

“Tidak sedikit manfaat yang diberikan kepada kita. Potensinya sangat besar untuk perdagangan karbon. Hutan kita mampu menghasilkan 89 juta dolar AS,” kata Rudy.Sama

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sri Gunawan Wibisono
EditorSri Gunawan Wibisono

Latest News Kalimantan Timur

See More

Kawan Lama Tembus Panggung Asia, Sabet 2 Penghargaan Bergengsi HR Asia

12 Jun 2026, 16:00 WIBNews