Debat Pilwakot Pontianak 2024, Isu Penanganan Banjir Jadi Sorotan

Pontianak, IDN Times - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Pontianak menggelar debat publik kedua Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Pontianak 2024 di Pontianak Convention Center (PCC) pada Selasa (19/11/2024) malam.
Debat ini menghadirkan dua pasangan calon (paslon) yang bersaing, yakni Edi Rusdi Kamtono-Bahasan dengan nomor urut 01 dan Mulyadi-Harti Hartidjah dengan nomor urut 02.
Salah satu isu utama yang dibahas dalam debat adalah solusi penanganan banjir dan genangan air, masalah yang kerap dikeluhkan warga Pontianak setiap musim hujan.
1. Bakal evaluasi drainase dan buat tandon

Calon wali kota Pontianak nomor urut 02, Mulyadi, menekankan pentingnya evaluasi sistem drainase yang ada di setiap wilayah. Menurutnya, perbedaan kontur tanah di Pontianak memerlukan pendekatan khusus dalam perencanaan infrastruktur.
“Hujan 3-4 jam saja, Pontianak langsung tergenang. Kami akan mengevaluasi lebar dan kedalaman drainase apakah sudah sesuai. Kami berkomitmen untuk memperbaiki dan mewujudkan solusinya,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan rencana pembuatan tandon air dengan kedalaman tertentu di beberapa titik untuk menampung air hujan secara efektif.
2. Punya masterplan untuk mitigasi genangan

Menanggapi hal itu, calon wali kota nomor urut 01, Edi Rusdi Kamtono, mengklaim bahwa pihaknya sudah memiliki masterplan untuk mitigasi banjir di Pontianak. Menurut Edi, genangan air di Pontianak disebabkan oleh tiga faktor utama, salah satunya adalah pasang air laut atau rob yang semakin tinggi.
“Kita sudah punya masterplan. Penyebab banjir ada tiga: pertama, pasang air laut yang naik hingga 1,7 meter, seperti yang terjadi siang tadi. Sebagian besar wilayah kota tergenang, dan kita sudah melakukan peninggian jalan,” ungkap Edi.
Edi menambahkan, jika terpilih kembali, pihaknya berkomitmen untuk mengurangi dampak banjir secara signifikan.
“Apabila air pasang ditambah hujan lebat, memang sulit, tetapi kita sudah punya program penanganan yang Insyaallah bisa mengurangi dampaknya,” katanya.
3. Saluran tak ternormalisasi dengan baik

Mulyadi menyoroti kinerja Edi-Bahasan selama lima tahun terakhir yang dinilai belum berhasil mengatasi masalah genangan air. Ia menyebut beberapa saluran air di Pontianak belum dinormalisasi dengan baik, sehingga mengakibatkan air hujan tidak dapat mengalir dengan lancar.
“Selama lima tahun terakhir, apa yang sudah dilakukan? Genangan masih terjadi, bahkan beberapa hari lalu air meluap meski tidak ada pasang. Hal ini menunjukkan drainase kita tidak terawat dengan baik,” tegas Mulyadi.
Menurutnya, normalisasi saluran air dan perawatan drainase harus menjadi prioritas untuk menyelesaikan masalah genangan di Kota Pontianak.



















