Link-AR Borneo bahas soal dampak dari hilirisasi bauksit. (IDN Times/Teri).
Di sektor lingkungan, Link-AR Borneo menerima berbagai laporan masyarakat mengenai dugaan penurunan kualitas air sungai, debu dari aktivitas tambang, serta dampak asap pembakaran batu bara. Warga juga mengaitkan jebolnya tanggul limbah pada 2013 dan 2023 dengan meningkatnya kekeruhan air di sekitar lokasi.
Meski demikian, lembaga tersebut menegaskan dugaan pencemaran masih memerlukan verifikasi lebih lanjut melalui pengujian laboratorium independen oleh instansi berwenang.
“Temuan lainnya menunjukkan aktivitas tambang terbuka telah membuka lahan seluas sekitar 1.449 hektare sejak 2018 berdasarkan analisis citra satelit. Link-AR Borneo menilai kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kawasan hidrologis gambut, fungsi penyimpanan karbon, serta keanekaragaman hayati di wilayah tersebut,” paparnya.
Upaya reklamasi lahan bekas tambang yang telah dilakukan perusahaan sejak 2014 juga disebut belum memberikan hasil optimal karena masih ditemukan kegagalan tanam dan minimnya insentif bagi kelompok masyarakat yang terlibat.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, Link-AR Borneo meminta Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, Pemerintah Kabupaten Sanggau, DPRD, serta instansi terkait melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola industri bauksit di Tayan Hilir.
Lembaga itu juga mendorong PT ANTAM dan PT ICA meningkatkan transparansi, membuka ruang dialog dengan masyarakat, memperkuat pengelolaan lingkungan, memperbaiki pelaksanaan reklamasi, serta memastikan penghormatan terhadap hak-hak masyarakat dalam setiap proses pengembangan usaha.
“Keberhasilan hilirisasi bauksit tidak hanya diukur dari besarnya investasi dan produksi, tetapi juga dari sejauh mana industri mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, menjaga kualitas lingkungan, dan menghormati hak-hak masyarakat di sekitar wilayah operasional,” tukasnya.