Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Fenomena Unik di Sungai Kapuas, Air Cokelat dan Hijau Terpisah dengan Jelas
Air sungai Kapuas Pontianak terbelah dua warna. (IDN Times/istimewa).
  • Sungai Kapuas di Pontianak tampak memiliki air cokelat dan hijau jernih dengan batas jelas, terkait pertemuan air tawar dan asin di kawasan muara.
  • Perbedaan massa jenis membuat air tawar cenderung berada di atas air asin, sementara sedimen dari hulu memberi warna cokelat pada aliran sungai.
  • Kemarau, debit sungai melemah, dan pasang laut dapat mendorong air asin lebih jauh; pengelolaan air perlu melibatkan wilayah hulu dan hilir.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pontianak, IDN Times - Pemandangan tak biasa terlihat di Sungai Kapuas, Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar). Permukaan sungai tampak memiliki dua warna berbeda, yakni cokelat dan hijau jernih, dengan batas yang terlihat jelas. Fenomena ini memunculkan kesan seolah-olah air sungai dan air laut tidak bercampur.

Wakil Rektor IV Universitas Tanjungpura (Untan), R. M. Rustamaji, menjelaskan fenomena tersebut berkaitan dengan pertemuan air tawar dan air asin di kawasan muara, termasuk perairan Kapuas menuju Jungkat.

Menurutnya, kedua jenis air tersebut tetap dapat bercampur. Namun, prosesnya berlangsung secara bertahap dan dipengaruhi sejumlah faktor, seperti perbedaan massa jenis, kekuatan arus sungai, serta pasang surut laut.

“Pada dasarnya, bukan berarti air sungai dan air laut tidak bisa bercampur. Keduanya bisa bercampur, tetapi membutuhkan waktu dan berlangsung secara bertahap,” jelas Rustamaji, Senin (19/10/2026).

1. Perbedaan massa jenis membuat air tampak terpisah

Wakil Rektor IV Universitas Tanjungpura (Untan), R. M. Rustamaji. (IDN Times/Teri).

Ia menerangkan, air laut memiliki massa jenis lebih tinggi karena kandungan garam dan mineral terlarut. Sementara itu, air tawar cenderung memiliki massa jenis lebih rendah.

Ketika keduanya bertemu, air tawar dapat mengalir di lapisan atas, sedangkan air asin cenderung berada di lapisan bawah. Perbedaan lapisan tersebut dapat membuat batas pertemuan air terlihat jelas dari permukaan.

Perbedaan warna juga dipengaruhi material yang terkandung dalam air. Warna cokelat pada air sungai umumnya berasal dari lumpur dan partikel sedimen yang terbawa dari hulu.

Adapun warna kehijauan atau tampak lebih jernih pada bagian perairan lainnya dapat dipengaruhi tingkat kejernihan, kedalaman, serta material yang terkandung di dalamnya.

2. Kemarau panjang dan aliran pasang air laut mempengaruhi

Fenomena alam sungai Kapuas terbelah dua warna. (IDN Times/istimewa).

Selain perbedaan massa jenis, kekuatan arus sungai turut menentukan sejauh mana air laut dapat masuk ke badan Sungai Kapuas.

Aliran air dari hulu mendorong air menuju muara. Namun, ketika debit sungai menurun, dorongan tersebut melemah sehingga air laut berpotensi bergerak lebih jauh ke arah hulu.

Rustamaji menduga, kondisi tersebut berkaitan dengan berkurangnya pasokan air dari hulu akibat kemarau berkepanjangan. Curah hujan yang rendah dapat mengurangi aliran air ke sungai dan mengubah keseimbangan antara air tawar dan air asin.

Di sisi lain, pasang surut laut juga memengaruhi pergerakan air asin. Ketika laut pasang dan arus sungai tidak cukup kuat mengimbanginya, pengaruh air laut dapat menjangkau wilayah sungai yang lebih jauh ke daratan.

“Dinamika tersebut juga perlu diperhatikan karena dapat berkaitan dengan intrusi air asin dan potensi banjir rob di kawasan pesisir serta wilayah yang terhubung dengan muara,” terangnya.

3. Pengelolaan Sungai Kapuas perlu melibatkan daerah hulu

Fenomena alam, air sungai Kapuas terbelah dua warna. (IDN Times/istimewa).

Rustamaji menegaskan, persoalan ketersediaan air di Pontianak tidak dapat dipisahkan dari kondisi wilayah hulu Sungai Kapuas. Perubahan tata guna lahan dan berkurangnya pasokan air dapat memengaruhi kondisi perairan di wilayah hilir.

“Persoalan air di Kota Pontianak tidak bisa diselesaikan sendiri karena Pontianak berada di wilayah hilir, di bagian akhir perjalanan air. Apa yang terjadi di hulu, termasuk perubahan tata guna lahan, sedikit banyak akan memberikan pengaruh ke hilir,” ujarnya.

Karena itu, ia menilai kerja sama antardaerah dalam pengelolaan sumber daya air diperlukan untuk menjaga ketersediaan air baku dan keseimbangan aliran sungai.

Rustamaji menambahkan, fenomena dua warna di Sungai Kapuas merupakan gambaran dinamika perairan di kawasan pertemuan sungai dan laut. Batas warna yang terlihat bukan berarti air tawar dan air asin sama sekali tidak bercampur.

Untuk memastikan faktor yang paling dominan dalam fenomena tersebut, diperlukan pengamatan langsung terhadap kondisi arus, pasang surut, tingkat salinitas, serta material yang terkandung dalam air saat kejadian berlangsung.

Curated For You

Editorial Team

Related Article