Kasus Ibu Siksa Anak Kandung di Samarinda, Begini Penjelasan Psikolog

Samarinda, IDN Times - Aksi kekerasan terhadap anak kandung pada Rabu (10/6) kemarin di kawasan Pelita 4, Kecamatan Sambutan berakhir di kepolisian. Hingga kini petugas masih menyelidiki perkara tersebut. Psikolog Ayunda Ramadhani ikut angkat bicara. Dia menduga sang ibu mengalami sindrom baby blues.
"Tapi kami perlu memeriksa lebih lanjut,” katanya saat dikonfirmasi pada Kamis (11/6).
1. Sindrom baby blues biasanya hadir dua pekan setelah melahirkan

Syukurnya, Ayunda diminta Unit Reskrim Polsek Samarinda Kota sebagai pendamping sehingga kesempatan pemeriksaan lebih banyak. Lebih lanjut, dia menerangkan sindrom baby blues lazimnya terjadi saat emosi tak stabil dan dialami perempuan setelah persalinan. Gejalanya meliputi kelelahan, mudah marah, susah tidur, menangis tanpa alasan, tidak sabar, hingga sukar berkonsentrasi.
“Kondisi ini biasanya terjadi dua pekan setelah melahirkan,” ujarnya.
2. Pelaku disebut kelelahan secara emosional dan fisik

Meski begitu, kondisi ini bisa lebih awal dirasakan sang ibu. Hingga kini pemicu sindrom ini belum diketahui pasti. Namun baby blues erat kaitannya dengan perubahan hormon yang terjadi selama kehamilan dan kembali setelah bayi lahir.
"Kalau dugaan psikopat masih begitu dini. Bisa jadi karena kelelahan emosional dan fisik,” sebutnya.
3. Warga maupun pihak keluarga diminta jangan menghakimi sang ibu

Dia pun meminta agar warga, pihak keluarga maupun orang terdekat tidak menghakimi sang ibu yang justru bisa memperkeruh suasana. Dalam proses pendampingan psikologis pelaku, pertama-tama dipulihkan adalah kondisi fisik dengan memberikan asupan gizi yang cukup.
“Selain itu kondisi emosional sang ibu juga harus kembali stabil dengan cara dukungan moril dari orang tua maupun orang terdekat,” pungkasnya.


















