Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Gen Z Sering Dianggap Bikin Bos Kesal? Ini 3 Alasannya

Kota Samarinda
Kenapa Gen Z Sering Dianggap Bikin Bos Kesal? Ini 3 Alasannya
Career Anxienty pada Gen z (Dunia Kerja)
  • Gaya komunikasi Gen Z yang lugas dan langsung kadang dianggap kurang sopan oleh atasan; pendapat dan kritik perlu disampaikan sesuai etika perusahaan, disertai solusi.
  • Gen Z menilai keseimbangan kerja-hidup dan efisiensi penting, sehingga mempertanyakan lembur tanpa alasan jelas; batasan perlu dikomunikasikan profesional sambil tetap fleksibel untuk kebutuhan mendesak.
  • Ekspektasi tinggi terhadap perkembangan karier dapat memicu demotivasi jika peluang terbatas; Gen Z dianjurkan mendiskusikan pelatihan, proyek, atau tanggung jawab baru dengan atasan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Generasi Z dikenal sebagai generasi yang kreatif, melek teknologi, dan berani menyampaikan pendapat. Namun, ketika masuk ke dunia kerja, perbedaan gaya komunikasi dan cara bekerja terkadang membuat Gen Z dan atasan dari generasi sebelumnya sulit menemukan titik temu.

Bukan berarti Gen Z memiliki etos kerja yang buruk. Perbedaan nilai, kebiasaan, dan ekspektasi justru sering menjadi penyebab munculnya gesekan di tempat kerja.

Lantas, apa saja hal yang membuat sebagian Gen Z dianggap kurang cocok oleh bos? Berikut tiga di antaranya, lengkap dengan solusi agar hubungan kerja tetap profesional dan harmonis.

  1. 1. Komunikasi yang "to the point" dan blak-blakan

    Bekerja lintas generasi antara Gen Z dan Boomer di lingkungan kerja modern
    Bekerja lintas generasi antara Gen Z dan Boomer di lingkungan kerja modern (google.com)

    Gen Z terbiasa berkomunikasi secara langsung. Mereka cenderung menyukai pembicaraan yang singkat, jelas, dan langsung pada inti persoalan.

    Namun, gaya komunikasi seperti ini terkadang bisa dianggap kurang sopan atau terlalu menantang oleh atasan yang terbiasa dengan komunikasi formal dan struktur hierarki di tempat kerja.

    Solusinya: Tetap sampaikan pendapat secara lugas, tetapi jangan abaikan etika komunikasi. Sesuaikan cara berbicara dengan budaya perusahaan dan tunjukkan rasa hormat kepada atasan.

    Saat menyampaikan kritik, hindari sekadar menunjukkan kesalahan. Sertakan pula solusi atau alternatif yang bisa dipertimbangkan agar masukanmu lebih mudah diterima.

  2. 2. Enggan lembur tanpa alasan yang jelas

    Pekerja muda mengalami kelelahan mental saat bekerja.
    Ilustrasi gen z lelah secara mental ketika kerja di depan laptop

    Gen Z cenderung menempatkan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi sebagai hal penting. Mereka tidak selalu menganggap bekerja lebih lama berarti bekerja lebih produktif.

    Karena itu, mereka bisa mempertanyakan budaya lembur, terutama jika pekerjaan sebenarnya dapat diselesaikan dalam jam kerja normal.

    Bagi sebagian atasan yang terbiasa bekerja hingga larut malam, sikap tersebut terkadang dianggap sebagai tanda kurangnya dedikasi.

    Solusinya: Sampaikan batasan secara profesional dan tunjukkan bahwa keseimbangan kerja bukan berarti mengabaikan tanggung jawab. Fokuslah pada hasil dan efisiensi, bukan sekadar berapa lama kamu berada di kantor.

    Jika memang ada pekerjaan mendesak yang membutuhkan tambahan waktu, tunjukkan sikap fleksibel selama kondisinya masuk akal dan dikomunikasikan dengan baik.

  3. 3. Harapan yang tinggi pada kemajuan karier

    Tiga anak muda Gen Z berdiskusi dan mengelola bisnis menggunakan laptop dan tablet di ruang kerja dengan suasana kolaboratif.
    Sejumlah anak muda Gen Z tengah berdiskusi dan mengelola bisnis secara kolaboratif menggunakan perangkat digital di ruang kerja. (Dok. Ilustrasi / populix)

    Gen Z dikenal memiliki ekspektasi tinggi terhadap perkembangan karier. Mereka ingin terus belajar, mendapatkan pengalaman baru, dan melihat adanya peluang untuk berkembang di tempat kerja.

    Ketika kesempatan tersebut tidak kunjung datang, sebagian dari mereka bisa kehilangan motivasi atau memilih mencari peluang di perusahaan lain.

    Solusinya: Jangan langsung mengambil kesimpulan bahwa perusahaan tidak memberikan ruang untuk berkembang. Bicarakan ekspektasi karier dengan atasan dan tanyakan peluang untuk mengikuti pelatihan, mengerjakan proyek baru, atau mengambil tanggung jawab tambahan.

    Jika kesempatan promosi belum tersedia, tetap tunjukkan kinerja dan konsistensi. Dengan begitu, kemampuan dan potensi yang kamu miliki semakin mudah terlihat.

    Perbedaan generasi memang membawa cara pandang dan gaya kerja yang berbeda. Namun, hal tersebut bukan berarti Gen Z dan atasan tidak bisa bekerja sama dengan baik.

    Kuncinya adalah memahami perbedaan, membangun komunikasi yang sehat, dan tetap menjaga profesionalisme. Gen Z tidak harus mengubah seluruh karakter mereka agar disukai bos. Yang terpenting, kemampuan beradaptasi tetap berjalan tanpa mengorbankan nilai dan prinsip yang dimiliki.

    Pada akhirnya, komunikasi yang baik, sikap profesional, dan kemampuan memahami kebutuhan satu sama lain menjadi kunci agar perbedaan generasi di tempat kerja tidak berubah menjadi konflik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More