Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kisah Penyintas Kanker Payudara di Kaltim, Pasrah tapi Tak Menyerah
Herlina, salah satu penyintas kanker payudara dari Balikpapan. (IDN Times/Erik Alfian)

Balikpapan, IDN Times - Herlina, salah satu penyintas kanker payudara di Balikpapan, Kalimantan Timur menceritakan kisahnya berjuang melawan penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Pada akhir 2016 silam, ibu tiga anak ini divonis menderita kanker payudara oleh dokter. Ia tak tahu kanker yang dia derita sudah memasuki stadium berapa.

“Yang pasti ganas dan harus segera dilakukan penanganan,” kenang dia.

Divonis kanker, nyali Herlina tak ciut. Sedari awal, Herlina sudah punya firasat benjolan yang tumbuh di payudara kirinya adalah kanker.

“Saya sudah menyiapkan diri. Jadi saya tidak kaget sama sekali,” ungkap dia.

Sejatinya, Herlina sudah merasakan ada benjolan di bagian payudaranya sejak 2007 silam. Namun, saat diperiksa, dokter menyebut benjolan tersebut kemungkinan timbul karena dia sedang menyusui.

“Kata dokter kemungkinan air susu yang mengkristal,” ucap Herlina.

Tahun demi tahun terus berlalu, hingga pada 2016, benjolan tersebut dia rasakan semakin membesar.

“Biasanya saya selalu memeriksa sendiri, namun saya waktu itu memang lupa. Setelah diperiksa sudah tumbuh dan ganas (kankernya),” katanya.

1. Berdamai dengan takdir

Dokter spesialis onkologi Elvis Deddy Kurniawan (kiri) menyebut kanker payudara kini juga rentan menyerang anak muda. (IDN Times/Erik Alfian)

Setelah divonis kanker payudara, perempuan yang kini berusia 56 tahun ini langsung mengikuti seluruh program perawatan yang disampaikan dokter. Mulai dari operasi pengangkatan payudara, kemoterapi hingga terapi radiasi.

“Saya sejak awal mempercayakan pengobatan secara medis kepada dokter. Saya tidak pernah melakukan pengobatan tradisional atau alternatif,” ujarnya.

Bukan tanpa alasan, selain diragukan tingkat keberhasilannya, Herlina menyebut pengobatan alternatif membutuhkan biaya tambahan yang tak sedikit. Sementara jika dia berobat secara medis, semua biaya sudah ditanggung BPJS Kesehatan.

Herlina mengaku, proses kemoterapi menjadi yang paling berat. Selain mengalami kebotakan, tubuhnya juga kerap kesakitan beberapa hari setelah menjalani kemoterapi. Beruntung, Herlina hanya mengalami sakit setelah dua kali kemoterapi. “Kemoterapi yang ketiga hingga keenam saya sudah biasa saja,” jelas dia.

Setelah tuntas dengan kemoterapi, Herlina harus kembali berjuang dengan terapi radiasi. Untuk terapi radiasi, dia memilih RS Kanker Dharmais di Jakarta. Demi berobat di Jakarta, Herlina rela menyewa kamar kos selama dua bulan. Selama dua bulan di Jakarta, Herlina menjalani 30 kalis sesi radiasi.

“Saya berobat sendirian sebab suami saya bekerja di Penajam Paser Utara. Tapi jika ada dinas di Jakarta, suami biasanya membesuk,” ungkap dia.

Setelah menjalani perawatan selama satu tahun pada 2017, kini Herlina tinggal rutin mengonsumsi obat rutin selama 10 tahun.

“Setiap 5 tahun saya juga mesti kontrol,” ucap dia.

Menurut dia, kunci dari keberhasilan sembuh adalah berdamai dengan takdir. Ia meyakni, bahwa penyakit yang dia derita adalah ujian dari Allah.

“Allah memberi saya ujian pasti saya mampu. Jadi saya jalani saja, saya memilih berdamai dan berdoa kepada Allah,” kata dia.

Saat ini, Herlina memilih bergabung dengan salah satu komunitas penyintas kanker. Di komunitas ini, dirinya bisa bertukar pengalaman dengan para penyintas lain.

“Banyak kegiatan positif. Mulai dari pengajian maupun gathering,” kata dia.

2. Kanker payudara kini rentan menyerang anak muda

Dokter spesialis onkologi Elvis Deddy Kurniawan. (IDN Times/Erik Alfian)

Jika pada masa lalu kanker payudara menjangkiti perempuan usia 40 tahun ke atas, kini mereka yang masih berusia muda juga kian rawan terkena kanker payudara. Dr. Elvis Deddy Kurniawan, SP.B.Subsp.Onk(K) mengatakan, kini perempuan berusia 20 tahunan dan 30 tahunan juga rawan terkena kanker payudara.

Dia menambahkan, peningkatan risiko kanker payudara pada anak muda ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor, selain faktor hormonal dan genetis, faktor lingkungan serta makanan, kini menjadi penyebab utama kanker payudara.

“Kalau sekarang faktor utama tentu saja dari lingkungan, polusi dan lain-lain serta makanan, terutama makanan cepat saji. Risiko akan bertambah jika ada faktor keturunan,” kata Elvis, Sabtu (12/10/2024).

Kendati tampak menyeramkan, Elvis menyebut penyakit kanker dapat disembuhkan. Apalagi, saat ini teknologi pengobatan sudah berkembang semakin pesat. Namun, Elvis menyebut, tingkat keberhasilan pengobatan juga ditentukan oleh cepat tidaknya diagnosis.

“Semakin cepat terdeteksi, makan penanganan akan semakin mudah. Selain itu peluang sembuh juga akan semakin besar,” ujar dia.

Sebaliknya, semakin tinggai stadium, maka proses pengobatan juga semakin sulit dan panjang prosesnya.

Dr Elvis menambahkan, edukasi soal pentingnya deteksi dini memang diperlukan. Mengingat, saat ini memang banyak pasien yang baru sadar terkena kanker saat sudah memasuki stadium lanjut.

“Deteksi dini secara mandiri juga bisa. Ketika menemukan benjolan kecil di payudara jangan ragu untuk memeriksakan ke rumah sakit,” pesan dia.

Biasanya, lanjut dr Elvis, banyak perempuan yang memeriksakan kondisinya saat kanker sudah masuk stadium 3. Hal ini dikarenan minimnya kesadaran maupun takut. Bahkan, masih ada perempuan yang menganggap kanker payudara sebagai aib.

“Stigma seperti ini yang harus dihapus,” ujar dia.

3. Pentingnya menjaga asupan nutrisi

Ahli gizi, Andi Fatmasari menyebut asupan nutrisi yang cukup harus menjadi perhatian penderita dan penyintas kanker. (IDN Times/Erik Alfian)

Nutrisionis, Andi Fatmasari mengatakan, menjaga asupan nutrisi bagi penderita maupun penyintas kanker menjadi faktor yang tak boleh diremehkan.

Secara umum, Andi mengatakan, penderita maupun penyintas kanker yang paling utama adalah terpenuhi kebutuhan gizinya.

“Baik makronya mulai dari karbohidrat, protein maupun lemak hingga sub mikronya seperti sayuran dan buah-buahan,” kata dia.

Pemberian nutrisi yang cukup agar penderita kanker tak mengalami malnutrisi. Sebab, jika nutrisinya kurang, infeksi akan cepat terjadi. Andi menerangkan, asupan nutrisi hanya satu dari tiga aspek yang dibutuhkan penderita kanker untuk sembuh.

Dua aspek lainnya adalah psikologis dengan mengelola stress dan proses pengobatan berjalan secara baik.

“Jadi tidak hanya makanan saja. Apsek psikologis dan pengobatan juga mesti diperhatikan,” kata Andi.

Dari sudut pandang ahli gizi, salah satu cara mengurangi risiko terkena kanker adalah dengan tidak mengonsumsi makanan yang mengandung zat karsirogenik. Seperti makanan yang dibakar dengan arang maupun makanan yang digoreng dengan minyak yang digunakan berkali-kali.

4. Dukungan kepada penderita kanker

Wakil Ketua I YKI Cabang Balikpapan drg. Dyah Muryani (tengah). (IDN Times/Erik Alfian)

Salah satu organisai yang aktif dalam pendampingan terhadap penderita maupun penyintas kanker adalah Yayasan Kanker Indonesia (YKI). DI Balikpapan, YKI rutin menggelar kegiatan sosialisasi dan edukasi.

Seperti yang dilakukan pada Sabtu (12/10/2024), YKI Balikpapan menghadirkan ahli gizi dan dokter spesialis onkologi untuk memberikan edukasi kepada penderita dan penyintas kanker payudara di Kota Balikpapan.

“Kami memang rutin melakukan acara semacam ini. Termasuk penyuluhan deteksi dini kanker payudara,” kata Wakil Ketua I YKI Cabang Balikpapan, drg. Dyah Muryani.

YKI Cabang Balikpapan juga memfasilitasi pelaksanaan IVA Test sinergi dengan puskesmas, dan dua labaoratorium di Balikpapan. Tak hanya edukasi dan sosialisasi,  YKI Balikpapan juga rutin memberikan bantuan kepada penderita kanker, baik nutrisi tambahan maupun dana tambahan bagi mereka yang kurang mampu.

“Sampai saat ini sudah ada 58 penderita kanker yang mendapat bantuan dari YKI Balikpapan. Mereka mendapat bantuan Rp 3 juta per kepala,” kata Dyah.

Di Balikpapan, Dyah menyebut jumlah penderita kanker payudara menjadi salah satu yang terbanyak di samping kanker serviks.

Dyah menyebut, perawatan bagi penderita kanker sepenuhnya ditanggung BPJS Kesehatan. Ini, kata Dyah sangat meringankan. Mengingat pengobatan kanker menjadi salah satu yang cukup mahal selain jantung.

“Kami berharap BPJS Kesehatan tetap meng-cover pengobatan untuk penderita kanker,” imbuh dia.

Editorial Team

Related Article