Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Merasa Cemas setiap Bertemu Tetangga? Bisa Jadi Ini Tanda Trauma
Ilustrasi trauma (Unsplash.com/ Annie Spratt)

Trauma bisa muncul akibat berbagai pengalaman buruk, termasuk yang terjadi di lingkungan tempat tinggal. Meski jarang dibahas, tidak sedikit orang yang mengalami trauma terhadap tetangga karena pernah menjadi korban perlakuan yang menyakitkan, seperti diremehkan, difitnah, diintimidasi, atau mengalami konflik berkepanjangan.

Pengalaman tersebut dapat meninggalkan dampak psikologis yang membuat seseorang merasa tidak nyaman, cemas, bahkan takut ketika harus berinteraksi dengan tetangganya.

Berikut beberapa tanda yang kerap dialami oleh orang yang mengalami trauma terhadap tetangga.

1. Merasa cemas saat bertemu tetangga

ilustrasi mengalami trauma (pexels.com/MART PRODUCTION)

Salah satu tanda yang paling umum adalah munculnya rasa cemas saat berpapasan dengan tetangga yang berkaitan dengan pengalaman buruk tersebut.

Jantung bisa berdebar lebih cepat, tubuh terasa tegang, hingga muncul keinginan untuk menghindar atau berpura-pura tidak melihat. Bahkan, hanya melihat mereka dari kejauhan sudah cukup memicu rasa tidak nyaman.

2. Berusaha menghindari pertemuan dengan tetangga

Ilustrasi trauma (Unsplash.com/ ian dooley)

Orang yang mengalami trauma biasanya memiliki berbagai cara untuk menghindari pertemuan dengan tetangganya.

Sebagian bahkan hafal plat nomor kendaraan tetangga tertentu. Saat melihat kendaraan tersebut melintas, mereka akan memilih menunda keluar rumah atau mencari jalan lain agar tidak bertemu.

Mereka juga cenderung mengetahui waktu-waktu ketika warga biasa berkumpul dan sengaja menyesuaikan jadwal aktivitas agar bisa menghindari keramaian tersebut.

3. Merasa overthngking dengan tetangga lain

tetangga baru dipengaruhi (pexels.com/keiraburton)

Trauma juga dapat memicu pikiran berlebihan atau overthinking.

Mereka sering merasa khawatir tetangga baru telah mendengar cerita negatif tentang dirinya. Akibatnya, muncul rasa takut untuk memulai interaksi karena khawatir akan dipandang buruk, meski belum tentu anggapan tersebut benar.

4. Enggan menghadiri acara lingkungan

ilustrasi seorang wanita yang mengalami trauma (pexels.com/Yan Krukau)

Kegiatan bersama warga yang seharusnya menjadi ajang silaturahmi justru bisa menjadi sumber kecemasan bagi orang yang mengalami trauma.

Mereka cenderung memilih tidak menghadiri acara, terutama jika kegiatan tersebut melibatkan tetangga yang pernah memberikan pengalaman buruk. Bahkan, ada yang sengaja meninggalkan rumah agar tidak bertemu dengan orang tersebut.

5. Mudah terkejut dan waspada

Ilustrasi trauma (Unsplash.com/ Vidit Goswami)

Trauma juga membuat seseorang menjadi lebih sensitif terhadap situasi di sekitarnya.

Suara mobil yang berhenti di depan rumah, ketukan pintu, atau suara orang berbicara di luar rumah dapat memicu rasa gelisah. Mereka biasanya akan langsung mengecek ke luar jendela atau memastikan kondisi sekitar dalam keadaan aman, meski suara tersebut belum tentu berkaitan dengan tetangga yang memicu trauma.

Trauma terhadap tetangga bukan sekadar perasaan tidak suka atau enggan berinteraksi. Bagi orang yang mengalaminya, pengalaman buruk yang pernah terjadi dapat meninggalkan luka emosional yang berdampak pada kehidupan sehari-hari.

Karena itu, kondisi ini tidak seharusnya dianggap berlebihan. Dukungan dari orang terdekat serta lingkungan yang lebih sehat dapat membantu seseorang merasa lebih aman dan perlahan memulihkan rasa percaya dirinya dalam bersosialisasi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article