Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Merawat Warisan Budaya, Festival Naik Dango ke-3 Meriahkan Pontianak
Tradisi Naik Dango digelar di Pontianak. (IDN Times/istimewa).

Pontianak, IDN Times - Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak bersama Dewan Adat Dayak (DAD) kembali menggelar perayaan budaya Naik Dango ke-3 tahun 2026 yang berlangsung di Rumah Radakng Pontianak, pada Selasa (21/4/2026).

Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono. Dalam sambutannya, dia menyampaikan apresiasi kepada panitia serta Dewan Adat Dayak yang konsisten menjaga tradisi ini hingga memasuki tahun ketiga pelaksanaannya.

Menurutnya, Naik Dango merupakan wujud nyata komitmen dalam melestarikan nilai-nilai kearifan lokal di tengah pesatnya perkembangan zaman dan digitalisasi.

“Tradisi ini penting untuk menjaga identitas budaya sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakat,” ujarnya.

1. Angkat tema jaga kearifan leluhur

Budaya Naik Dango 3 digelar di Pontianak. (IDN Times/Teri).

Kegiatan adat tersebut mengangkat tema “Ngampar Umah Ngarak Padi - Menjaga Kearifan Leluhur di Tengah Perubahan Zaman”, kegiatan ini dinilai relevan dalam menghadapi tantangan modernisasi.

Pemerintah berharap perayaan ini tidak hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga mendorong pertumbuhan sektor budaya dan ekonomi masyarakat.

2. Makna tradisi Naik Dango

Budaya Naik Dango ke-3 di Pontianak. (IDN Times/Teri).

Sementara itu, Ketua panitia, Vandrektus Derek menjelaskan bahwa Naik Dango merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat Dayak atas hasil panen, sekaligus bentuk penghormatan kepada leluhur.

“Ini bukan sekadar tradisi, tetapi simbol kebersamaan, kerja keras, serta penghormatan terhadap alam dan kehidupan,” jelasnya.

Dia juga menambahkan bahwa Naik Dango tahun ini telah masuk dalam kalender pariwisata Kota Pontianak, sehingga diharapkan mampu menarik wisatawan dan memperluas pengenalan budaya Dayak.

Rangkaian kegiatan berlangsung selama sembilan hari, mulai 17 hingga 25 April 2026. Berbagai agenda diselenggarakan, seperti Ngampar Bide, misa syukur, ritual adat, seminar budaya, pentas seni, hingga pameran UMKM dan kuliner.

Perayaan ini turut dihadiri tamu dari Sarawak, Malaysia, termasuk Charlie Ugang. Kehadiran delegasi tersebut dinilai memperkuat hubungan kultural masyarakat Dayak di Pulau Kalimantan yang melintasi batas negara.

3. Adat istiadat bukan sekadar seremoni

Budaya Naik Dango 3 digelar di Pontianak. (IDN Times/Teri).

Sementara itu, Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, menegaskan pentingnya menjaga nilai-nilai adat agar tetap dijalankan secara khidmat.

Adat istiadat bukan sekadar seremoni, tetapi mengandung nilai luhur yang harus dijaga dan dijalankan dengan penuh penghormatan,” sebutnya.

Dia juga menekankan bahwa keberagaman di Kalimantan Barat harus menjadi kekuatan pemersatu. Menurutnya, kegiatan seperti Naik Dango menjadi ruang untuk mempererat persatuan di tengah perbedaan.

Pemerintah berharap Naik Dango terus berkembang sebagai agenda budaya unggulan tanpa meninggalkan nilai-nilai aslinya, sehingga tetap relevan sekaligus bermakna bagi generasi mendatang.

Editorial Team