Musik Sampe Dayak Tetap Eksis di Era Modern, Pendidikan Jadi Kunci

Samarinda, IDN Times - Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Kalimantan Timur terus mendorong upaya pelestarian alat musik tradisional Sampe khas suku Dayak sebagai bagian penting dari identitas budaya dan kekayaan bangsa Indonesia.
Kepala BPK Kalimantan Timur, Lestari, menegaskan pelestarian Sampe tidak cukup dilakukan dengan menyimpannya sebagai koleksi museum, tetapi harus dibarengi dengan upaya menjaga keberlangsungan ekosistem budaya yang hidup di tengah masyarakat.
"Pelestarian Sampe tidak cukup hanya dengan memasukkannya ke dalam etalase museum. Yang lebih penting adalah memastikan ekosistem budayanya tetap hidup dan berkembang di masyarakat," kata Lestari dilaporkan Antara di Samarinda, Senin (1/6/2026).
1. Jejak sejarah masyarakat Dayak dengan alam

Menurutnya, alat musik petik tradisional yang dikenal dengan berbagai sebutan seperti Sampek, Sape, Sampe, maupun Kecapi itu menyimpan jejak sejarah hubungan masyarakat Dayak dengan alam serta dinamika sosial yang berkembang dari generasi ke generasi.
Ia menjelaskan Sampe bukan sekadar alat musik penghibur. Instrumen yang dibuat dari kayu pilihan hutan Kalimantan tersebut memiliki nilai filosofis dan spiritual yang kuat dalam kehidupan masyarakat Dayak.
"Sampe memiliki relasi magis yang erat dengan peradaban masyarakat Dayak dan menjadi bagian dari identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun," ujarnya.
Selain itu, ragam hias yang menghiasi tubuh Sampe juga sarat makna. Motif-motif tersebut melambangkan daya juang, kebesaran, serta keharmonisan masyarakat Dayak dalam menjaga hubungan dengan alam sekitarnya.
2. Masyarakat sebagai pemilik budaya itu sendiri

Lestari menilai tantangan terbesar dalam pelestarian budaya sering kali muncul dari pendekatan yang terlalu kaku dan kurang melibatkan masyarakat sebagai pemilik budaya itu sendiri.
Karena itu, pemerintah perlu berperan sebagai fasilitator yang membuka ruang partisipasi bagi masyarakat dalam setiap upaya pelestarian budaya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keberagaman budaya tanpa terjebak pada penguatan identitas primordial yang berlebihan, karena berpotensi mengganggu integrasi sosial dan budaya di Indonesia.
3. Kebudayaan yang berpadu kreativitas masyarakat

Menurut Lestari, kebudayaan yang berpadu dengan kreativitas masyarakat, termasuk Sampe, tidak hanya dipandang sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai proses transformasi budaya yang terus berkembang mengikuti zaman.
"Pengarusutamaan kebudayaan harus ditanamkan sejak dini melalui pendidikan agar upaya perlindungan terhadap Sampe berjalan seiring dengan pemanfaatannya di tengah masyarakat," katanya.
Untuk menjaga eksistensinya, ekosistem budaya Sampe perlu terus diperkuat melalui berbagai ruang ekspresi, mulai dari upacara adat yang sakral, kegiatan pariwisata daerah, hingga pertunjukan budaya populer yang mampu menjangkau generasi muda.


















