Pemadaman Bergilir Rugikan Pengusaha Es Batu di Kalbar

Pontianak, IDN Times - Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) dalam beberapa hari terakhir mulai memukul sektor usaha. Salah satu yang paling terdampak adalah produsen es batu kristal yang seluruh proses produksinya bergantung pada pasokan listrik.
Seperti yang dialami Yohn Anna, pengusaha atau pemilik usaha es batu kristal di Jalan Yam Sabran, Kecamatan Pontianak Timur.
1. Produksi es batu berhenti total

Selama listrik padam, mesin pembuat es tidak dapat beroperasi, sehingga produksi berhenti total. Akibatnya, pasokan es kepada pelanggan, terutama pelaku UMKM, ikut terganggu.
“Produksi es kristal terhenti karena mesin utama mati. Kulkas penyimpanan juga tidak berfungsi, sehingga suplai es ke UMKM menjadi terkendala,” kata Yohn, Minggu (5/7/2026).
Tak hanya kehilangan waktu produksi, Yohn juga harus menghadapi penyusutan stok es yang tersimpan di ruang pendingin.
2. Kemacetan juga buat menghambat pengantaran es batu

Meski disimpan di dalam freezer, es tetap mencair sedikit demi sedikit selama pemadaman berlangsung.
Kondisi itu semakin diperparah dengan terganggunya distribusi. Padamnya lampu lalu lintas di sejumlah ruas jalan menyebabkan kemacetan sehingga pengiriman es kepada pelanggan tidak berjalan lancar.
“Es yang disimpan di kulkas tetap menyusut dan pengiriman juga terhambat,” ujarnya.
Berbeda dengan sebagian pelaku usaha lain, Yohn mengaku belum memiliki genset sebagai sumber listrik cadangan. Menurutnya, mesin pembuat es membutuhkan daya listrik yang sangat besar sehingga biaya investasi untuk membeli genset berkapasitas tinggi tidak sanggup dipenuhi.
“Kami tidak punya genset karena daya yang dibutuhkan untuk menghidupkan mesin es sangat tinggi. Kalau harus investasi genset lagi, biayanya terlalu besar,” ungkapnya.
3. Tanggung kerugian

Demi mempertahankan kepercayaan pelanggan, Yohn memilih menanggung kerugian sendiri. Es kristal yang biasanya dikemas seberat 10 kilogram kini diisi hingga sekitar 12 kilogram untuk mengantisipasi penyusutan akibat mencair selama proses penyimpanan dan distribusi.
“Kami kemasan 10 kilogram, tapi kami isi sampai sekitar 12 kilogram demi menjaga pelanggan, apalagi cuaca di Pontianak sedang panas,” katanya.
Menurut Yohn, pemadaman listrik yang terjadi sehari sebelumnya berlangsung sekitar tujuh hingga delapan jam. Durasi tersebut dinilai sangat memberatkan karena seluruh proses produksi, mulai dari pembuatan hingga penyimpanan es, sepenuhnya bergantung pada listrik.
Ia berharap pasokan listrik di Pontianak segera kembali normal. Selain itu, ia meminta pemerintah bersama PLN memberikan perhatian terhadap kawasan industri dan sentra produksi agar tidak terus terdampak pemadaman bergilir.
“Kalau bisa sektor-sektor vital tetap diprioritaskan mendapat pasokan listrik, terutama kawasan industri. Kalau sektor industri terganggu, dampaknya akan dirasakan luas oleh masyarakat,” tukasnya.

















