ilustrasi es batu (vecteezy.com/Chaikrit Sutthi)
Demi mempertahankan kepercayaan pelanggan, Yohn memilih menanggung kerugian sendiri. Es kristal yang biasanya dikemas seberat 10 kilogram kini diisi hingga sekitar 12 kilogram untuk mengantisipasi penyusutan akibat mencair selama proses penyimpanan dan distribusi.
“Kami kemasan 10 kilogram, tapi kami isi sampai sekitar 12 kilogram demi menjaga pelanggan, apalagi cuaca di Pontianak sedang panas,” katanya.
Menurut Yohn, pemadaman listrik yang terjadi sehari sebelumnya berlangsung sekitar tujuh hingga delapan jam. Durasi tersebut dinilai sangat memberatkan karena seluruh proses produksi, mulai dari pembuatan hingga penyimpanan es, sepenuhnya bergantung pada listrik.
Ia berharap pasokan listrik di Pontianak segera kembali normal. Selain itu, ia meminta pemerintah bersama PLN memberikan perhatian terhadap kawasan industri dan sentra produksi agar tidak terus terdampak pemadaman bergilir.
“Kalau bisa sektor-sektor vital tetap diprioritaskan mendapat pasokan listrik, terutama kawasan industri. Kalau sektor industri terganggu, dampaknya akan dirasakan luas oleh masyarakat,” tukasnya.