Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Sering Dikuasai Emosi? Coba 5 Trik Ini, Efeknya Terasa dalam 1 Bulan

Seorang perempuan sedang menikmati suasana alam.
Ilustrasi Tips Mengatasi Overthinking berdasarkan Psikologi Kognitif. (pexels.com/Thiều Hoàng Phước)

Emosi merupakan bagian paling manusiawi dalam diri setiap orang. Emosi hadir sebagai respons alami atas berbagai pengalaman, perasaan, dan pikiran dalam kehidupan sehari-hari. Namun, tidak sedikit orang tumbuh tanpa pernah benar-benar belajar bagaimana mengelola emosi secara sehat. Akibatnya, emosi kerap dipendam terlalu lama, meledak tanpa disadari, atau justru memengaruhi keputusan penting dalam hidup.

Mengelola emosi bukan berarti menekan atau mengabaikannya, melainkan memahami, menerima, dan menyalurkannya secara sadar. Secara psikologis, perubahan emosional memang tidak terjadi secara instan. Namun, melalui langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten, dampaknya mulai terasa dalam waktu sekitar satu bulan. Bukan karena emosi menghilang, melainkan karena hubungan dengan emosi menjadi lebih sehat.

Ada sejumlah trik sederhana yang dapat membantu mengelola emosi dan mulai terasa manfaatnya setelah satu bulan diterapkan.

1. Memberi jeda sebelum merespons emosi

Seorang wanita sedang ngopi.
Ilustrasi Efek Psikologis dari Kehilangan Rasa Syukur yang Jarang Disadari. (pexels.com/Vlada Karpovich)

Banyak konflik muncul bukan karena emosi itu sendiri, melainkan akibat respons yang terlalu cepat. Saat emosi muncul, bagian otak emosional bekerja lebih dominan dibandingkan otak rasional. Jika langsung bereaksi, seseorang cenderung berkata atau bertindak tanpa pertimbangan matang dan berujung penyesalan.

Dengan melatih diri memberi jeda beberapa detik hingga menit sebelum merespons, seseorang memberi ruang bagi pikiran rasional untuk ikut bekerja. Dalam satu bulan, kebiasaan ini akan terbentuk secara alami, sehingga respons menjadi lebih tenang dan tidak impulsif.

2. Mengenali pola emosi yang berulang

Wanita sedang duduk di dekat jendela.
Ilustrasi Panduan Psikologis bagi Introvert untuk Membuat Resolusi Tahun Baru. (pexels.com/Mayara Caroline Mombelli)

Emosi juga tidak muncul secara acak. Biasanya terdapat pola tertentu, seperti situasi, orang, atau pikiran yang berulang kali memicu emosi serupa. Sayangnya, banyak orang hanya fokus pada luapan emosinya, bukan pada pola yang mendasarinya.

Dengan mulai menyadari atau mencatat kapan dan dalam kondisi apa emosi tertentu muncul, kesadaran emosional akan meningkat. Dalam 30 hari, seseorang akan lebih mampu mengantisipasi emosi sebelum membesar, sehingga lebih mudah dikelola.

3. Menamai emosi dengan jujur

Wanita sedang melihat daun-daun pohon.
Ilustrasi Hal yang Perlu Diketahui oleh Introvert saat Memasuki Tahun Baru. (pexels.com/Matheus Bertelli)

Secara psikologis, emosi yang tidak diberi nama akan terasa lebih berat. Ungkapan umum seperti “tidak baik-baik saja” atau “kesal” sering membuat otak tetap berada dalam kondisi tegang. Menamai emosi secara lebih spesifik, seperti kecewa, takut, atau merasa tidak dihargai, membantu otak memproses perasaan dengan lebih jelas.

Dalam satu bulan latihan, kebiasaan ini membuat seseorang lebih terhubung dengan perasaannya sendiri. Emosi tidak lagi terasa membingungkan, karena dapat dipahami dengan lebih baik.

4. Menyalurkan emosi dengan cara yang aman

Wanita sedang menulis.
Ilustrasi Cara Introvert Menata Energi Mental untuk Memulai Tahun Baru. (pexels.com/George Milton)

Emosi yang tidak disalurkan cenderung mencari jalan keluar sendiri, sering kali dalam bentuk yang tidak sehat, seperti ledakan amarah, menarik diri, atau menyalahkan diri sendiri. Menyalurkan emosi berarti memberi ruang bagi perasaan untuk keluar tanpa merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Berbagai aktivitas seperti menulis, berbicara dengan orang terpercaya, menangis dengan sadar, atau melakukan kegiatan kreatif dapat membantu menyalurkan emosi. Dalam 30 hari, tubuh dan pikiran akan terasa lebih ringan karena emosi tidak lagi menumpuk.

5. Mengubah ekspektasi terhadap diri sendiri dan orang lain

Wanita sedang di kebun bunga.
Ilustrasi Tips Menyusun Ulang Tujuan Hidup dengan Cara yang Lebih Manusiawi. (pexels.com/Andre Furtado)

Selain itu, banyak emosi negatif muncul akibat ekspektasi yang terlalu tinggi atau tidak realistis. Harapan agar diri selalu kuat, orang lain selalu memahami, atau keadaan selalu berjalan sesuai rencana sering kali berujung kekecewaan.

Dengan melatih ekspektasi yang lebih realistis dan manusiawi, seseorang menciptakan ruang toleransi emosional. Dalam satu bulan, rasa kecewa berlebihan akan berkurang karena adanya penerimaan terhadap ketidaksempurnaan.

Mengelola emosi bukan berarti menjadi dingin atau tidak merasakan apa pun, melainkan menjadi lebih sadar dan matang secara emosional. Dalam satu bulan, lima trik sederhana ini dapat membantu membangun hubungan yang lebih sehat dengan perasaan sendiri. Emosi tetap hadir, tetapi tidak lagi sepenuhnya mengendalikan. Seseorang belajar memahami dan merespons emosi dengan lebih tenang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sri Gunawan Wibisono
EditorSri Gunawan Wibisono
Follow Us

Latest News Kalimantan Timur

See More

Sering Dikuasai Emosi? Coba 5 Trik Ini, Efeknya Terasa dalam 1 Bulan

02 Feb 2026, 17:00 WIBNews