Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Stop Menyalahkan Diri Sendiri, Bisa Jadi Lingkungan yang Membentuk Perilakumu

Stop Menyalahkan Diri Sendiri, Bisa Jadi Lingkungan yang Membentuk Perilakumu
Seorang wanita sedang tertawa senang. (pexels.com/Max Andrey)

Banyak orang meyakini bahwa perilaku sepenuhnya ditentukan oleh niat dan kemauan pribadi. Namun, psikologi perilaku menunjukkan hal yang berbeda. Lingkungan tempat seseorang hidup justru kerap memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan motivasi.

Tanpa disadari, tempat tinggal, pergaulan, hingga benda-benda kecil yang terlihat setiap hari ikut membentuk pilihan dan kebiasaan. Lingkungan tidak memerintah secara langsung, tetapi memberi isyarat yang perlahan mengarahkan perilaku.

Ketika suatu kebiasaan terasa “terjadi begitu saja”, bisa jadi lingkunganlah yang sedang mengambil peran. Berikut lima tanda bahwa lingkungan diam-diam mengendalikan perilakumu.

1. Kamu melakukan kebiasaan tertentu secara otomatis tanpa sadar

Nongkrong di depan cafe.
Ilustrasi Tanda Kamu sudah Menjadi Teman yang Tulus bagi Orang Lain. (pexels.com/ELEVATE)

Pernah langsung membuka ponsel sesaat setelah bangun tidur? Atau tiba-tiba ngemil setiap kali duduk di sofa?

Perilaku semacam ini sering kali bukan keputusan sadar, melainkan respons otomatis terhadap isyarat di sekitar. Penulis buku Atomic Habits, James Clear, menjelaskan bahwa kebiasaan terbentuk dari isyarat yang terlihat jelas di lingkungan. Ketika otak menerima rangsangan yang sama berulang kali, ia akan menghemat energi dengan menjalankan perilaku secara otomatis.

2. Perilakumu berubah tergantung tempat dan situasi

Ngobrol bersama teman.
Ilustrasi Trik Psikologi untuk Membuat Orang Nyaman Berbicara dengan Kamu. (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Seseorang bisa sangat disiplin di kantor, tetapi kehilangan kendali saat berada di rumah. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku sering kali dipengaruhi oleh konteks, bukan semata-mata karakter pribadi.

Psikolog Kurt Lewin merumuskan bahwa perilaku merupakan hasil interaksi antara individu dan lingkungannya. Artinya, mengubah perilaku sering kali lebih efektif dilakukan dengan mengubah lingkungan, bukan hanya mengandalkan tekad.

3. Kamu mengikuti kebiasaan orang sekitar tanpa banyak bertanya

Seorang wanita sedang tertawa senang.
Seorang wanita sedang tertawa senang. (pexels.com/Max Andrey)

Manusia memiliki dorongan kuat untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Ketika suatu kebiasaan dianggap wajar oleh orang-orang di sekitar, seseorang cenderung ikut melakukannya, meski sebenarnya tidak sepenuhnya sejalan dengan nilai pribadinya.

Psikolog Albert Bandura melalui teori social learning menjelaskan bahwa manusia belajar melalui observasi dan peniruan. Lingkungan sosial secara tidak langsung membentuk standar tentang apa yang dianggap pantas atau dapat diterima.

4. Keputusanmu dipengaruhi oleh apa yang mudah dijangkau

Duduk bersama teman-teman.
Ilustrasi Cara untuk Mengenali Teman Kamu yang Benar-benar Tulus. (pexels.com/Afta Putta Gunawan)

Pilihan yang paling mudah diakses sering kali menjadi pilihan utama. Makanan cepat saji, aplikasi hiburan, atau distraksi lain cenderung lebih sering dipilih karena tersedia dan mudah dijangkau.

Menurut pakar perilaku BJ Fogg, otak manusia cenderung memilih tindakan yang membutuhkan usaha paling kecil. Jika lingkungan mempermudah kebiasaan kurang sehat, maka kebiasaan itu akan terus berulang.

5. Sulit berubah meski sudah tahu apa yang harus dilakukan

Tiga orang wanita sedang melakukan selfie di taman.
Ilustrasi Cara Ekstrovert Mengelola Ekspektasi Sosial di Awal Tahun. (pexels.com/Gustavo Fring)

Banyak orang mengetahui apa yang baik bagi dirinya, tetapi tetap kesulitan melakukannya. Permasalahan ini sering kali bukan karena kurangnya pengetahuan atau niat, melainkan lingkungan yang tidak mendukung perubahan.

James Clear menekankan bahwa seseorang tidak naik ke level tujuannya, melainkan turun ke level sistem yang ia miliki. Jika sistem dan lingkungan tidak berubah, perilaku lama cenderung kembali muncul meski niat sudah diperbarui.

Lingkungan bukanlah musuh, melainkan faktor kuat yang perlu disadari. Dengan memahami bahwa perilaku banyak dibentuk oleh kondisi sekitar, seseorang bisa berhenti menyalahkan diri sendiri dan mulai menata ulang lingkungannya secara lebih sadar.

Perubahan hidup menjadi lebih mungkin terjadi ketika lingkungan bekerja untuk mendukung, bukan menghambat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sri Gunawan Wibisono
EditorSri Gunawan Wibisono
Follow Us

Latest News Kalimantan Timur

See More

Stop Menyalahkan Diri Sendiri, Bisa Jadi Lingkungan yang Membentuk Perilakumu

20 Feb 2026, 02:00 WIBNews