Stop Menyalahkan Diri Sendiri, Bisa Jadi Lingkungan yang Membentuk Perilakumu

Banyak orang meyakini bahwa perilaku sepenuhnya ditentukan oleh niat dan kemauan pribadi. Namun, psikologi perilaku menunjukkan hal yang berbeda. Lingkungan tempat seseorang hidup justru kerap memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan motivasi.
Tanpa disadari, tempat tinggal, pergaulan, hingga benda-benda kecil yang terlihat setiap hari ikut membentuk pilihan dan kebiasaan. Lingkungan tidak memerintah secara langsung, tetapi memberi isyarat yang perlahan mengarahkan perilaku.
Ketika suatu kebiasaan terasa “terjadi begitu saja”, bisa jadi lingkunganlah yang sedang mengambil peran. Berikut lima tanda bahwa lingkungan diam-diam mengendalikan perilakumu.
1. Kamu melakukan kebiasaan tertentu secara otomatis tanpa sadar

Pernah langsung membuka ponsel sesaat setelah bangun tidur? Atau tiba-tiba ngemil setiap kali duduk di sofa?
Perilaku semacam ini sering kali bukan keputusan sadar, melainkan respons otomatis terhadap isyarat di sekitar. Penulis buku Atomic Habits, James Clear, menjelaskan bahwa kebiasaan terbentuk dari isyarat yang terlihat jelas di lingkungan. Ketika otak menerima rangsangan yang sama berulang kali, ia akan menghemat energi dengan menjalankan perilaku secara otomatis.
2. Perilakumu berubah tergantung tempat dan situasi

Seseorang bisa sangat disiplin di kantor, tetapi kehilangan kendali saat berada di rumah. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku sering kali dipengaruhi oleh konteks, bukan semata-mata karakter pribadi.
Psikolog Kurt Lewin merumuskan bahwa perilaku merupakan hasil interaksi antara individu dan lingkungannya. Artinya, mengubah perilaku sering kali lebih efektif dilakukan dengan mengubah lingkungan, bukan hanya mengandalkan tekad.
3. Kamu mengikuti kebiasaan orang sekitar tanpa banyak bertanya

Manusia memiliki dorongan kuat untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Ketika suatu kebiasaan dianggap wajar oleh orang-orang di sekitar, seseorang cenderung ikut melakukannya, meski sebenarnya tidak sepenuhnya sejalan dengan nilai pribadinya.
Psikolog Albert Bandura melalui teori social learning menjelaskan bahwa manusia belajar melalui observasi dan peniruan. Lingkungan sosial secara tidak langsung membentuk standar tentang apa yang dianggap pantas atau dapat diterima.
4. Keputusanmu dipengaruhi oleh apa yang mudah dijangkau

Pilihan yang paling mudah diakses sering kali menjadi pilihan utama. Makanan cepat saji, aplikasi hiburan, atau distraksi lain cenderung lebih sering dipilih karena tersedia dan mudah dijangkau.
Menurut pakar perilaku BJ Fogg, otak manusia cenderung memilih tindakan yang membutuhkan usaha paling kecil. Jika lingkungan mempermudah kebiasaan kurang sehat, maka kebiasaan itu akan terus berulang.
5. Sulit berubah meski sudah tahu apa yang harus dilakukan

Banyak orang mengetahui apa yang baik bagi dirinya, tetapi tetap kesulitan melakukannya. Permasalahan ini sering kali bukan karena kurangnya pengetahuan atau niat, melainkan lingkungan yang tidak mendukung perubahan.
James Clear menekankan bahwa seseorang tidak naik ke level tujuannya, melainkan turun ke level sistem yang ia miliki. Jika sistem dan lingkungan tidak berubah, perilaku lama cenderung kembali muncul meski niat sudah diperbarui.
Lingkungan bukanlah musuh, melainkan faktor kuat yang perlu disadari. Dengan memahami bahwa perilaku banyak dibentuk oleh kondisi sekitar, seseorang bisa berhenti menyalahkan diri sendiri dan mulai menata ulang lingkungannya secara lebih sadar.
Perubahan hidup menjadi lebih mungkin terjadi ketika lingkungan bekerja untuk mendukung, bukan menghambat.


















