6 Tradisi Ramadan Paling Mengharukan dari Berbagai Penjuru Dunia

Ramadan selalu hadir dengan warna yang berbeda di setiap negara Muslim. Meski esensi puasanya sama—menahan diri, memperbanyak ibadah, dan berbagi—cara masyarakat merayakannya dipengaruhi oleh budaya, sejarah, serta nilai-nilai lokal yang diwariskan turun-temurun. Dari gang sempit hingga kota metropolitan, Ramadan menjadi ruang pertemuan antara iman dan tradisi.
Di balik perbedaan bahasa dan adat, terdapat benang merah yang sama: kerinduan akan kebersamaan dan kehangatan. Tradisi-tradisi ini bukan sekadar pelengkap suasana, melainkan wujud nyata bahwa Ramadan adalah perjalanan spiritual yang dijalani bersama.
Berikut enam tradisi Ramadan unik dan sarat makna di berbagai negara Muslim:
1. Mesir: lentera fanous sebagai simbol harapan

Di Mesir, Ramadan identik dengan fanous—lentera warna-warni yang menghiasi rumah, jalan, dan pertokoan. Tradisi yang telah berlangsung berabad-abad ini menjadi simbol suka cita menyambut bulan suci.
Bagi anak-anak, fanous bukan sekadar dekorasi, tetapi bagian dari kenangan masa kecil yang penuh cahaya dan kegembiraan. Secara simbolis, lentera ini melambangkan harapan dan kehangatan, seolah mengingatkan bahwa di tengah kegelapan selalu ada cahaya iman yang menuntun.
2. Turki: tabuhan genderang sahur

Di sejumlah wilayah Turki, tradisi penabuh genderang sahur masih lestari. Mereka berkeliling kampung membangunkan warga untuk makan sahur.
Meski alarm modern sudah tersedia, tradisi ini tetap dipertahankan sebagai simbol kedekatan sosial. Para penabuh genderang biasanya dikenal secara personal oleh warga sekitar. Interaksi sederhana ini menghadirkan rasa saling peduli, menjadikan sahur bukan sekadar rutinitas makan, melainkan momen kebersamaan yang hangat.
3. Indonesia: ngabuburit dan buka puasa bersama

Di Indonesia, Ramadan identik dengan ngabuburit, yakni kegiatan menunggu waktu berbuka puasa dengan berkumpul, berbincang, atau berbagi makanan.
Buka puasa bersama—baik di rumah, masjid, maupun ruang publik—menjadi momen yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat. Dalam suasana sederhana, rasa persaudaraan tumbuh kuat, menegaskan bahwa kebahagiaan kerap lahir dari kebersamaan yang tulus.
4. Maroko: nafar, penjaga waktu sahur

Di Maroko, terdapat tradisi nafar—seorang petugas yang berkeliling kota sambil meniup terompet panjang untuk membangunkan warga sahur.
Peran ini dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan kehormatan. Nafar bukan sekadar penanda waktu, melainkan simbol kepedulian sosial yang mempererat hubungan antara individu dan komunitas.
5. Pakistan dan India: iftar gratis di jalanan

Di Pakistan dan India, tradisi berbagi iftar gratis di jalanan sangat kuat. Masjid, komunitas, hingga individu membuka dapur umum untuk siapa saja tanpa memandang latar belakang sosial.
Makan bersama orang asing menumbuhkan empati dan menghapus sekat sosial. Ramadan menjadi momentum nyata solidaritas dan kepedulian antar sesama.
6. Arab Saudi: meja iftar di Masjidil Haram dan Nabawi

Suasana berbuka puasa di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi selalu menghadirkan pemandangan mengharukan. Ribuan orang dari berbagai negara duduk berdampingan, berbuka dengan hidangan sederhana yang sama.
Kebersamaan ini mencerminkan persatuan umat Islam lintas bangsa. Tidak ada perbedaan status atau kebangsaan, semua menyatu dalam rasa syukur dan kerendahan hati.
Tradisi Ramadan di berbagai negara menunjukkan bahwa puasa bukan sekadar ibadah personal, tetapi juga perayaan kolektif yang sarat makna sosial dan emosional. Keunikan setiap budaya memperkaya pengalaman Ramadan, sementara nilai kebersamaan, empati, dan harapan menjadi benang merah yang menghubungkan umat Muslim di seluruh dunia.


















