Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Warisan Kuliner Melayu, Kue Kap Fatimah Masih Berdiri Sejak 15 Tahun
Warisan kulier Melayu kue kap Fatimah. (IDN Times/istimewa).

Pontianak, IDN Times - Di tengah menjamurnya aneka kue modern, Fatimah (56 tahun) tetap setia mempertahankan usaha roti kap, salah satu kue tradisional khas Melayu Pontianak yang telah digelutinya selama 15 tahun.

Berbekal resep turun-temurun dari sang ibu, dia masih memproduksi roti kap dengan cara tradisional dan menjualnya seharga Rp1.000 per buah.

Usaha rumahan yang dijalankan Fatimah menerima pesanan untuk berbagai acara, mulai dari hajatan keluarga hingga pernikahan.

1. Kue kap legendaris isi nanas

Kue kap yang siap dipanggang. (IDN Times/istimewa).

Dalam sepekan, ia biasanya menerima dua hingga tiga pesanan melalui WhatsApp, sementara sebagian produknya juga dititipkan di dua warung di sekitar tempat tinggalnya.

“Kalau hari ini ada pesanan 60 buah. Kadang ada yang pesan 50, kadang 80 buah. Pernah juga sampai 700 buah menjelang Iduladha,” ujarnya, Sabtu (18/7/2026).

Roti kap buatannya hanya memiliki dua varian, yakni isi nanas dan tanpa isi. Selai nanas dibuat sendiri agar cita rasanya tetap terjaga.

Menurut Fatimah, keunikan roti cup terletak pada proses pembuatannya. Adonan menggunakan santan yang dimasak bersama gula, kemudian didiamkan semalaman sebelum diolah.

“Kalau langsung dibuat sebenarnya bisa, tapi hasilnya tidak sebagus ini. Rotinya tidak mengembang dengan baik,” katanya.

2. Tetap jual murah walau bahan baku naik

Proses pembuatan kue kap Melayu. (IDN Times/istimewa).

Meski harga bahan baku terus meningkat, Fatimah memilih mempertahankan harga jual Rp1.000 per buah. Ia mengaku hanya menyesuaikan ukuran roti agar tetap terjangkau bagi pelanggan.

“Saya kasihan kalau terlalu mahal. Memang bahan-bahan sudah naik, jadi ukuran rotinya yang sedikit disesuaikan,” ungkapnya.

Ia mengatakan, permintaan roti cup justru meningkat dibanding beberapa tahun lalu. Selain promosi dari mulut ke mulut, media sosial seperti WhatsApp turut membantu memperluas jangkauan pemasaran.

Bahkan, roti cup buatannya pernah dipesan secara rutin untuk dibawa hingga ke Sibu, Malaysia. Namun pelanggan tersebut terputus setelah ia sempat tidak dapat memenuhi pesanan.

3. Masih mencari penerus pembuatan kue kap

Proses pembuatan kue kap Melayu. (IDN Times/istimewa).

Kini usahanya telah memiliki merek Roti Kap Umi Fatimah, lengkap dengan Nomor Induk Berusaha (NIB) dan sertifikat halal. Meski demikian, Fatimah mengaku masih membutuhkan dukungan untuk mengembangkan usahanya, terutama bantuan oven, loyang, dan kompor gas yang mulai mengalami kerusakan.

Ia mengaku pernah mengajukan bantuan peralatan usaha hampir setahun lalu, namun hingga kini belum terealisasi. Bantuan terakhir yang diterimanya berasal dari Pemerintah Kota Pontianak sekitar lima tahun lalu.

Selain membuat roti kap, Fatimah juga menerima jasa permak pakaian untuk menambah penghasilan keluarga. Menurutnya, hasil berjualan kue saja belum cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di balik konsistensinya menjaga kuliner tradisional, Fatimah menyimpan kekhawatiran. Hingga kini belum ada anak maupun anggota keluarga yang berminat meneruskan keahlian membuat roti kap yang diwariskan ibunya.

“Anak-anak belum ada yang berminat. Mudah-mudahan nanti ada yang mau meneruskan,” katanya.

Bagi Fatimah, mempertahankan roti kap bukan sekadar menjalankan usaha, tetapi juga menjaga warisan kuliner Melayu Pontianak agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article