Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

DBD Meningkat, Ada 3.034 Kasus di Kaltim hingga Agustus 2022 

DBD Meningkat, Ada 3.034 Kasus di Kaltim hingga Agustus 2022
Ilustrasi nyamuk DBD (Gambar.net)
Share Article

Samarinda, IDN Times - Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur menyampaikan terjadinya peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah setempat. Ditemukan kasus positif DBD sebanyak 3.034 orang, terhitung hingga bulan Agustus 2022.

Kepala Dinas Kesehatan Kaltim Jaya Mualimin mengatakan, belum genap satu tahun jumlah kasus DBD di Provinsi ini telah menembus angka tiga ribu kasus. Padahal berdasarkan data Dinkes Kaltim tahun 2021, laporan temuan kasus DBD terhitung selama satu tahun berjumlah 2.898 kasus.

"Terjadinya lonjakan kasus ini perlu menjadi perhatian bersama khususnya masyarakat untuk lebih meningkatkan kewaspadaan dan perketat kebersihan lingkungan," kata Jaya Mualimin seperti dilansir dari Antara pada Sabtu (24/9/2022).

1. Tiga wilayah dengan lonjakan kasus tertinggi

Google Map
Google Map

Sementara itu, Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular pada Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim, dr Ivan Hariyadi menjelaskan, ada tiga wilayah yang mengalami lonjakan kasus DBD, yakni Kabupaten Berau, Kutai Barat dan Mahakam Ulu.

Berdasarkan data tahun 2021 di Kabupaten Berau ditemukan 78 kasus positif DBD dan dua orang di antaranya dinyatakan meninggal dunia, sedangkan laporan data tahun 2022 terhitung hingga Agustus di wilayah yang sama ditemukan 268 kasus DBD dengan korban satu orang meninggal dunia.

2. Dipengaruhi oleh aktivitas

Healthline
Healthline

Sementara itu, laporan kasus DBD di Kabupaten Kutai Barat pada tahun 2021 berjumlah 49 kasus, sedangkan tahun 2022 terhitung hingga Agustus 2022 jumlahnya mencapai 163 kasus.

Selanjutnya, di Kabupaten Mahakam Ulu pada tahun 2021 ditemukan 35 kasus DBD, dan pada tahun 2022 ini didapati 57 kasus positif DBD.

“Tren peningkatan kasus ini terjadi seiring dengan mulai tingginya mobilitas warga di masa pemulihan pasca pandemi COVID-19 saat ini. Di Kabupaten Mahakam Ulu misalnya, didapati bahwa sebagian besar pasien DBD yang terjangkit dikarenakan aktivitas bepergian yang cukup masif keluar dan dalam kota. Disamping itu, faktor kebersihan lingkungan pun jadi penentu, sebab kita tahu bahwa penyakit ini terjadi dikarenakan nyamuk Aedes Aegypti, yakni adanya jentik-jentik yang ditemukan di penyimpanan air,” jelas Ivan.

3. Terapkan 3M

Ilustrasi pasangan sedang bersih-bersih (pexels.com/Annushka Ahuja)
Ilustrasi pasangan sedang bersih-bersih (pexels.com/Annushka Ahuja)

Untuk itu, Dinkes mengimbau kepada seluruh warga untuk melakukan Gerakan 3M Plus. Di antaranya menguras atau membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum dan penampung air lemari es.

Kemudian yang kedua dengan menutup rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi dan toren air. Dan yang ketiga Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk. Serta plusnya adalah menghindari gigitan nyamuk.

4. Perhatikan kondisi sekitar

default-image.png
Default Image IDN

Selaras dengan hal tersebut, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) pun tengah gencar sosialisasikan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik, yakni menunjuk salah satu anggota keluarga atau anggota rumah untuk menjadi Jumantik yang secara konsisten dapat memeriksa kebersihan terutama dalam tampungan air dan sampah atau barang-barang yang tidak digunakan.

"Jangan sampai ada yang menjadi rumah bagi nyamuk berkembangbiak," ujarnya.

5. Segera lapor dan periksa ke puskesmas

default-image.png
Default Image IDN

Dinkes pun meminta kepada seluruh warga agar segera dapat memeriksakan dirinya di Fasilitas Kesehatan (Faskes) terdekat dan bila gejalanya semakin serius dapat dirujuk ke Rumah Sakit Daerah setempat. 

“Para Jumantik ini diharapkan dapat melaporkan pada koordinator Jumantiknya agar data dapat segera dihimpun dan secara periodik dapat dilaporkan, sehingga ketika ada temuan, pihak Dinkes setempat bersama aparat desa dapat segera melakukan penyelidikan lebih mendalam di lingkungan tersebut,” tambahnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yerin Shin
EditorYerin Shin

Latest News Kalimantan Timur

See More

Warga Rebutan Foto di Dekat Buaya Sepanjang 4,6 Meter Usai Ditangkap

22 Mei 2026, 05:45 WIBNews