Impor dari Thailand, Bulog Kalbar Pastikan Tak Ada Beras Plastik

Pontianak, IDN Times - Perum Bulog Wilayah Kalimantan Barat (Kalbar) menerima beras impor dari negara Vietnam dan Thailand sebanyak 10.500 ton. Stok beras tersebut diprakirakan akan cukup untuk 5 bulan ke depan.
Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kanwil Kalbar Dedi Aprilyadi menyebutkan, tahun 2023 ini pihaknya menguasai sebanyak 25 ribu ton beras. Sedangkan untuk penyalurannya, Bulog Kalbar mengalokasikan bantuan pangan sebanyak 3.300 ton per bulan.
“Untuk saat ini stok yang kita kuasai di Kalbar ada 14 ribu ton, akan masuk lagi dari Vietnam dan Thailand, kurang lebih 10.500 ton. Stabilisasi Pasokan Harga Pasar (SPHP) yang saat ini ditarget 18 ribu, dan sudah mencapai 14 ribu dari bulan Januari. Rencana penyaluran kita 5.000 ton per bulan,” ungkap Dedi, Rabu (25/10/2023).
1. Stok beras di Kalbar cukup sampai 5 bulan ke depan

Dedi menyebutkan, stok beras di wilayah Kalbar masih cukup sampai 5 bulan ke depan, sehingga kata dia, masyarakat Kalbar diharapkan untuk tidak khawatir dalam menyikapi hal tersebut.
“Jadi terkait dengan penerimaan impor yang sudah diterima dari Januari kurang lebih 29 ribu ton, itu beras dari Vietnam dan Thailand. Yang akan datang masuk 10 ribu ton, jadi stok kita aman di Kalbar,” terang Dedi.
Penyaluran beras Bulog Kalbar setiap bulannya mencapai kurang lebih 5 ribu ton, untuk bantuan pangan (Bapang) sebesar 3.300 ton, dan keperluan SPHP kurang lebih 2 ribu ton. Sehingga, kata Dedi, total jumlah beras yang disalurkan berjumlah 5.300 ton.
“Masih cukup amanlah untuk tahun 2023 ini, apa lagi sudah menjelang Hari Besar Keagamaan, ada Natal dan Tahun Baru nanti,” ungkap Dedi.
2. Harga beras di Kalbar relatif stabil

Dedi mengatakan harga beras di Kalbar saat ini relatif stabil yakni rata-rata masih berada di angka Rp14 ribu. Namun dengan demikian, Bulog Kalbar juga masih rutin melakukan operasi pasar di sejumlah pasar tradisional di Kalbar.
“Jadi masih cukup stabil kita gelontorkan terus SPHP, untuk menekan gejolak. Jadi kalau range inflasi Kalbar masuk di tengah-tengah ini masih relatif cukup baik,” ucapnya.
“Tapi kita juga sudah cukup intens untuk lakukan operasi pasar jadi kita sudah terjadwal dengan pemerintah daerah untuk lakukan operasi pasar, khususnya di pasar tradisional setiap minggu kita rutin laksanakan,” lanjut Dedi.
3. Pimpinan Bulog Kalbar tegaskan tak ada beras plastik

Sebelumnya sempat beredar isu soal beras plastik, menanggapi hal tersebut, Pimpinan Bulog Kalbar menegaskan bahwa tak ada beras plastik di Kalimantan Barat.
Dia mengatakan bahwa beras yang diimpor dari Vietnam dan Thailand ini sudah lolos uji pemeriksaan dan analisa, selain itu, saat masuk ke Indonesia beras tersebut juga diperiksa oleh petugas karantina.
“Beras plastik itu tidak ada, beras Vietnam dan Thailand yang sampai masuk ke Indonesia diperiksa karantina sesuai standar yang ditentukan,” tegasnya.
“Saya pikir gak ada (beras plastik) saya sudah 27 tahun kerja tidak ada beras plastik, dan saya pastikan tidak ada. Karena tadi itu, dari negara asal sudah dianalisa, diuji, dan masuk ke Indonesia pasti diperiksa oleh petugas karantina secara independen,” lanjutnya.
Sementara itu, jika dibahas soal tantangan Kalbar untuk menghasilkan beras dalam jumlah banyak, Dedi menuturkan bahwa tanah yang ada di Kalimantan cukup berbeda dengan daerah lain, sehingga sulit untuk menghasilkan beras dengan jumlah banyak.
“Mungkin karena struktur tanah di Jawa dan di sini (Kalimantan) beda, jadi tingkat produktivitasnya beda, kalau di Kalimantan tingkat keasamannya tinggi, mungkin yang bisa menjelaskan detail orang pertanian,” tukasnya.



















