Sementara itu, kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ-182 di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta membuat sejumlah penumpang yang akan melakukan perjalanan udara jadi merasa waswas. Namun, meski khawatir sebagian penumpang tetap memberanikan diri berangkat karena tiket sudah di tangan dan pemeriksaan antigen/ swab PCR juga telah dilakukan.
"Karena tiket sudah dibeli. Memang ada rencana mau batalkan tiket. Tapi jarak waktunya satu hari. Jadi gak bisa dibatalkan. Apalagi sudah swab PCR," kata salah seorang penumpang, Iqbal (34), yang tiba di Bandara Internasional Supadio pada Minggu (10/1/2021).
Warga Pontianak ini terbang dari Jakarta menuju Pontianak hanya selang satu hari setelah kecelakaan nahas yang menimpa Sriwijaya Air SJY 182. Ia mengaku cemas selama dalam penerbangan. Jika biasanya ia menikmati perjalanan dan melihat-lihat pemandangan dari atas pesawat, namun pada penerbangan kali ini ia mengaku tidak enjoy.
Iqbal, istri, dan tujuh orang anggota keluarganya baru saja berlibur ke Jakarta. Menurutnya ia lebih banyak berdoa dan berserah diri sepanjang perjalanan. "Rasanya di atas berdebar-debar memikirkan mati dan hidup," ungkapnya.
Ia menambahkan, "Tak henti kami berzikir dan berserah diri kepada Allah. Alhamdulillah, sampai dengan selamat," ucapnya.
Musibah jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJY 182 ini menjadi pelajaran yang sangat mahal untuk dunia penerbangan. Ia berharap pihak maskapai lebih waspada dan memperhatikan keselamatan. Jika penerbangan terpaksa ditunda karena cuaca buruk, akan lebih baik ditunda saja dibandingkan penumpang dan kru bertaruh nyawa dan menjadi korban kecelakaan pesawat.
"Kalau delay, lebih baik delay saja jangan diberangkatkan. Lebih baik kita menahan. Kalau cuaca bagus kita terbang. Tapi kalau cuaca buruk lebih baik kita sabar saja, demi keselamatan bersama," katanya.