Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Anak Sering Dibandingkan? Ini Dampak Psikologis yang Bisa Terjadi

Anak Sering Dibandingkan? Ini Dampak Psikologis yang Bisa Terjadi
Ilustrasi Pendidikan Anak Sesuai Minatnya (unsplash.com/Fenghua)
Share Article

Setiap orang tua tentu memiliki harapan agar anaknya tumbuh menjadi pribadi yang sukses dan berprestasi. Memiliki ekspektasi terhadap anak merupakan hal yang wajar. Namun, ekspektasi yang terlalu tinggi, terlebih jika disertai kebiasaan membandingkan anak dengan orang lain, justru dapat memberikan dampak negatif bagi perkembangan psikologis mereka.

Banyak orang tua yang tanpa sadar membandingkan anak dengan saudara, teman sebaya, atau anak lain yang dianggap lebih unggul. Padahal, setiap anak memiliki kemampuan, karakter, dan proses tumbuh kembang yang berbeda. Alih-alih memotivasi, kebiasaan ini justru dapat membuat anak merasa tidak dihargai.

Berikut beberapa dampak buruk yang dapat dialami anak ketika sering dibandingkan dengan orang lain.

1. Perasaan tertekan

Pendidikan dan masa depan anak muda yang bikin beban pikiran
Ilustrasi: Pendidikan anak muda. (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Membandingkan anak dengan orang lain dapat menimbulkan tekanan emosional, terutama ketika orang tua memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap mereka. Anak akan merasa harus memenuhi standar tertentu agar dianggap berhasil.

Tekanan tersebut dapat membatasi kebebasan anak dalam berekspresi dan mengembangkan potensi yang dimiliki. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko menghambat perkembangan kepribadian anak.

2. Meningkatkan rasa gelisahnya

stres menemani anak-anak
ilustrasi stres menemani anak-anak (pexels.com/Gustavo Fring)

Anak yang terus-menerus dibandingkan cenderung merasa cemas karena takut mengecewakan orang tua. Mereka menjadi ragu terhadap kemampuan sendiri dan selalu merasa kurang dibandingkan orang lain.

Perasaan cemas yang berkepanjangan juga dapat memengaruhi prestasi anak, baik di sekolah maupun dalam berbagai aktivitas lainnya.

3. Stres hingga depresi

ilustrasi anak mulai mengalami stres
ilustrasi anak mulai mengalami stres (pexels.com/Yan Krukau)

Tekanan yang terus menerus diterima anak dapat memicu stres. Jika tidak segera diatasi, stres yang berkepanjangan berpotensi berkembang menjadi depresi.

Kondisi ini tentu dapat berdampak pada kesehatan mental anak dalam jangka panjang, bahkan memengaruhi kualitas hidup dan hubungan sosialnya.

4. Rendah diri

Anak yang mengalami stres akademik
ilustrasi anak yang mengalami stres akademik (pexels.com/Kindel Media)

Sering dibandingkan membuat anak merasa dirinya tidak cukup baik. Mereka cenderung melihat kelebihan orang lain, tetapi sulit menghargai kemampuan yang dimiliki sendiri.

Akibatnya, anak menjadi minder, enggan mencoba hal-hal baru, dan takut gagal karena khawatir tidak mampu memenuhi harapan orang tua.

5. Insomnia

ilustrasi anak sedang tidur (unsplash.com/@michalbarhaim)
ilustrasi anak sedang tidur (unsplash.com/@michalbarhaim)

Dampak lain yang sering tidak disadari adalah terganggunya kualitas tidur. Stres dan kecemasan yang dialami anak dapat memicu gangguan tidur, seperti insomnia.

Kurang tidur tidak hanya memengaruhi kesehatan mental, tetapi juga kesehatan fisik, konsentrasi belajar, serta aktivitas sehari-hari.

Membandingkan anak dengan orang lain bukanlah cara yang tepat untuk memotivasi mereka. Sebaliknya, kebiasaan tersebut justru dapat memberikan dampak negatif terhadap perkembangan psikologis anak.

Orang tua perlu memahami bahwa setiap anak memiliki potensi, bakat, dan kecepatan belajar yang berbeda. Daripada membandingkan, berikan dukungan, apresiasi, dan dorongan atas setiap usaha yang telah mereka lakukan.

Dengan lingkungan yang penuh dukungan dan penghargaan, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri, mandiri, serta memiliki kesehatan mental yang lebih baik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sri Gunawan Wibisono
EditorSri Gunawan Wibisono

Latest News Kalimantan Timur

See More

Tak Selalu Buru, 6 Hikmah Bisa Dipetik dari Pengalaman Broken Home

27 Jun 2026, 15:10 WIBNews