Fatmawati saat mengedukasi tentang pengelolaan sampah di Banjarmasin.
Wati juga membagikan pengalamannya, bahwa menjadi dirinya sekarang tidaklah mudah, melainkan melalui berbagai proses yang menuntut kesabaran dan niat tulus untuk lingkungan.
Kesabaran menjadi penting karena tidak semua warga menerima dengan baik edukasi tentang pengelolaan sampah yang disampaikannya. Bahkan, ada yang mengejek dan meremehkan. Banyak warga yang masih belum menyadari bahwa sampah bisa diubah menjadi sumber penghasilan.
Namun, semua tantangan itu justru menjadi motivasi bagi Wati untuk terus memberikan manfaat kepada masyarakat demi kebaikan bersama.
Bersama rekan-rekannya, ia secara intensif melakukan sosialisasi, tanpa mengenal waktu, baik pagi, siang, maupun malam, bahkan tanpa mengenal hari libur.
Ketika pertama kali merintis pembukaan bank sampah, Wati menghadapi kendala karena kekurangan modal untuk membeli peralatan bank sampah dan untuk membeli sampah dari warga. Namun, akhirnya masalah itu berhasil diatasi.
"Motivasi saya adalah untuk membangun kesadaran masyarakat dan berjuang untuk lingkungan. Sampah seharusnya tidak hanya dibuang begitu saja, melainkan dipilah untuk didaur ulang. Saya yakin semua jenis sampah bisa dimanfaatkan, kecuali popok," ujarnya.