Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Tragisnya Demam Berdarah, 3 Anak Tewas di Banjarmasin

Tragisnya Demam Berdarah, 3 Anak Tewas di Banjarmasin
Waspada demam berdarah.
Share Article

Banjarmasin, IDN Times - Kasus demam berdarah (DBD) di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel), terus menjadi perhatian. Hingga periode Januari-Mei 2024, tercatat telah ada 3 kasus kematian dari total 47 kasus yang sebagian besar dialami oleh anak-anak.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, melalui Kabid Kesmas, Dr. Emma, menjelaskan bahwa upaya pencegahan terhadap kasus DBD telah dilakukan secara masif oleh pihaknya. Langkah-langkah ini meliputi penanganan di lingkungan masyarakat, sekolah, dan bahkan perkantoran.

1. Kasus DBD belum mampu dilumpuhkan

Lingkungan kumuh di Banjarmasin menjadi perhatian berkembanya sarang nyamuk.
Lingkungan kumuh di Banjarmasin menjadi perhatian berkembanya sarang nyamuk.

Sosialisasi di masyarakat tentang pencegahan DBD dan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), termasuk pembagian bubuk abate dan fogging, telah dilakukan. Namun, kenyataannya, kasus penyakit yang disebabkan oleh nyamuk aedes aegypti pembawa virus DBD terus muncul, meskipun dalam jumlah kecil.

Hingga tahun ini, Dinas Kesehatan mencatat telah ada 47 kasus DBD yang terkonfirmasi positif. Sebagian besar kasus tersebut menimpa anak-anak dengan rentang usia 5-14 tahun, dengan 3 di antaranya berujung pada kematian.

Terhadap kasus kematian akibat DBD, sebenarnya dapat dihindari jika penanganannya dilakukan dengan cepat. Orang tua perlu mengetahui gejala-gejala yang ditimbulkan, seperti demam tinggi, dan tidak menunggu hingga kondisi semakin parah sebelum membawa anak ke dokter atau rumah sakit.

Banyak korban yang dilarikan ke rumah sakit sudah dalam kondisi kritis, sehingga nyawa tidak dapat diselamatkan.

"DBD kebanyakan menyerang anak usia antara 5-14 tahun. Munculnya kasus DBD disebabkan oleh kurangnya kepedulian masyarakat dalam membersihkan tempat-tempat yang menjadi sarang nyamuk dan tidak melaksanakan 3M," jelas seorang pejabat Dinkes.

"Kami dari Dinkes telah menjalankan tugas kami mulai dari sosialisasi hingga pergerakan PSN," tambahnya.

2. Akademisi Uniska soroti rendahnya kesadaran masyarakat

Yeni Riza, Dosen Kesmas Uniska Banjarmasin
Yeni Riza, Dosen Kesmas Uniska Banjarmasin

Yeni Riza, seorang akademisi dari Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Banjarmasin yang mengajar di bidang Kesehatan Masyarakat, menyoroti fenomena kasus demam berdarah yang terus mengancam jiwa masyarakat.

Menurutnya, tidak hanya karena penyakit atau perkembangbiakan nyamuk, tetapi lebih karena kurangnya perhatian warga terhadap kesehatan lingkungan di sekitar mereka. Meskipun telah banyak program yang dilaksanakan untuk menangani dan mencegah DBD, rendahnya kesadaran masyarakat tetap menjadi tantangan serius bagi pemerintah, selain faktor-faktor ekonomi, pendidikan, dan lingkungan.

"Jika berbicara tentang lingkungan, itu menjadi faktor yang sangat berat. Bahkan orang-orang yang memiliki tingkat pendidikan tinggi pun, jika tinggal di lingkungan yang tidak sehat, risiko terkena penyakit seperti DBD tetap tinggi," ujarnya.

"Informasi tentang pencegahan DBD sudah ada sejak dulu, bahkan sejak kita masih kecil, namun kasusnya masih terjadi hingga saat ini. Hal ini disebabkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat. Kita semua tahu bahwa Indonesia memiliki musim hujan dan musim panas, dan seharusnya kondisi itu bisa diatasi. Namun sayangnya, masih banyak masyarakat yang mengabaikan hal tersebut," tambahnya.

3. Penemuan ektrak kulit limau kuit untuk bunuh jentik nyamuk

Limau kuit
Limau kuit

Sebagai seorang akademisi di bidang kesehatan masyarakat, Yeni telah banyak terpapar dengan berbagai informasi terkait kesehatan, termasuk hasil penelitian yang dilakukan oleh rekannya, Kasman.

Kasman telah menemukan metode baru untuk membunuh larva nyamuk atau jentik menggunakan kulit buah limau kuit.

Kulit buah limau kuit tersebut memiliki fungsi yang serupa dengan abate, bahan kimia yang biasa digunakan oleh masyarakat. Namun, berbeda dengan abate yang bersifat kimia, penemuan ini menggunakan bahan alami atau lavarsida alami.

"Hasil uji Kruskal Wallis menunjukkan tidak terdapat perbedaan secara signifikan (p>0,05) dalam rerata kematian jentik antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Pemberian ekstrak kulit buah limau kuit ini dapat menjadi alternatif yang ramah lingkungan sebagai larvasida alami yang dapat digunakan oleh masyarakat," demikian disampaikan oleh Yeni.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hamdani
Sri Gunawan Wibisono
Hamdani
EditorHamdani

Latest News Kalimantan Timur

See More

Tak Selalu Buru, 6 Hikmah Bisa Dipetik dari Pengalaman Broken Home

27 Jun 2026, 15:10 WIBNews