Lingkungan kumuh di Banjarmasin menjadi perhatian berkembanya sarang nyamuk.
Sosialisasi di masyarakat tentang pencegahan DBD dan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), termasuk pembagian bubuk abate dan fogging, telah dilakukan. Namun, kenyataannya, kasus penyakit yang disebabkan oleh nyamuk aedes aegypti pembawa virus DBD terus muncul, meskipun dalam jumlah kecil.
Hingga tahun ini, Dinas Kesehatan mencatat telah ada 47 kasus DBD yang terkonfirmasi positif. Sebagian besar kasus tersebut menimpa anak-anak dengan rentang usia 5-14 tahun, dengan 3 di antaranya berujung pada kematian.
Terhadap kasus kematian akibat DBD, sebenarnya dapat dihindari jika penanganannya dilakukan dengan cepat. Orang tua perlu mengetahui gejala-gejala yang ditimbulkan, seperti demam tinggi, dan tidak menunggu hingga kondisi semakin parah sebelum membawa anak ke dokter atau rumah sakit.
Banyak korban yang dilarikan ke rumah sakit sudah dalam kondisi kritis, sehingga nyawa tidak dapat diselamatkan.
"DBD kebanyakan menyerang anak usia antara 5-14 tahun. Munculnya kasus DBD disebabkan oleh kurangnya kepedulian masyarakat dalam membersihkan tempat-tempat yang menjadi sarang nyamuk dan tidak melaksanakan 3M," jelas seorang pejabat Dinkes.
"Kami dari Dinkes telah menjalankan tugas kami mulai dari sosialisasi hingga pergerakan PSN," tambahnya.