Dinamisator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim, Pradarma Rupang (kiri) saat memberikan keterangan pers beberapa waktu lalu di Samarinda (IDN Times/Yuda Almerio)
Ironisnya, dari informasi yang diterima Jatam Kaltim, dua korban tersebut masih remaja. Statusnya duduk di bangku SMP. Catatan Jatam Kaltim, lubang bekas tambang di Kaltim sudah menelan nyawa dari 2011 lalu. Dan sejak itu angkanya terus menanjak. Di Samarinda paling banyak menelan korban, yakni 21 orang. Sementara, di Kutai Kartanegara (Kukar) 13 orang. Sisanya, masing-masing satu orang dari Kutai Barat dan Penajam Paser Utara. Dari semua kejadian itu. Korban laki-laki berjumlah 26 orang. Sementara perempuan sembilan orang, dan satu lainnya tak berhasil teridentifikasi. Sebenarnya pada 22 Agustus 2019 lalu kejadian serupa terjadi Desa Beringin Agung, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara. Namun lokasi petaka digaransi oleh Dinas ESDM Kaltim bukan lubang bekas tambang. Lalu pada 21 Februari 2020 juga ada kejadian di Samarinda. Tempat kejadian berada di konsesi perusahaan tambang.
“Perlu diingat, dari 39 korban, 33-nya merupakan anak-anak dan remaja. Sisanya dewasa. Masak mau berulang terus gak ada perubahan,” tegasnya.