9 orangutan dilepasliarkan di hutan lindung Ketapang. (IDN Times/YIARI).
Kembalinya sembilan orangutan ke alam liar tidak hanya menjadi agenda konservasi, tetapi juga melibatkan kearifan lokal masyarakat sekitar.
Warga Desa Batu Lapis dan Desa Sekukun bersama para pemangku adat menyambut kedatangan orangutan melalui ritual adat yang biasa dilakukan setiap ada translokasi satwa ke kawasan tersebut.
Moses, tokoh masyarakat Desa Batu Lapis, mengatakan ritual itu memiliki makna menolak segala hal buruk atau balak yang dipercaya mungkin terbawa oleh orangutan dari wilayah asalnya.
“Ritual ini sekaligus menjadi permohonan perlindungan agar masyarakat dan lingkungan sekitar terhindar dari hal-hal buruk, termasuk penyakit yang dikhawatirkan terbawa bersama satwa,” sebutnya, Minggu (1/11/2026).
Menurut Moses, tradisi itu merupakan pesan dari para leluhur yang terus dipertahankan setiap kali orangutan dipindahkan ke Batu Nyambu.
Dukungan masyarakat menjadi bagian penting dalam keberhasilan translokasi. Sebab, perlindungan habitat tidak cukup hanya mengandalkan pengawasan pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan warga yang hidup berdampingan dengan kawasan hutan.
Direktur Operasional YIARI mengapresiasi dukungan masyarakat, pemerintah desa, dan pemangku adat dalam kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa keberhasilan konservasi tidak berhenti ketika satwa dilepaskan ke hutan.
Pemantauan terhadap sembilan orangutan akan terus dilakukan untuk mengetahui perkembangan kondisi kesehatan, kemampuan beradaptasi, dan perilaku mereka setelah kembali ke alam liar.
Menurutnya, translokasi bukan sekadar memindahkan satwa dari kawasan rusak ke hutan yang lebih aman. Habitat tujuan harus benar-benar mampu memenuhi kebutuhan hidup orangutan, sementara perlindungan kawasan harus terus berjalan setelah pelepasan.
Sementara itu, Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, mengatakan karhutla menjadi tantangan besar bagi upaya konservasi orangutan. Kerusakan habitat membuat penyelamatan satwa menjadi semakin mendesak, tetapi ketersediaan lokasi pelepasliaran yang sesuai juga harus menjadi perhatian.
“Masih cukup banyak orangutan yang perlu dikembalikan ke habitat alami, bahkan kemungkinan masih ada individu lain yang harus diselamatkan dari kawasan terdampak kebakaran,” ungkapnya.
Karena itu, upaya mempertahankan hutan yang masih baik, memulihkan kawasan yang rusak, mencegah kebakaran, serta membangun koridor satwa liar harus dilakukan secara bersama-sama.