Bukan karena Tak Sayang, Ini Alasan Anak Sulit Jujur pada Orang Tua

Banyak orang tua merasa heran, bahkan terluka, ketika mengetahui anak justru lebih terbuka kepada teman, guru, atau orang lain dibandingkan kepada dirinya sendiri. Padahal, orang tua merasa telah memberikan perhatian dan kasih sayang sepenuhnya.
Namun dalam psikologi perkembangan, kejujuran anak bukan semata soal kedekatan, melainkan tentang rasa aman secara emosional. Anak cenderung jujur kepada orang yang membuatnya merasa didengar tanpa dihakimi.
Ketika rumah belum sepenuhnya menjadi ruang aman untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan, anak secara alami akan mencari tempat lain untuk bercerita.
Berikut enam alasan psikologis mengapa anak lebih berani jujur kepada orang lain dibandingkan kepada orang tuanya:
1. Anak takut reaksi emosional orang tua

Sebagian anak menahan kejujuran karena khawatir akan dimarahi, diceramahi, atau disalahkan. Reaksi emosional yang berlebihan membuat anak belajar bahwa berkata jujur justru berisiko.
Psikolog John Gottman menjelaskan, anak cenderung menutup diri ketika emosinya ditanggapi dengan kritik atau penolakan. Sebaliknya, respons yang tenang dan empatik akan membuat anak merasa aman untuk terbuka.
2. Anak terbiasa merasa diadili, bukan didengar

Ketika setiap cerita anak langsung direspons dengan nasihat, perbandingan, atau koreksi, anak bisa merasa pengalamannya tidak sungguh-sungguh dipahami. Lama-kelamaan, ia memilih diam.
Menurut Carl Rogers, kejujuran tumbuh dalam hubungan yang menghadirkan unconditional positive regard atau penerimaan tanpa syarat. Tanpa penerimaan ini, anak akan mencari orang yang membuatnya merasa diterima apa adanya.
3. Anak belajar menyembunyikan diri demi menghindari konflik

Sebagian anak percaya bahwa kejujuran hanya akan memicu pertengkaran. Akhirnya, mereka menyaring cerita demi menjaga suasana tetap “aman”.
Psikolog Alice Miller menyebut hal ini sebagai bentuk adaptasi emosional terhadap lingkungan yang dirasa tidak aman. Anak mengorbankan keterbukaan demi mempertahankan hubungan dan stabilitas emosional.
4. Anak merasa lebih dipercaya oleh orang lain

Ironisnya, ada anak yang merasa lebih dipercaya oleh orang luar dibandingkan orang tuanya sendiri. Di rumah, ia mungkin sering diragukan, dibandingkan, atau dicurigai.
Menurut Erik Erikson, rasa percaya adalah fondasi penting dalam perkembangan psikososial anak. Ketika anak merasa dipercaya, ia akan lebih mudah bersikap jujur dan terbuka.
5. Orang lain memberi ruang bicara tanpa mengontrol

Sebagian anak merasa orang tua terlalu mengontrol cerita mereka, misalnya dengan menyela, mengarahkan, atau memaksakan sudut pandang. Sementara itu, orang lain mungkin hanya mendengarkan tanpa interupsi.
Psikiater Daniel J. Siegel menjelaskan bahwa kehadiran penuh atau presence tanpa gangguan membantu anak merasa aman secara neurologis. Dari rasa aman itulah kejujuran tumbuh.
6. Anak takut mengecewakan orang tuanya

Ada anak yang tidak jujur bukan karena nakal, melainkan karena takut kehilangan label “anak baik”. Ia khawatir kejujurannya akan membuat orang tua kecewa.
Psikolog Karen Horney menjelaskan, anak yang merasa cintanya bersyarat cenderung menyembunyikan bagian dirinya yang dianggap tidak sesuai dengan harapan orang tua.
Pada akhirnya, ketika anak lebih jujur kepada orang lain, itu bukan serta-merta tanda kegagalan orang tua. Kondisi tersebut bisa menjadi sinyal bahwa anak membutuhkan ruang yang lebih aman secara emosional di rumah.
Kejujuran tidak bisa dipaksa. Ia tumbuh dari rasa diterima, dipercaya, dan didengarkan. Ketika orang tua hadir dengan empati, bukan sekadar reaksi, rumah perlahan akan kembali menjadi tempat paling aman bagi anak untuk berkata jujur.

















