Stunting di Samarinda Menurun, Program MBG dan Genting Jadi Andalan

Samarinda, IDN Times - Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda, Kalimantan Timur, terus memperkuat upaya pencegahan stunting melalui optimalisasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (Kelompok 3B). Program ini dipadukan dengan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting).
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Samarinda, Deasy Evriyani, mengatakan berbagai strategi lintas sektor telah dilakukan untuk menekan angka stunting, salah satunya melalui penguatan manfaat MBG 3B.
“Banyak pola dan kolaborasi yang kami lakukan untuk mencegah stunting, termasuk mengoptimalkan program MBG bagi kelompok rentan,” ujarnya diberitakan Antara di Samarinda, Senin (13/4/2026).
1. Pemberian bantuan kepada keluarga stunting

Ia menjelaskan, intervensi dilakukan dengan menyasar keluarga berisiko stunting melalui pemberian bantuan yang disesuaikan kebutuhan, baik berupa asupan nutrisi maupun dukungan non-nutrisi.
Upaya tersebut menunjukkan hasil positif. Prevalensi stunting di Samarinda terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir, dari 25,3 persen pada 2022 menjadi 24,4 persen pada 2023, kemudian turun lagi menjadi 20,3 persen pada 2024, hingga mencapai 17,13 persen pada 2025.
Untuk mempertahankan tren penurunan tersebut, Pemkot Samarinda mengintegrasikan Program MBG 3B dengan Program Genting.
2. Sasaran utama program

Adapun sasaran program ini meliputi tiga kelompok utama. Pertama, ibu hamil yang mendapatkan bantuan makanan sejak masa kehamilan hingga menyusui, serta untuk anak hingga usia dua tahun. Kedua, ibu menyusui yang menerima bantuan selama masa menyusui dan dilanjutkan untuk anak hingga usia dua tahun. Ketiga, balita usia 6–23 bulan yang diberikan asupan makanan sesuai kebutuhan hingga usia dua tahun.
Dalam pelaksanaannya, Pemkot Samarinda menggandeng berbagai pihak, mulai dari kader posyandu, psikolog anak, dokter spesialis anak, influencer parenting, hingga lembaga swadaya masyarakat (LSM).
3. Pemberian makanan siap santap

Program ini juga menekankan pemberian makanan siap santap atau kudapan kaya protein hewani dengan nilai minimal Rp15 ribu per hari per orang selama 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), sesuai rekomendasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Deasy menambahkan, durasi pemberian bantuan bersifat fleksibel, menyesuaikan kondisi masing-masing penerima manfaat.
“Bantuan nutrisi diberikan untuk periode 1.000 HPK maupun dalam jangka waktu tiga bulan, tergantung kebutuhan,” jelasnya.


















